Musikal Legenda Sukabumi Tampil Memukau di Galeri Indonesia Kaya
Selasa, 20 Mei 2025 - 19:24 WIB
loading...
Musikal Tunggulah Aku di Gunung Parang (TADGP) karya Den Aslam dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Musikal Tunggulah Aku di Gunung Parang (TADGP) karya Den Aslam dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya , Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Pementasan tersebut tampil begitu memukau. Karya seni ini diproduksi Ngajagi Kreasi Nusantara.
Pertunjukan mengangkat legenda Gunung Parang dari Sukabumi yakni kisah tragis cinta Nyi Pudak Arum dan Wangsa Suta pascaruntuhnya Kerajaan Pajajaran abad ke-16.
TADGP menggabungkan seni musik, tari, dan teater dalam balutan cerita rakyat yang dikemas secara modern dan puitis. Diperankan para aktor muda berbakat, musik digarap oleh Jamil Hasyani dan koreografi oleh Gaya Gita Studio.
Menurut Den Aslam, TADGP adalah bagian dari upaya menghidupkan kembali warisan budaya lewat medium pertunjukan musikal agar lebih dekat dengan generasi muda. “Kisah-kisah lokal bisa menjadi sumber nilai dan identitas bangsa,” ujar Den.
Pementasan ini mendapat sambutan meriah dari berbagai kalangan mulai dari seniman, budayawan, hingga politisi. Penonton disuguhi lagu-lagu yang menggabungkan nuansa tradisional dan kontemporer serta kostum campuran etnik-modern.
Disisipkan pula sosok Nyai Kartini dan anaknya Arum dari abad ke-19 sebagai penghubung naratif antara masa lalu dan masa kolonial.
“Arum adalah simbol perlawanan nilai-nilai lokal terhadap dominasi Eropa,” ucapnya.
Produser TADGP Rio Kamase menambahkan gelar ini merupakan kolaborasi Kemenpora dengan Teaterindo serta Arsikarta Foundation yang menjadi langkah awal berkembangnya industri seni pertunjukan di Sukabumi. “Kami siap membawa TADGP ke kota-kota lain,” katanya.
Pertunjukan mengangkat legenda Gunung Parang dari Sukabumi yakni kisah tragis cinta Nyi Pudak Arum dan Wangsa Suta pascaruntuhnya Kerajaan Pajajaran abad ke-16.
TADGP menggabungkan seni musik, tari, dan teater dalam balutan cerita rakyat yang dikemas secara modern dan puitis. Diperankan para aktor muda berbakat, musik digarap oleh Jamil Hasyani dan koreografi oleh Gaya Gita Studio.
Menurut Den Aslam, TADGP adalah bagian dari upaya menghidupkan kembali warisan budaya lewat medium pertunjukan musikal agar lebih dekat dengan generasi muda. “Kisah-kisah lokal bisa menjadi sumber nilai dan identitas bangsa,” ujar Den.
Pementasan ini mendapat sambutan meriah dari berbagai kalangan mulai dari seniman, budayawan, hingga politisi. Penonton disuguhi lagu-lagu yang menggabungkan nuansa tradisional dan kontemporer serta kostum campuran etnik-modern.
Disisipkan pula sosok Nyai Kartini dan anaknya Arum dari abad ke-19 sebagai penghubung naratif antara masa lalu dan masa kolonial.
“Arum adalah simbol perlawanan nilai-nilai lokal terhadap dominasi Eropa,” ucapnya.
Produser TADGP Rio Kamase menambahkan gelar ini merupakan kolaborasi Kemenpora dengan Teaterindo serta Arsikarta Foundation yang menjadi langkah awal berkembangnya industri seni pertunjukan di Sukabumi. “Kami siap membawa TADGP ke kota-kota lain,” katanya.
(jon)
Lihat Juga :