Ratusan Umat Buddha Ikuti Uji Coba Dharmayatra ke Candi Borobudur
Jum'at, 13 Juni 2025 - 12:50 WIB
loading...
Sebanyak 150 umat Buddha antusias mengikuti uji coba kunjungan wisata spiritual (Dharmayatra) bertajuk Cultural Spiritual Inclusive di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Kamis (12/6/2025). Foto: Ist
A
A
A
MAGELANG - Sebanyak 150 umat Buddha antusias mengikuti uji coba kunjungan wisata spiritual (Dharmayatra) bertajuk Cultural Spiritual Inclusive di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Kamis (12/6/2025). Umat yang datang dari berbagai perwakilan organisasi keagamaan Buddha dan perguruan tinggi Buddha merasa lebih khusyuk dan nyaman bersembahyang karena seluruh prosesi peribadatan dilakukan bersama-sama serta dibimbing langsung para bhikku dan banthe.
Pemimpin Ibadah Uji Coba Kunjungan Wisata Spiritual Candi Borobudur Bhikkhu Ditti Sampanno menyambut positif kegiatan Dharmayatra ini. Dalam agama Buddha, Dharmayatra dimaknai sebagai kegiatan berkunjung ke situs-situs Buddhis dengan tujuan bukan sekadar wisata tetapi perjalanan spiritual yang memberikan banyak pengalaman dan pengetahuan tentang dharma serta menambah keyakinan.
Baca juga: 5 Candi Buddha Tertua di Indonesia, dari Borobudur hingga Muara Takus
Kegiatan ini sebagai rangkaian untuk menguji seberapa lama, seberapa jauh umat Buddha bisa melaksanakan Cultural Spiritual Inclusive.
“Targetnya 150 orang per jam. Kita diberi waktu jam 7-9. Harapannya 150 orang per jam, jadi dalam 2 jam bisa 300 orang. Nah ini adalah trial untuk bagaimana pelaksanaan 1 jam apa saja yang bisa kita lakukan. Ternyata, dalam satu jam kita bisa melakukan puja atau persembahyangan, penghormatan kemudian meditasi serta Puja Mandala di Candi Borobudur,” ujarnya.
Mengenai alokasi waktu, pihaknya berusaha menyesuaikan waktu tersebut dengan tingkat kesakralan. “Kalau lebih banyak waktu bisa enjoy,” katanya.
Dengan pangsa pasar umat Buddha yang banyak sekitar 400 juta di dunia, destinasi wisata spiritual ini sangat memungkinkan untuk dilanjutkan.
“Dan kalau permohonan saya ke depan tidak dibatasi waktu, namun cukup diberikan satu space tempat yang khusus, jadi tidak mengganggu wisatawan yang biasa dan juga kita bisa melaksanakan kegiatan dengan baik. Kalau tidak diberikan waktu malam, misalkan jam 4 sore sampai jam 9 atau pagi jam 4 subuh sampai jam 7,” katanya.
Kegiatan uji coba atau trial ini berkolaborasi dengan yayasan, majelis, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan agama Buddha.
“Ini adalah trial yang kita lakukan bekerja sama dengan Daya Nusa atau Yayasan Dharmayatra Nusantara Utama yang berlokasi di Borobudur di bawah Kementerian Agama dan juga kita bekerja sama dengan berbagai majelis-majelis agama Buddha yang ada di Indonesia, serta perguruan tinggi dan lembaga pendidikan agama Buddha. Selain itu, juga turut bekerja sama dengan semua tour travel agent dan biro perjalanan serta perhotelan di Magelang dan Yogyakarta,” jelasnya.
Candra Dvi Jayanti, peserta mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Syailendra Semarang menilai kunjungan spiritual seperti ini sangat menarik karena terasa lebih nyaman daripada dilakukan sendiri.
“Sebagai umat saya sangat merasa nyaman dan bisa mengikuti kegiatan ini dengan baik. Kalau misal kunjungan sendiri gitu ya, mungkin kita tidak tahu arah pujanya mau seperti apa, kemudian mungkin kurang mengena karena tidak ada instrukturnya terus kemudian juga mungkin kita belum tahu nih kita mau melakukan apa di Candi Borobudur," ujarnya.
"Sedangkan kalau kunjungan wisata ini kita ada instrukturnya ada banthe yang mendampingi, ada para bikkhu sangha jadi kita bisa secara keagamaan kita lebih terstruktur, bisa lebih tahu nih kita mau melakukan apa secara step-by-step,” sambungnya.
Uji coba ini merupakan bagian realisasi Program Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) yang ditetapkan pada 2022. Untuk menyukseskan program itu, telah ditandatangani Nota Kesepahaman Pemanfaatan Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon untuk Kepentingan Agama Umat Buddha Indonesia dan Dunia.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha (Dirjen Bimas Buddha) Kementerian Agama Supriyadi sangat mendukung pelaksanaan Dharmayatra bertajuk Cultural Spiritual Inclusive di Candi Borobudur.
Kegiatan ini memperkokoh posisi Candi Borobudur yang merupakan tempat untuk destinasi kunjungan umat Buddha Indonesia dan dunia.
"Berbagai kegiatan keagamaan digelar di Candi Borobudur seperti peringatan detik-detik Waisak, Kathina, Magha Puja, Asadha Chanting, Pabajja Samanera dan kegiatan lainnya," katanya.
