Belajar ke Tawangmangu, Warga Mojokerto Siap Olah Toga Jadi Produk Unggulan
Kamis, 03 Juli 2025 - 18:02 WIB
loading...
Peserta pembelajaran lapang Desa Tanjungan saat mendengarkan penjelasan tour guide di Kebun Etalase Tanaman Obat. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
MOJOKERTO - Masyarakat Desa Tanjungan, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto kembali mendapat dukungan untuk mengembangkan potensi Tanaman Obat Keluarga ( Toga ). Dukungan diberikan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjend Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB).
Program ini didampingi tim dosen Universitas Surabaya dan UPN Veteran Jawa Timur . Sebelumnya pada 2024, Desa Tanjungan telah sukses membangun Etalase Toga di kawasan Ekowisata Waduk Tanjungan sebagai sarana edukasi dan wisata herbal. Baca juga: Ubaya dan UPN Veteran Jatim Gagas Program Etalase Tanaman Obat Keluarga di Mojokerto
Tahun 2025, fokus program bergeser pada tata kelola hasil panen Toga agar dapat diolah menjadi produk unggulan desa yang bernilai ekonomi tinggi. Sebagai langkah awal, Rabu (2/7/2025), kelompok PKK, BUMDes Tanjung Asri, dan perangkat desa melakukan pembelajaran lapang ke Hortus Medicus Tawangmangu, UPF Yankestrad RSUP Dr. Sardjito, Karanganyar, Jawa Tengah.
“Kegiatan ini bertujuan untuk membantu mitra memperoleh pengetahuan dan keterampilan praktis dalam mengelola hasil panen tanaman obat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat,” kata ketua tim pelaksana PDB Ubaya, apt. Kartini, Ph.D
Kunjungan diawali di Klinik Pratama Hortus Medicus. Peserta belajar tentang pelayanan kesehatan yang memanfaatkan obat tradisional. Mereka juga diajak memahami pentingnya standar keamanan dan kualitas dalam penggunaan tanaman obat di fasilitas kesehatan.
Selanjutnya, rombongan mengunjungi Kebun Etalase Tanaman Obat. Di kebun ini, peserta dapat melihat langsung koleksi ratusan tanaman obat yang ditata dengan apik dan informatif. Tour guide kebun menjelaskan manfaat, cara pengolahan, dan penggunaan tanaman-tanaman tersebut sebagai bahan jamu, teh herbal, maupun aromaterapi.
Destinasi ketiga menjadi yang paling ditunggu, yakni Unit Pasca Panen. Di sini peserta melihat secara langsung proses pengolahan tanaman obat mulai dari sortasi basah, pencucian, penirisan, pengubahan bentuk (misalnya rajangan atau simplisia utuh), pengeringan, sortasi kering, pengemasan dan pelabelan, hingga penyimpanan yang memenuhi standar mutu.
Peserta antusias mendokumentasikan setiap proses dan menanyakan peralatan yang diperlukan untuk dapat diterapkan di Desa Tanjungan. Kunjungan dilanjutkan ke gift shop Hortus Medicus, tempat dipajang berbagai produk inovasi berbahan tanaman obat.
Mulai dari es krim herbal, minuman kesehatan, jamu instan, hingga produk aromaterapi seperti sabun dan minyak angin herbal. Peserta menyadari bahwa tanaman obat tidak hanya diolah menjadi jamu, tetapi juga dapat dikreasikan menjadi produk modern yang lebih diminati konsumen. Baca juga: 6 Tanaman Obat yang Bisa Ditanam di Pot dan Manfaatnya
Sebagai penutup, rombongan menikmati makan siang bersama di salah satu rumah makan di kawasan Karanganyar. Sambil menikmati menu khas Jawa, peserta disuguhi pemandangan hamparan sawah dengan latar megah Gunung Lawu, menambah semangat untuk mengembangkan Toga di desanya.
“Semoga setelah kegiatan ini, Desa Tanjungan bisa menghasilkan produk tanaman obat yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi tinggi, serta menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya,” harap Kepala Desa Tanjungan Suparlik.
Program ini didampingi tim dosen Universitas Surabaya dan UPN Veteran Jawa Timur . Sebelumnya pada 2024, Desa Tanjungan telah sukses membangun Etalase Toga di kawasan Ekowisata Waduk Tanjungan sebagai sarana edukasi dan wisata herbal. Baca juga: Ubaya dan UPN Veteran Jatim Gagas Program Etalase Tanaman Obat Keluarga di Mojokerto
Tahun 2025, fokus program bergeser pada tata kelola hasil panen Toga agar dapat diolah menjadi produk unggulan desa yang bernilai ekonomi tinggi. Sebagai langkah awal, Rabu (2/7/2025), kelompok PKK, BUMDes Tanjung Asri, dan perangkat desa melakukan pembelajaran lapang ke Hortus Medicus Tawangmangu, UPF Yankestrad RSUP Dr. Sardjito, Karanganyar, Jawa Tengah.
“Kegiatan ini bertujuan untuk membantu mitra memperoleh pengetahuan dan keterampilan praktis dalam mengelola hasil panen tanaman obat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat,” kata ketua tim pelaksana PDB Ubaya, apt. Kartini, Ph.D
Kunjungan diawali di Klinik Pratama Hortus Medicus. Peserta belajar tentang pelayanan kesehatan yang memanfaatkan obat tradisional. Mereka juga diajak memahami pentingnya standar keamanan dan kualitas dalam penggunaan tanaman obat di fasilitas kesehatan.
Selanjutnya, rombongan mengunjungi Kebun Etalase Tanaman Obat. Di kebun ini, peserta dapat melihat langsung koleksi ratusan tanaman obat yang ditata dengan apik dan informatif. Tour guide kebun menjelaskan manfaat, cara pengolahan, dan penggunaan tanaman-tanaman tersebut sebagai bahan jamu, teh herbal, maupun aromaterapi.
Destinasi ketiga menjadi yang paling ditunggu, yakni Unit Pasca Panen. Di sini peserta melihat secara langsung proses pengolahan tanaman obat mulai dari sortasi basah, pencucian, penirisan, pengubahan bentuk (misalnya rajangan atau simplisia utuh), pengeringan, sortasi kering, pengemasan dan pelabelan, hingga penyimpanan yang memenuhi standar mutu.
Peserta antusias mendokumentasikan setiap proses dan menanyakan peralatan yang diperlukan untuk dapat diterapkan di Desa Tanjungan. Kunjungan dilanjutkan ke gift shop Hortus Medicus, tempat dipajang berbagai produk inovasi berbahan tanaman obat.
Mulai dari es krim herbal, minuman kesehatan, jamu instan, hingga produk aromaterapi seperti sabun dan minyak angin herbal. Peserta menyadari bahwa tanaman obat tidak hanya diolah menjadi jamu, tetapi juga dapat dikreasikan menjadi produk modern yang lebih diminati konsumen. Baca juga: 6 Tanaman Obat yang Bisa Ditanam di Pot dan Manfaatnya
Sebagai penutup, rombongan menikmati makan siang bersama di salah satu rumah makan di kawasan Karanganyar. Sambil menikmati menu khas Jawa, peserta disuguhi pemandangan hamparan sawah dengan latar megah Gunung Lawu, menambah semangat untuk mengembangkan Toga di desanya.
“Semoga setelah kegiatan ini, Desa Tanjungan bisa menghasilkan produk tanaman obat yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi tinggi, serta menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya,” harap Kepala Desa Tanjungan Suparlik.
(poe)
Lihat Juga :