Kisah Perebutan Kekuasaan Kerajaan Islam di Sumatera Dipicu Perbedaan Mahzab dan Kekayaan Alam

Senin, 19 Mei 2025 - 06:49 WIB
loading...
Kisah Perebutan Kekuasaan...
Perbedaan mahzab agama Islam dan rebutan kekayaan alam yang melimpah, membawa pergolakan kerajaan Islam yang terjadi ketika awal berdirinya di Pulau Sumatera. Foto/Ilustrasi/Ist
A A A
JAKARTA - Perbedaan mahzab agama Islam dan rebutan kekayaan alam, membawa pergolakan kerajaan Islam yang terjadi ketika awal berdirinya di Pulau Sumatera. Saat itu pergolakan kekuasaan muncul di masa kesultanan Islam yang ada di Pulau Sumatera, serta munculnya dinasti penguasa Sultan Islam.

Perebutan kekuasaan memang terjadi antara dinasti Sayid Aziz dan Dinasti Marah. Perebutan ini menggambarkan perebutan antara dinasti asing dan pribumi di Kesultanan Islam di ujung Pulau Sumatera kala itu.

Baca juga: Ibnu Batutah, Saksi Kebesaran Kerajaan Islam Samudera Pasai

Pergolakan dipicu memperebutkan hasil lada yang dikuasai oleh Sultan Perlak dan diekspor melalui Bandar Perlak.

Menurut musafir Arab dan Tionghoa, penanaman lada di Aceh telah dikenal sejak abad ke-9, yakni di daerah Nampoli, Perlak, Lamuri dan Samudera. Lada Aceh itu kiranya berasal dari Malagasi.



Pada abad ke-7 dan ke-8 sebagaimana dikutip dari "Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara" dari Prof. Slamet Muljana, penanaman lada telah dikenal di Malagasi.

Hasil lada di Malagasi dijadikan bahan perdagangan oleh pedagang-pedagang Arab dan Persi di sepanjang Pantai Asia dan di Benua Eropa.

Baca juga: Sultanah Malikah Nahrasiyah, Ratu Samudera Pasai yang Gentarkan Asia Tenggara

Pedagang-pedagang Persi dan Arab, yang banyak berlayar ke pantai timur Sumatra, membawa dagangan lada dan mencoba menanam lada di daerah Aceh.

Perlak dijadikan bandar utama di pantai timur Sumatera bagian utara untuk ekspor lada, karena eskpor lada mendatangkan banyak keuntungan.

Maka pedagang-pedagang asing dari Mesir, Persi dan Gujarat, yang datang di pelabuhan Perlak dan kemudian menetap di situ, ingin menguasai seluruhnya hasil lada yang sejak semula dikuasai oleh Marah Perlak. Salah seorang pedagang Arab berhasil kawin dengan putri Marah Perlak.

Dari perkawinan itu, lahirlah Sayid Abdul Aziz. Dengan sokongan para pedagang asing yang menganut agama Islam aliran Syi'ah, Sayid Abdul Aziz berhasil merebut kekuasaan Marah Perlak dan kemudian mendirikan Kesultanan Perlak pada tahun 1161.

Sayid dinobatkan menjadi Sultan Perlak dengan julukan Alaiddin Syah. Kesultanan Perlak yang dipimpin oleh Arab peranakan Sayid Abdul Aziz, mendapat dukungan sepenuhnya dari para pedagang asing dari Arab, Mesir, Persi, dan Gujarat yang menganut aliran Syi'ah.

Kecuali Kesultanan Perlak di pantai timur Sumatra bagian utara, masih ada kesultanan lain yang dipimpin oleh laksamana laut dari Dinasti Fathimiah di Mesir, yakni Kesultanan Pasai. Kesultanan Pasai terletak di muara Sungai Pasai dan menjadi negara bawahan Mesir.

Kala itu Kerajaan Samudra Pasai konon merupakan penganut Islam mahzab atau aliran syi'ah, yang tidak dikehendaki oleh dinasti baru di Mesir yang beragama Islam aliran Syafi'i. Di saat bersamaan muncullah sebuah dinasti baru bernama Dinasti Mamaluk pada tahun 1285 sampai 1522.

