Program Jaksa Garda Desa, Jamintel Berharap Banten Jadi Pilot Project Ketahanan Pangan
Rabu, 25 Juni 2025 - 18:11 WIB
loading...
Peluncuran program Jaksa Garda Desa di Desa Sarakan, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Rabu (25/6/2025). Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
TANGERANG - Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung Reda Manthovani meluncurkan program Jaksa Garda Desa. Program ini awalnya bertujuan mengawal dan mengawasi penggunaan dana desa tapi kini dikembangkan mendukung program ketahanan pangan .
Peluncuran program ini diditandai dengan penandatangan MoU antara Bupati Tangerang, Plt Bupati Serang, Bupati Pandeglang, Bupati Lebak, Rektor Telkom University Suyanto, Dirut PT Pupuk Indonesia, Dirut PASKOMNAS Hartono di Desa Sarakan, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Rabu (25/6/2025). Penandatanganan kerja sama ini disaksikan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Jamintel Kejagung Reda Manthovani, Wakil Kajati Banten Yuliana Sagala dan Gubernur Banten Andra Soni. Baca juga: Prabowo: Kalau Pangan Aman, Nggak Usah Takut Saham Naik Turun
Jamintel Reda Manthovani mengatakan, wilayah Tangerang dipilih sebagai pilot project program ketahanan pangan ini karena dia mempunyai ikatan emosional dengan Banten, baik sebagai kajari Cilegon maupun sebagai kajati Banten. Selain itu, alasan menjadikan Banten sebagai percontohan karena dia mendapat keluhan dari pimpinan Pasar Induk Tanah Tinggi, Kota Tangerang yang menginformasikan masih minimnya pasokan sayur dari Banten di Pasar Induk Tanah Tinggi.
“Kabarnya sebagian besar pasokan sayur ke Pasar Induk Tanah Tinggi berasal dari luar Banten dan Provinsi Banten sendiri hanya menyuplai 5% saja. Maka lewat peluncuran program ketahanan pangan ini, kami berharap Provinsi Banten bisa menambah pasokannya minimal menjadi 20%," katanya.
Mantan kajati Banten ini menuturkan program ini tak hanya akan berhenti di Banten, namun targetnya program ketahanan pangan ini akan berlanjut ke provinsi-provinsi lain seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur serta provinsi lainnya. "Targetnya beberapa tahun ke depan semua daerah di Indonesia akan memiliki pola tanam yang sama dengan yang dilakukan di Kabupaten Tangerang ini, sehingga program ini dapat membantu perekonomian para petani,” ujarnya.
Menteri Yandri Susanto mendukung penuh program ketahanan pangan yang digagas Reda tersebut. Dia menyampaikan bahwa teknologi digital dan pendampingan hukum dari kejaksaan adalah kombinasi penting dalam menciptakan desa-desa yang mandiri, produktif, dan tidak tertinggal secara ekonomi maupun informasi.
“Melalui Jaksa Garda Desa, kami ingin desa tidak hanya jadi penonton, tapi pelaku utama pembangunan ekonomi nasional dari tingkat bawah,” katanya.
Gubernur Banten Andra Soni mengaku sangat bangga dan antusias dengan program ketahanan pangan yang dicetuskan Jamintel. Saat ini saja produksi beras Banten sudah mengalami surplus hingga 200.000 ton lebih. Namun sayangnya selama ini Banten hanya bisa mensuport sayuran untuk kebutuhan masyarakat Banten sebanyak 10% saja dari kebutuhan. ”Maka saya berharap dengan terwujudnya program ketahanan pangan ini maka pasti Provinsi Banten bisa meningkatkan produksinya lagi," ujarnya. Baca juga: 1 Peleton TNI Disiapkan untuk Jaga Kejati, Kejari Dijaga 1 Regu
Direktur Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) Indonesia, Hartono Wignyopranoto mengatakan, program ketahanan pangan ini sengaja dibuat sebagai upaya meningkatkan penghasilan para petani dengan melibatkan pemerintah daerah, kejaksaan dan stakeholder lainnya. ”Berdasarkan pengalaman kami menangani Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang, setiap hari ada dari 3000 ton sayuran diperdagangankan dan kebanyakan berasal dari luar Banten. Sementara harganya juga sangat berfluktuasi tergantung pada naik-turunnya jumlah pasokan,” jelasnya.
