Kisah Sunan Kalijaga Taklukkan Perampok Sadis hingga Jalani Pertapaan 44 Tahun
Sabtu, 14 Juni 2025 - 08:52 WIB
loading...
Sunan Kalijaga memiliki karamah dan keistimewaan dalam menyebarkan agama Islam. Salah satunya Sunan Kalijaga bisa mengetahui maksud dan tujuan isi hati seseorang yang dihadapinya. Foto: Ist
A
A
A
SUNANKalijaga memiliki karamah dan keistimewaan dalam menyebarkan agama Islam. Salah satunya Sunan Kalijaga bisa mengetahui maksud dan tujuan isi hati seseorang yang dihadapinya.
Sunan Kalijaga juga tak pernah takut dengan siapa pun, termasuk dengan perampok yang dikenal seantero Pulau Madura ketika dia menyebarkan Islam hingga Madura. Memang Sunan Kalijaga dulunya juga seorang perampok dengan sebutan Berandalan Lokajaya.
Sunan Kalijaga yang bernama asli Raden Sahid itu bahkan lebih kejam dan tak segan melukai korbannya ketika beraksi sebelum merebut paksa harta kekayaan korbannya. Ketika sang perampok ini bertaubat dan menjadi penyebar agama Islam hingga akhirnya menjadi seorang wali dari 9 wali yang dikenal di Pulau Jawa.
Baca juga: Bacaan Wirid Sunan Kalijaga untuk Lancarkan Rezeki
Bahkan, karena kehebatan namanya melanglang buana ke beberapa penjuru tanah Jawa, termasuk Pulau Madura. Kebetulan di Madura saat itu ada seorang perampok yang disegani dan terkenal bernama Cakrajaya.
Mendengar nama Sunan Kalijaga yang pada waktu itu begitu populer dan dikenal dengan nama Lokajaya, perampok itu penasaran dan bermaksud menemui Sunan Kalijaga yang diketahuinya masih menggeluti dunia hitam.
Sebagaimana dikisahkan pada buku "Kesaktian dan Tarekat Sunan Kalijaga" tulisan Rusydie Anwar, saat itu Sunan Kalijaga sudah bertaubat dan menjadi murid Sunan Bonang. Mengetahui itu, Sunan Bonang memanggil Sunan Kalijaga dan mengatakan ada seseorang yang kemungkinan berniat jahat kepada Sunan Kalijaga.
Sunan Bonang pun meminta Sunan Kalijaga membersihkan hati sang perampok bernama Cakrajaya. Suatu waktu Sunan Kalijaga dikisahkan tengah berjalan di sebuah perkampungan.
Saat itu, Sunan Kalijaga berpapasan dengan warga kampung yang mau melaksanakan aktivitas seperti pergi ke ladang dan ke pasar. Ketika berjalan, Sunan Kalijaga menyanyikan syair-syair yang sangat merdu, sehingga ada seorang warga yang terpukau oleh syair-syair tersebut. "Syair itu sangat bagus," kata orang tersebut kepada Sunan Kalijaga.
Orang itu tidak tahu sosok yang menyanyikan syair-syair merdu itu. Sunan Kalijaga pun membalas perkataan orang itu, "Kalau kamu mencari seseorang, maka akulah yang kamu cari," kata Sunan Kalijaga.
Orang itu adalah Cakrajaya, perampok yang bermaksud menemui Sunan Kalijaga. Mendengar perkataan Sunan Kalijaga, Cakrajaya sangat terkejut karena orang yang barusan membacakan syair itu mengetahui maksud kedatangannya ke daerah itu.
"Mana mungkin kau Lokajaya yang saya cari. Pakaianmu tidak sebagaimana perampok, tapi seperti orang berdakwah saja," jawab orang itu kepada Sunan Kalijaga.
"Itulah aku yang sekarang. Aku telah meninggalkan pekerjaanku dulu. Kalau kamu punya keperluan terhadapku, maka bersihkanlah dulu hatimu," sahut Sunan Kalijaga.
Mendengar perkataan itu, Cakrajaya tertegun. Diam-diam dia mengagumi Sunan Kalijaga karena dapat mengetahui maksud hatinya datang ke tempat itu. Meskipun sebelumnya dia tidak pernah kenal dan bertemu.
Cakrajaya meyakini bahwa orang yang berada di depannya adalah orang hebat. Hal ini membuat dia memutuskan berguru kepada Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga pun memberikan satu syarat kepada Cakrajaya yang diminta pergi ke hutan untuk bertapa merenungi dosa-dosanya.
Cakrajaya pun pamit ke Sunan Kalijaga pergi ke hutan untuk bertapa. Konon, Cakrajaya bertapa selama 44 tahun. Setelah itu Sunan Kalijaga mengunjunginya, namun dia kesulitan menemui Cakrajaya karena hutan sudah sangat lebat.
Karenanya, Sunan Kalijaga berinisiatif membakar hutan itu. Setelah api padam, dia dapat melihat Cakrajaya masih dalam posisi duduk bersila dengan pakaian terbakar, namun tubuhnya tidak terbakar sama sekali. Sunan Kalijaga membangunkan Cakrajaya dan mengajarkan ilmu agama kepadanya.