Menyikapi adanya konten media sosial yang mengajak kunjungan ke candi-candi dengan pemilihan kata yang kurang sesuai sangat disesalkan. Untuk itu publik sangat diharapkan dapat menebarkan konten-konten keagamaan yang lebih inspiratif dan positif. Hal ini penting untuk menjaga kerukunan beragama yang sudah terjalin begitu indah di Indonesia.
Pemimpin Ibadah Uji Coba Kunjungan Wisata Spiritual Candi Borobudur Bhikkhu Ditti Sampanno menyambut positif kegiatan Dharmayatra ini. Dalam agama Buddha, Dharmayatra dimaknai sebagai kegiatan berkunjung ke situs-situs Buddhis dengan tujuan bukan sekadar wisata tetapi perjalanan spiritual yang memberikan banyak pengalaman dan pengetahuan tentang dharma serta menambah keyakinan.
Baca juga: 5 Candi Buddha Tertua di Indonesia, dari Borobudur hingga Muara Takus
Kegiatan ini sebagai rangkaian untuk menguji seberapa lama, seberapa jauh umat Buddha bisa melaksanakan Cultural Spiritual Inclusive.
“Targetnya 150 orang per jam. Kita diberi waktu jam 7-9. Harapannya 150 orang per jam, jadi dalam 2 jam bisa 300 orang. Nah ini adalah trial untuk bagaimana pelaksanaan 1 jam apa saja yang bisa kita lakukan. Ternyata, dalam satu jam kita bisa melakukan puja atau persembahyangan, penghormatan kemudian meditasi serta Puja Mandala di Candi Borobudur,” ujarnya.
Mengenai alokasi waktu, pihaknya berusaha menyesuaikan waktu tersebut dengan tingkat kesakralan. “Kalau lebih banyak waktu bisa enjoy,” katanya.
Dengan pangsa pasar umat Buddha yang banyak sekitar 400 juta di dunia, destinasi wisata spiritual ini sangat memungkinkan untuk dilanjutkan.
“Dan kalau permohonan saya ke depan tidak dibatasi waktu, namun cukup diberikan satu space tempat yang khusus, jadi tidak mengganggu wisatawan yang biasa dan juga kita bisa melaksanakan kegiatan dengan baik. Kalau tidak diberikan waktu malam, misalkan jam 4 sore sampai jam 9 atau pagi jam 4 subuh sampai jam 7,” katanya.
Kegiatan uji coba atau trial ini berkolaborasi dengan yayasan, majelis, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan agama Buddha.
“Ini adalah trial yang kita lakukan bekerja sama dengan Daya Nusa atau Yayasan Dharmayatra Nusantara Utama yang berlokasi di Borobudur di bawah Kementerian Agama dan juga kita bekerja sama dengan berbagai majelis-majelis agama Buddha yang ada di Indonesia, serta perguruan tinggi dan lembaga pendidikan agama Buddha. Selain itu, juga turut bekerja sama dengan semua tour travel agent dan biro perjalanan serta perhotelan di Magelang dan Yogyakarta,” jelasnya.
Candra Dvi Jayanti, peserta mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Syailendra Semarang menilai kunjungan spiritual seperti ini sangat menarik karena terasa lebih nyaman daripada dilakukan sendiri.
“Sebagai umat saya sangat merasa nyaman dan bisa mengikuti kegiatan ini dengan baik. Kalau misal kunjungan sendiri gitu ya, mungkin kita tidak tahu arah pujanya mau seperti apa, kemudian mungkin kurang mengena karena tidak ada instrukturnya terus kemudian juga mungkin kita belum tahu nih kita mau melakukan apa di Candi Borobudur," ujarnya.
"Sedangkan kalau kunjungan wisata ini kita ada instrukturnya ada banthe yang mendampingi, ada para bikkhu sangha jadi kita bisa secara keagamaan kita lebih terstruktur, bisa lebih tahu nih kita mau melakukan apa secara step-by-step,” sambungnya.
Uji coba ini merupakan bagian realisasi Program Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) yang ditetapkan pada 2022. Untuk menyukseskan program itu, telah ditandatangani Nota Kesepahaman Pemanfaatan Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon untuk Kepentingan Agama Umat Buddha Indonesia dan Dunia.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha (Dirjen Bimas Buddha) Kementerian Agama Supriyadi sangat mendukung pelaksanaan Dharmayatra bertajuk Cultural Spiritual Inclusive di Candi Borobudur.
Kegiatan ini memperkokoh posisi Candi Borobudur yang merupakan tempat untuk destinasi kunjungan umat Buddha Indonesia dan dunia.
"Berbagai kegiatan keagamaan digelar di Candi Borobudur seperti peringatan detik-detik Waisak, Kathina, Magha Puja, Asadha Chanting, Pabajja Samanera dan kegiatan lainnya," katanya.
Menyikapi adanya konten media sosial yang mengajak kunjungan ke candi-candi dengan pemilihan kata yang kurang sesuai sangat disesalkan. Untuk itu publik sangat diharapkan dapat menebarkan konten-konten keagamaan yang lebih inspiratif dan positif. Hal ini penting untuk menjaga kerukunan beragama yang sudah terjalin begitu indah di Indonesia.
(jon)
Lihat Juga :