Peringati Hari Lahir Pancasila, BPIP Salurkan Pompa Air dan Hewan Kurban ke Kodam VI/Mulawarman
Kamis, 05 Juni 2025 - 16:53 WIB
loading...
Kepala BPIP Yudian Wahyudi menyerahkan 10 unit pompa air dan hewan kurban kepada Kodam VI/Mulawarman di Kalimantan Timur (Kaltim). Penyaluran bantuan tersebut merupakan bagian dari momentum peringatan Hari Lahir Pancasila. Foto/istimewa
A
A
A
BALIKPAPAN - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyalurkan 10 unit pompa air dan hewan kurban kepada Kodam VI/Mulawarman di Kalimantan Timur (Kaltim). Penyaluran bantuan tersebut merupakan bagian dari momentum peringatan Hari Lahir Pancasila.
Bantuan dari pegawai BPIP tersebut diberikan langsung oleh Kepala BPIP Yudian Wahyudi. “Kita merdeka hanya dalam 50 detik. Tanpa letusan peluru, tanpa bantuan negara adidaya. Di tengah Perang Dunia II, bangsa ini berdiri sendiri karena satu hal: Pancasila,” tutur Yudian, Kamis (5/6/2025).
Yudian mengenang bagaimana para pemuda yang disekolahkan penjajah, justru membalikkan keadaan dan bersatu melawan. “Dari mereka lahir Sumpah Pemuda, lahir Indonesia Raya. Itu bukan kebetulan. Itu mukjizat politik. Dan itu Pancasila,” ungkapnya.
Baca juga: Presiden Prabowo: Pancasila Jangan Hanya Jadi Mantra dan Slogan
“Raja-raja menyerahkan tahta. Sultan-sultan menyerahkan kuasa. Hanya di negeri ini. Karena semua percaya, Republik ini adalah milik bersama. Siapa pun yang lahir di tanah ini, adalah calon pemimpin Indonesia,” sambungnya.
Yudian menyebut Kalimantan Timur adalah simbol kekayaan agraris yang tak boleh disia-siakan. “Mesir besar karena Sungai Nil, tapi Kalimantan punya lebih. Kekayaan ini bukan milik kita sendiri ini titipan untuk anak cucu,” ungkapnya.
Dari pantauan di lokasi, tampak para pejabat negara, prajurit, dan masyarakat berkumpul. Tidak hanya untuk memperingati Hari Lahir Pancasila, tapi untuk membuktikan bahwa ideologi bangsa ini bukan sekadar kata-kata di atas kertas. Pancasila hidup, bernapas, dan bekerja untuk rakyatnya.
Baca juga: Kepala BPIP: Pancasila Fondasi Moral dan Etika Penyelenggara Negara
“Untuk mewujudkan Pancasila dalam tindakan, kami tidak hanya datang membawa wacana. Kami bawa pompa air karena hidup dimulai dari air. Kami bawa hewan kurban karena hidup harus berbagi dan disyukuri. Pancasila Itu Mukjizat yang Hidup,” ujar Deputi Bidang Hubungan Antarlembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP Prakoso.
Menurut Prakoso, Pancasila harus diimplementasikan dalam tindakan bukan hanya simbol. “Ini adalah seruan hati. Bahwa bangsa Indonesia bisa dan harus mampu mengimplementasikannya ke nilai dasar gotong royong, keadilan sosial, dan cinta Tanah Air,” katanya.
Prakoso menyebut pompa air yang diserahkan akan mengairi sawah pertanian dan sapi kurban yang dibagikan akan menghidupi dapur-dapur warga. Tapi yang paling penting, Pancasila menghidupi harapan.
“Balikpapan, sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) menegaskan Pancasila akan terus hidup. Bukan hanya di pidato, tapi di ladang, di lumbung, di rumah-rumah sederhana, di hati rakyatnya. Karena Pancasila bukan milik masa lalu. Pancasila adalah petunjuk yang menuntun kita ke masa depan menuju Indonesia Raya,” ucapnya.
Bantuan dari pegawai BPIP tersebut diberikan langsung oleh Kepala BPIP Yudian Wahyudi. “Kita merdeka hanya dalam 50 detik. Tanpa letusan peluru, tanpa bantuan negara adidaya. Di tengah Perang Dunia II, bangsa ini berdiri sendiri karena satu hal: Pancasila,” tutur Yudian, Kamis (5/6/2025).
Yudian mengenang bagaimana para pemuda yang disekolahkan penjajah, justru membalikkan keadaan dan bersatu melawan. “Dari mereka lahir Sumpah Pemuda, lahir Indonesia Raya. Itu bukan kebetulan. Itu mukjizat politik. Dan itu Pancasila,” ungkapnya.
Baca juga: Presiden Prabowo: Pancasila Jangan Hanya Jadi Mantra dan Slogan
“Raja-raja menyerahkan tahta. Sultan-sultan menyerahkan kuasa. Hanya di negeri ini. Karena semua percaya, Republik ini adalah milik bersama. Siapa pun yang lahir di tanah ini, adalah calon pemimpin Indonesia,” sambungnya.
Yudian menyebut Kalimantan Timur adalah simbol kekayaan agraris yang tak boleh disia-siakan. “Mesir besar karena Sungai Nil, tapi Kalimantan punya lebih. Kekayaan ini bukan milik kita sendiri ini titipan untuk anak cucu,” ungkapnya.
Dari pantauan di lokasi, tampak para pejabat negara, prajurit, dan masyarakat berkumpul. Tidak hanya untuk memperingati Hari Lahir Pancasila, tapi untuk membuktikan bahwa ideologi bangsa ini bukan sekadar kata-kata di atas kertas. Pancasila hidup, bernapas, dan bekerja untuk rakyatnya.
Baca juga: Kepala BPIP: Pancasila Fondasi Moral dan Etika Penyelenggara Negara
“Untuk mewujudkan Pancasila dalam tindakan, kami tidak hanya datang membawa wacana. Kami bawa pompa air karena hidup dimulai dari air. Kami bawa hewan kurban karena hidup harus berbagi dan disyukuri. Pancasila Itu Mukjizat yang Hidup,” ujar Deputi Bidang Hubungan Antarlembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP Prakoso.
Menurut Prakoso, Pancasila harus diimplementasikan dalam tindakan bukan hanya simbol. “Ini adalah seruan hati. Bahwa bangsa Indonesia bisa dan harus mampu mengimplementasikannya ke nilai dasar gotong royong, keadilan sosial, dan cinta Tanah Air,” katanya.
Prakoso menyebut pompa air yang diserahkan akan mengairi sawah pertanian dan sapi kurban yang dibagikan akan menghidupi dapur-dapur warga. Tapi yang paling penting, Pancasila menghidupi harapan.
“Balikpapan, sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) menegaskan Pancasila akan terus hidup. Bukan hanya di pidato, tapi di ladang, di lumbung, di rumah-rumah sederhana, di hati rakyatnya. Karena Pancasila bukan milik masa lalu. Pancasila adalah petunjuk yang menuntun kita ke masa depan menuju Indonesia Raya,” ucapnya.
(cip)
Lihat Juga :