Dukung Swasembada Pangan, Indonesia Re Kembangkan Kampuang Bumbu Randang di Sumbar
Jum'at, 20 Juni 2025 - 16:33 WIB
loading...
Indonesia Re kembangkan Kampuang Bumbu Randang dan Pemberdayaan Petani Sumatera Barat (Sumbar). Foto/istimewa
A
A
A
PADANG - Indonesia Re kembangkan Kampuang Bumbu Randang dan Pemberdayaan Petani Sumatera Barat (Sumbar). Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk mewujudkan swasembada pangan.
Direktur Manajemen Risiko, Kepatuhan, SDM dan Corporate Secretary Indonesia Re, Robbi Yanuar Walid mengatakan, komitmennya dalam mendukung pilar ekonomi dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) No. 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi melalui perluasan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di Sumatera Barat.
Kegiatan ini bertujuan memberikan pendampingan dan bantuan nyata kepada petani di Nagari Aie Angek. Acara yang berlangsung selama dua hari tersebut dihadiri oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy; Wakil Bupati Tanah Datar, Ahmad Fadly; Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sumatera Barat, Syukriah HG; serta Ketua Himpunan Petani Randang Minangkabau (HIPERMI), Fibrianti Takarina.
Baca juga: Kapolri Dampingi Presiden Prabowo Panen Raya Jagung, Siap Wujudkan Kedaulatan Pangan Nasional
Program TJSL Indonesia Re ini merupakan kelanjutan dari inisiatif yang dimulai sejak 2024, dengan fokus utama memperkuat kelembagaan dan kapasitas sumber daya manusia petani randang melalui pembinaan kelompok tani secara berkelanjutan.
“Salah satu hasil nyata dari program ini adalah terbentuknya Kampuang Bumbu Randang Indonesia Re di Aie Angek, sebuah pusat pertanian berbasis komunitas yang menjadi simbol sinergi antara BUMN dan masyarakat local,” katanya, JUmat (20/6/2025).
Baca juga: Pilar Swasembada Pangan, Kementan Cetak Ratusan Ribu Petani Muda
Kegiatan pada 17 Juni menitikberatkan pada pemberdayaan ekonomi petani, sementara pada 18 Juni digelar edukasi dan literasi asuransi untuk petani dan UMKM. Program edukasi ini merupakan bagian dari kolaborasi antar-BUMN melalui Indonesia Re Mengajar 2025, dengan narasumber dari BNI, Pegadaian, Asabri, Taspen Life, dan Asuransi ASEI.
Dalam program ini, Indonesia Re bekerja sama dengan BUMN lain, DJPb Kemenkeu Satu, dan Hipermi yang memberikan edukasi tentang manfaat perlindungan usaha, pengelolaan risiko UMKM, persyaratan menjadi eksportir, proses perdagangan internasional, serta klasifikasi barang dan kemasan ekspor.
“Materi ini bertujuan membekali petani dan pelaku UMKM agar siap menghadapi tantangan bisnis dan memperluas pasar, khususnya ekspor produk lokal,” ujarnya.
Dia menyatakan, program ini merupakan bukti nyata komitmen BUMN dalam memanfaatkan dana TJSL secara tepat sasaran. Kami ingin memastikan kehadiran Indonesia Re memberikan dampak langsung kepada masyarakat, tidak hanya memberdayakan petani tetapi juga mendorong pertumbuhan UMKM lokal yang berpotensi menembus pasar ekspor.”
Selama program, Indonesia Re memberikan pelatihan kepada petani dengan materi seperti pembuatan pestisida organik, pupuk berbahan limbah rumah tangga, serta peningkatan produktivitas dan kualitas cabai dan bawang merah.
Bantuan juga diberikan dalam bentuk traktor untuk penggemburan tanah dan pembangunan serta manajemen rumah produksi.
Semua program ini diselaraskan dengan indikator kinerja utama (KPI) dan metode pengukuran dampak Social Return on Investment (SROI), yang hasil evaluasinya dijadwalkan pada akhir 2025.
Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy mengapresiasi atas inisiatif ini. Vasko berharap setiap nagari di Sumatera Barat dapat menjadi pusat ekonomi berbasis keunggulan lokal. “Saya ingin tiap nagari memiliki karakter dan keunikan tersendiri yang hasil komoditinya dapat dijual ke pasar lebih luas,” ujarnya.