Peluncuran program ini diditandai dengan penandatangan MoU antara Bupati Tangerang, Plt Bupati Serang, Bupati Pandeglang, Bupati Lebak, Rektor Telkom University Suyanto, Dirut PT Pupuk Indonesia, Dirut PASKOMNAS Hartono di Desa Sarakan, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Rabu (25/6/2025). Penandatanganan kerja sama ini disaksikan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Jamintel Kejagung Reda Manthovani, Wakil Kajati Banten Yuliana Sagala dan Gubernur Banten Andra Soni. Baca juga: Prabowo: Kalau Pangan Aman, Nggak Usah Takut Saham Naik Turun
Jamintel Reda Manthovani mengatakan, wilayah Tangerang dipilih sebagai pilot project program ketahanan pangan ini karena dia mempunyai ikatan emosional dengan Banten, baik sebagai kajari Cilegon maupun sebagai kajati Banten. Selain itu, alasan menjadikan Banten sebagai percontohan karena dia mendapat keluhan dari pimpinan Pasar Induk Tanah Tinggi, Kota Tangerang yang menginformasikan masih minimnya pasokan sayur dari Banten di Pasar Induk Tanah Tinggi.
“Kabarnya sebagian besar pasokan sayur ke Pasar Induk Tanah Tinggi berasal dari luar Banten dan Provinsi Banten sendiri hanya menyuplai 5% saja. Maka lewat peluncuran program ketahanan pangan ini, kami berharap Provinsi Banten bisa menambah pasokannya minimal menjadi 20%," katanya.
Mantan kajati Banten ini menuturkan program ini tak hanya akan berhenti di Banten, namun targetnya program ketahanan pangan ini akan berlanjut ke provinsi-provinsi lain seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur serta provinsi lainnya. "Targetnya beberapa tahun ke depan semua daerah di Indonesia akan memiliki pola tanam yang sama dengan yang dilakukan di Kabupaten Tangerang ini, sehingga program ini dapat membantu perekonomian para petani,” ujarnya.
Menteri Yandri Susanto mendukung penuh program ketahanan pangan yang digagas Reda tersebut. Dia menyampaikan bahwa teknologi digital dan pendampingan hukum dari kejaksaan adalah kombinasi penting dalam menciptakan desa-desa yang mandiri, produktif, dan tidak tertinggal secara ekonomi maupun informasi.
“Melalui Jaksa Garda Desa, kami ingin desa tidak hanya jadi penonton, tapi pelaku utama pembangunan ekonomi nasional dari tingkat bawah,” katanya.
Gubernur Banten Andra Soni mengaku sangat bangga dan antusias dengan program ketahanan pangan yang dicetuskan Jamintel. Saat ini saja produksi beras Banten sudah mengalami surplus hingga 200.000 ton lebih. Namun sayangnya selama ini Banten hanya bisa mensuport sayuran untuk kebutuhan masyarakat Banten sebanyak 10% saja dari kebutuhan. ”Maka saya berharap dengan terwujudnya program ketahanan pangan ini maka pasti Provinsi Banten bisa meningkatkan produksinya lagi," ujarnya. Baca juga: 1 Peleton TNI Disiapkan untuk Jaga Kejati, Kejari Dijaga 1 Regu
Direktur Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) Indonesia, Hartono Wignyopranoto mengatakan, program ketahanan pangan ini sengaja dibuat sebagai upaya meningkatkan penghasilan para petani dengan melibatkan pemerintah daerah, kejaksaan dan stakeholder lainnya. ”Berdasarkan pengalaman kami menangani Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang, setiap hari ada dari 3000 ton sayuran diperdagangankan dan kebanyakan berasal dari luar Banten. Sementara harganya juga sangat berfluktuasi tergantung pada naik-turunnya jumlah pasokan,” jelasnya.
(poe)
Lihat Juga :