Gajah Mada dan Pasukan Elite Bhayangkara, Selamatkan Raja Majapahit dari Pemberontakan
Selasa, 01 Juli 2025 - 07:05 WIB
loading...
Nama Bhayangkara erat dikaitkan dengan kepolisian di Indonesia yang diilhami pasukan elite Kerajaan Majapahit. Foto/SindoNews
A
A
A
SEMARANG - Nama Bhayangkara erat dikaitkan dengan kepolisian di Indonesia yang diilhami pasukan elite Kerajaan Majapahit. Pasukan Bhayangkara itu dibentuk oleh Jayanagara, raja kedua Majapahit untuk mengamankan dirinya saat menjabat raja di tengah pusaran konflik internal di Istana Majapahit.
Di masa Jayanagara muncul pemberontakan karena ketidakpuasan pejabat kerajaan terhadap kepemimpinannya. Karakter Jayanagara memang memunculkan konflik internal yang sewaktu-waktu bisa pecah. Maka pemberontakan pertama di masa Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara, gelar Jayanagara sebagai raja dilakukan oleh Ra Kuti
Sosok Ra Kuti tak lain adalah pejabat yang sudah ada sejak era Raden Wijaya. Jayanagara terpaksa diungsikan di suatu malam karena adanya pemberontakan. Tak ada seorang pun yang tahu kalau Jayanagara telah keluar ibukota kerajaan menuju Badander.
Baca juga: Asal Usul Kata Bhayangkara Zaman Kerajaan Majapahit yang Artinya Kami Berbahaya
Dikutip dari buku "Gajah Mada Sistem Politik dan Kepemimpinan" oleh SindoNews, Selasa (1/7/2025) diceritakan kepergian Jayanagara diiringi dengan kawalan pasukan elite Bhayangkara di bawah komando Gajah Mada. Total ada 15 pasukan Bhayangkara, yang memiliki kewajiban menjaga keselamatan sang raja malam itu.
Dari sinilah awal mula nama Gajah Mada muncul dalam peristiwa pemberontakan Ra Kuti dan berperan sebagai kepala pasukan Bhayangkara yang sedang bertugas pada malam itu. Saat itu penduduk Majapahit semuanya tidur dengan nyenyak, Gajah Mada memimpin pasukan Bhayangkara menjaga raja dalam pelarian hingga Desa Badander.
Baca juga: Daftar Lengkap 79 Perwira Ditunjuk Jadi Kapolres pada Mutasi Juni 2025
Dikisahkan dari Serat Pararaton, "Sah ring wengi tan ananing wruh, anghing wong Bhayangkara angiring, sakehe kang katuju akemit duk abhatara lungha, hana wong lima welas. Sira Gajah Mada ambekel ing Bhayangkara samangka, katuju kemitane, sangkane angiring bhatara duk nimba"
Di mana artinya, Ia pergi pada waktu malam, tak ada orang yang tahu, hanya orang-orang Bhayangkara mengawalnya, semua yang kebetulan mendapat giliran menjaga pada waktu raja pergi itu, banyaknya 15 orang, pada waktu itu Gajah Mada menjadi Kepala Bhayangkara dan kebetulan juga sedang menerima giliran menjaga, itulah sebabnya ia mengawal raja pada waktu pergi dengan menyamar itu.
Sejarawan Agus Aris Munandar menyebut, perihal jumlah pasukan Bhayangkara yang menjadi pengawal raja pada malam saat raja menuju ke Badander yang hanya berjumlah 15 orang itu. Jika ditambahkan dengan Gajah, maka jumlahnya menjadi 16 orang.
Jumlah itu merupakan kelipatan dua dari delapan. Pada ajaran Hindu diperoleh konsep Astadikpalaka atau Asta-Lokapala atau delapan dewa penjaga mata angin. Jumlah pasukan Bhayangkara yang mengawal Jayanagara sebenarnya disesuaikan dengan jumlah Astadikpalaka dan Raja Jayanagara berada di tengahnya, sebagai tokoh yang harus diabadikan, adalah ikon dari Mahameru dan dewata tertinggi yang tinggal di puncaknya.
Dari kitab Pararaton, diperoleh keterangan Raja Jayanagara dan pengiringnya cukup lama tinggal di tempat pengungsian di rumah ketua Desa Badander. Selain prajurit Bhayangkara, saat mengungsi diiringi oleh kaum pengalasan atau para pelayan raja.