Dia meminta Cakrajaya membangun sebuah desa di atas tanah bekas tempat dia bertapa dan terbakar. Sunan Kalijaga pun mengganti nama Cakrajaya menjadi Kiai Geseng, geseng yang artinya terbakar. Kelak nama desa itu dikenal dengan nama Desa Geseng, sebuah desa kuno yang ada di Tuban, Jawa Timur.
Sunan Kalijaga juga tak pernah takut dengan siapa pun, termasuk dengan perampok yang dikenal seantero Pulau Madura ketika dia menyebarkan Islam hingga Madura. Memang Sunan Kalijaga dulunya juga seorang perampok dengan sebutan Berandalan Lokajaya.
Sunan Kalijaga yang bernama asli Raden Sahid itu bahkan lebih kejam dan tak segan melukai korbannya ketika beraksi sebelum merebut paksa harta kekayaan korbannya. Ketika sang perampok ini bertaubat dan menjadi penyebar agama Islam hingga akhirnya menjadi seorang wali dari 9 wali yang dikenal di Pulau Jawa.
Baca juga: Bacaan Wirid Sunan Kalijaga untuk Lancarkan Rezeki
Bahkan, karena kehebatan namanya melanglang buana ke beberapa penjuru tanah Jawa, termasuk Pulau Madura. Kebetulan di Madura saat itu ada seorang perampok yang disegani dan terkenal bernama Cakrajaya.
Mendengar nama Sunan Kalijaga yang pada waktu itu begitu populer dan dikenal dengan nama Lokajaya, perampok itu penasaran dan bermaksud menemui Sunan Kalijaga yang diketahuinya masih menggeluti dunia hitam.
Sebagaimana dikisahkan pada buku "Kesaktian dan Tarekat Sunan Kalijaga" tulisan Rusydie Anwar, saat itu Sunan Kalijaga sudah bertaubat dan menjadi murid Sunan Bonang. Mengetahui itu, Sunan Bonang memanggil Sunan Kalijaga dan mengatakan ada seseorang yang kemungkinan berniat jahat kepada Sunan Kalijaga.
Sunan Bonang pun meminta Sunan Kalijaga membersihkan hati sang perampok bernama Cakrajaya. Suatu waktu Sunan Kalijaga dikisahkan tengah berjalan di sebuah perkampungan.
Saat itu, Sunan Kalijaga berpapasan dengan warga kampung yang mau melaksanakan aktivitas seperti pergi ke ladang dan ke pasar. Ketika berjalan, Sunan Kalijaga menyanyikan syair-syair yang sangat merdu, sehingga ada seorang warga yang terpukau oleh syair-syair tersebut. "Syair itu sangat bagus," kata orang tersebut kepada Sunan Kalijaga.
Orang itu tidak tahu sosok yang menyanyikan syair-syair merdu itu. Sunan Kalijaga pun membalas perkataan orang itu, "Kalau kamu mencari seseorang, maka akulah yang kamu cari," kata Sunan Kalijaga.
Orang itu adalah Cakrajaya, perampok yang bermaksud menemui Sunan Kalijaga. Mendengar perkataan Sunan Kalijaga, Cakrajaya sangat terkejut karena orang yang barusan membacakan syair itu mengetahui maksud kedatangannya ke daerah itu.
"Mana mungkin kau Lokajaya yang saya cari. Pakaianmu tidak sebagaimana perampok, tapi seperti orang berdakwah saja," jawab orang itu kepada Sunan Kalijaga.
"Itulah aku yang sekarang. Aku telah meninggalkan pekerjaanku dulu. Kalau kamu punya keperluan terhadapku, maka bersihkanlah dulu hatimu," sahut Sunan Kalijaga.
Mendengar perkataan itu, Cakrajaya tertegun. Diam-diam dia mengagumi Sunan Kalijaga karena dapat mengetahui maksud hatinya datang ke tempat itu. Meskipun sebelumnya dia tidak pernah kenal dan bertemu.
Cakrajaya meyakini bahwa orang yang berada di depannya adalah orang hebat. Hal ini membuat dia memutuskan berguru kepada Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga pun memberikan satu syarat kepada Cakrajaya yang diminta pergi ke hutan untuk bertapa merenungi dosa-dosanya.
Cakrajaya pun pamit ke Sunan Kalijaga pergi ke hutan untuk bertapa. Konon, Cakrajaya bertapa selama 44 tahun. Setelah itu Sunan Kalijaga mengunjunginya, namun dia kesulitan menemui Cakrajaya karena hutan sudah sangat lebat.
Karenanya, Sunan Kalijaga berinisiatif membakar hutan itu. Setelah api padam, dia dapat melihat Cakrajaya masih dalam posisi duduk bersila dengan pakaian terbakar, namun tubuhnya tidak terbakar sama sekali. Sunan Kalijaga membangunkan Cakrajaya dan mengajarkan ilmu agama kepadanya.
Dia meminta Cakrajaya membangun sebuah desa di atas tanah bekas tempat dia bertapa dan terbakar. Sunan Kalijaga pun mengganti nama Cakrajaya menjadi Kiai Geseng, geseng yang artinya terbakar. Kelak nama desa itu dikenal dengan nama Desa Geseng, sebuah desa kuno yang ada di Tuban, Jawa Timur.
(jon)
Lihat Juga :