Menurut Vasko, kolaborasi antara pemerintah daerah, BUMN, dan komunitas petani adalah langkah nyata dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing. Dengan semangat kolaborasi yang kuat bersama DJPb, HIPERMI, dan Pemerintah Daerah Sumatera Barat, Indonesia Re berkomitmen melanjutkan upaya pengembangan petani lokal menuju swasembada pangan yang inklusif dan berkelanjutan.
Direktur Manajemen Risiko, Kepatuhan, SDM dan Corporate Secretary Indonesia Re, Robbi Yanuar Walid mengatakan, komitmennya dalam mendukung pilar ekonomi dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) No. 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi melalui perluasan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di Sumatera Barat.
Kegiatan ini bertujuan memberikan pendampingan dan bantuan nyata kepada petani di Nagari Aie Angek. Acara yang berlangsung selama dua hari tersebut dihadiri oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy; Wakil Bupati Tanah Datar, Ahmad Fadly; Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sumatera Barat, Syukriah HG; serta Ketua Himpunan Petani Randang Minangkabau (HIPERMI), Fibrianti Takarina.
Baca juga: Kapolri Dampingi Presiden Prabowo Panen Raya Jagung, Siap Wujudkan Kedaulatan Pangan Nasional
Program TJSL Indonesia Re ini merupakan kelanjutan dari inisiatif yang dimulai sejak 2024, dengan fokus utama memperkuat kelembagaan dan kapasitas sumber daya manusia petani randang melalui pembinaan kelompok tani secara berkelanjutan.
“Salah satu hasil nyata dari program ini adalah terbentuknya Kampuang Bumbu Randang Indonesia Re di Aie Angek, sebuah pusat pertanian berbasis komunitas yang menjadi simbol sinergi antara BUMN dan masyarakat local,” katanya, JUmat (20/6/2025).
Baca juga: Pilar Swasembada Pangan, Kementan Cetak Ratusan Ribu Petani Muda
Kegiatan pada 17 Juni menitikberatkan pada pemberdayaan ekonomi petani, sementara pada 18 Juni digelar edukasi dan literasi asuransi untuk petani dan UMKM. Program edukasi ini merupakan bagian dari kolaborasi antar-BUMN melalui Indonesia Re Mengajar 2025, dengan narasumber dari BNI, Pegadaian, Asabri, Taspen Life, dan Asuransi ASEI.
Dalam program ini, Indonesia Re bekerja sama dengan BUMN lain, DJPb Kemenkeu Satu, dan Hipermi yang memberikan edukasi tentang manfaat perlindungan usaha, pengelolaan risiko UMKM, persyaratan menjadi eksportir, proses perdagangan internasional, serta klasifikasi barang dan kemasan ekspor.
“Materi ini bertujuan membekali petani dan pelaku UMKM agar siap menghadapi tantangan bisnis dan memperluas pasar, khususnya ekspor produk lokal,” ujarnya.
Dia menyatakan, program ini merupakan bukti nyata komitmen BUMN dalam memanfaatkan dana TJSL secara tepat sasaran. Kami ingin memastikan kehadiran Indonesia Re memberikan dampak langsung kepada masyarakat, tidak hanya memberdayakan petani tetapi juga mendorong pertumbuhan UMKM lokal yang berpotensi menembus pasar ekspor.”
Selama program, Indonesia Re memberikan pelatihan kepada petani dengan materi seperti pembuatan pestisida organik, pupuk berbahan limbah rumah tangga, serta peningkatan produktivitas dan kualitas cabai dan bawang merah.
Bantuan juga diberikan dalam bentuk traktor untuk penggemburan tanah dan pembangunan serta manajemen rumah produksi.
Semua program ini diselaraskan dengan indikator kinerja utama (KPI) dan metode pengukuran dampak Social Return on Investment (SROI), yang hasil evaluasinya dijadwalkan pada akhir 2025.
Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy mengapresiasi atas inisiatif ini. Vasko berharap setiap nagari di Sumatera Barat dapat menjadi pusat ekonomi berbasis keunggulan lokal. “Saya ingin tiap nagari memiliki karakter dan keunikan tersendiri yang hasil komoditinya dapat dijual ke pasar lebih luas,” ujarnya.
Menurut Vasko, kolaborasi antara pemerintah daerah, BUMN, dan komunitas petani adalah langkah nyata dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing. Dengan semangat kolaborasi yang kuat bersama DJPb, HIPERMI, dan Pemerintah Daerah Sumatera Barat, Indonesia Re berkomitmen melanjutkan upaya pengembangan petani lokal menuju swasembada pangan yang inklusif dan berkelanjutan.
(cip)
Lihat Juga :