Demi menjaga keamanan Jayanagara, Gajah Mada melarang seorang pengalasan yang akan meminta kembali ke Majapahit. Alasannya cukup jelas dicatat dalam kitab Pararaton bahwa Gajah Mada khawatir pengalasan membocorkan rahasia keberadaan raja ke pihak Ra Kuti.
Di masa Jayanagara muncul pemberontakan karena ketidakpuasan pejabat kerajaan terhadap kepemimpinannya. Karakter Jayanagara memang memunculkan konflik internal yang sewaktu-waktu bisa pecah. Maka pemberontakan pertama di masa Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara, gelar Jayanagara sebagai raja dilakukan oleh Ra Kuti
Sosok Ra Kuti tak lain adalah pejabat yang sudah ada sejak era Raden Wijaya. Jayanagara terpaksa diungsikan di suatu malam karena adanya pemberontakan. Tak ada seorang pun yang tahu kalau Jayanagara telah keluar ibukota kerajaan menuju Badander.
Baca juga: Asal Usul Kata Bhayangkara Zaman Kerajaan Majapahit yang Artinya Kami Berbahaya
Dikutip dari buku "Gajah Mada Sistem Politik dan Kepemimpinan" oleh SindoNews, Selasa (1/7/2025) diceritakan kepergian Jayanagara diiringi dengan kawalan pasukan elite Bhayangkara di bawah komando Gajah Mada. Total ada 15 pasukan Bhayangkara, yang memiliki kewajiban menjaga keselamatan sang raja malam itu.
Dari sinilah awal mula nama Gajah Mada muncul dalam peristiwa pemberontakan Ra Kuti dan berperan sebagai kepala pasukan Bhayangkara yang sedang bertugas pada malam itu. Saat itu penduduk Majapahit semuanya tidur dengan nyenyak, Gajah Mada memimpin pasukan Bhayangkara menjaga raja dalam pelarian hingga Desa Badander.
Baca juga: Daftar Lengkap 79 Perwira Ditunjuk Jadi Kapolres pada Mutasi Juni 2025
Dikisahkan dari Serat Pararaton, "Sah ring wengi tan ananing wruh, anghing wong Bhayangkara angiring, sakehe kang katuju akemit duk abhatara lungha, hana wong lima welas. Sira Gajah Mada ambekel ing Bhayangkara samangka, katuju kemitane, sangkane angiring bhatara duk nimba"
Di mana artinya, Ia pergi pada waktu malam, tak ada orang yang tahu, hanya orang-orang Bhayangkara mengawalnya, semua yang kebetulan mendapat giliran menjaga pada waktu raja pergi itu, banyaknya 15 orang, pada waktu itu Gajah Mada menjadi Kepala Bhayangkara dan kebetulan juga sedang menerima giliran menjaga, itulah sebabnya ia mengawal raja pada waktu pergi dengan menyamar itu.
Sejarawan Agus Aris Munandar menyebut, perihal jumlah pasukan Bhayangkara yang menjadi pengawal raja pada malam saat raja menuju ke Badander yang hanya berjumlah 15 orang itu. Jika ditambahkan dengan Gajah, maka jumlahnya menjadi 16 orang.
Jumlah itu merupakan kelipatan dua dari delapan. Pada ajaran Hindu diperoleh konsep Astadikpalaka atau Asta-Lokapala atau delapan dewa penjaga mata angin. Jumlah pasukan Bhayangkara yang mengawal Jayanagara sebenarnya disesuaikan dengan jumlah Astadikpalaka dan Raja Jayanagara berada di tengahnya, sebagai tokoh yang harus diabadikan, adalah ikon dari Mahameru dan dewata tertinggi yang tinggal di puncaknya.
Dari kitab Pararaton, diperoleh keterangan Raja Jayanagara dan pengiringnya cukup lama tinggal di tempat pengungsian di rumah ketua Desa Badander. Selain prajurit Bhayangkara, saat mengungsi diiringi oleh kaum pengalasan atau para pelayan raja.
Demi menjaga keamanan Jayanagara, Gajah Mada melarang seorang pengalasan yang akan meminta kembali ke Majapahit. Alasannya cukup jelas dicatat dalam kitab Pararaton bahwa Gajah Mada khawatir pengalasan membocorkan rahasia keberadaan raja ke pihak Ra Kuti.
(cip)
Lihat Juga :