Pada hakikatnya, dinasti Mamaluk juga ingin menguasai perdagangan rempah-rempah di Malaka, seperti halnya dinasti Fathimiah.

Pada tahun 1284, dinasti Mamaluk mengirim Syaikh Ismail ke pantai timur Sumatra bersama Fakir Muhammad, bekas ulama di pantai barat India untuk menghilangkan pengaruh Syi'ah dan sekaligus mengambil alih kekuasaan dari penguasa Pelabuhan Pasai.

Di Samudera Pasai, mereka bertemu dengan Marah Silu, yang telah masuk dalam ketentaraan Pasai dengan nama Iskandar Malik. Syaikh Ismail berhasil membujuk Marah Silu, penguasa Kesultanan Samudra Pasai untuk memeluk agama Islam madzhab Syafi'i.

Pada waktu itu, Marah Silu konon telah pandai membaca koran dan sudah memeluk agama Islam aliran Syi'ah. Pengikut Marah Silu, yang bernama Seri Kaya dan Bawa Kaya, ikut masuk madzhab Syafi'i dan berganti nama Sidi Ali Chiatudin dan Sidi Ali Hasanuddin.

Dengan bantuan Dinasti Mamaluk di Mesir, Marah Silu ditabalkan menjadi sultan di Samudera oleh Syaikh Ismail dengan julukan Malikul Saleh.

Negara Samudera merupakan negara tandingan Kesultanan Pasai dan Perlak yang menganut aliran Syi'ah. Samudera atau Pasai terletak di muara Sungai Pasai di pantai timur Sumatera menghadap ke Selat Malaka.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
Sudirman Said: Kepemimpinan...
Sudirman Said: Kepemimpinan Berkelanjutan Lahir dari Sistem yang Kuat
BNPB Petakan Karhutla...
BNPB Petakan Karhutla di Sejumlah Wilayah, Sumatera dan Kalimantan Mendominasi
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Said Didu ke Presiden...
Said Didu ke Presiden Prabowo: Kawan Bapak Tuh Ada di Luar, Bukan di Dalam
Buntut Listrik Blackout...
Buntut Listrik Blackout di Pulau Sumatera, PLN Didesak Beri Kompensasi
DPR: Blackout Sumatera...
DPR: Blackout Sumatera Dipicu Putusnya Kabel Transmisi, Bukan Sabotase
Rekomendasi
Usai Dikawal Rieke Diah...
Usai Dikawal Rieke Diah Pitaloka, Kasus Nikita Mirzani Kini Dipantau Komisi Yudisial
China akan Bawa AI ke...
China akan Bawa AI ke Setiap Ruang Kelas, dari SD hingga Universitas
Jelang Pemilu, Netanyahu...
Jelang Pemilu, Netanyahu Ngotot Usir Warga Palestina dari Gaza
Berita Terkini
Lanjutan Sidang Praperadilan,...
Lanjutan Sidang Praperadilan, Roy Suryo Siapkan 3 Saksi dan 1 Ahli
Jelang Upacara HUT Ke-80...
Jelang Upacara HUT Ke-80 Bhayangkara, Begini Situasi Satlat Brimob Cikeas
Ini Daftar Jalan di...
Ini Daftar Jalan di Jakarta yang Ditutup Sementara saat Presiden Belarus Melintas
Tak Hanya Andalkan Teknologi,...
Tak Hanya Andalkan Teknologi, KAI Bangun Loyalitas via Pelayanan Berkualitas
Program ParenTRING,...
Program ParenTRING, Pegadaian Kanwil IX Jakarta 2 Gelar Khitanan Massal
Komut Pertamina Kunjungan...
Komut Pertamina Kunjungan Kerja ke Jatim hingga Nusa Tenggara, Ini Hasilnya
Infografis
Kisah Perjalanan Satu...
Kisah Perjalanan Satu Dekade Islam Makhachev di UFC
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved