alexametrics

Cerita Pagi

Jejak Operasi Pasukan Para Komando di Pedalaman Hutan Kalimantan

loading...
Jejak Operasi Pasukan Para Komando di Pedalaman Hutan Kalimantan
Di salah satu puncak bukit di tepi aliran Sungai Tekelan dalam Taman Nasional Bukit Kerihun (TNBK), Kalimantan Barat ada bekas helipad untuk pendaratan pasukan Para Komando. Foto SINDOnews/Hendri I
A+ A-
Betung Kerihun di Kalimantan Barat, merupakan kawasan hutan dan perbukitan dari bentangan Pegunungan Muller yang menghubungkan Gunung Betung dan Gunung Kerihun. Gugusan gunung dan perbukitan dalam kawasan ini menjadi pembatas alam antara wilayah Indonesia dan negara bagian Serawak, Malaysia.

Keanekaragaman ekosistem kawasan yang merupakan bagian Taman Nasional Bukit Kerihun (TNBK) ini sangat tinggi dan vegetasi hutannya masih baik dan relatif utuh. TNBK memiliki 1.216 jenis keanekaragaman tumbuhan yang terdiri atas 418 genus dan 110 famili (75% endemik Kalimantan). (Baca: Jejak Keberhasilan Operasi Kopassus di Tanah Papua)

Di balik panorama alamnya yang memukau, ternyata ada satu hal tersembunyi lainnya dalam kawasan ini. Persis di salah satu puncak bukit di tepi aliran sungai yakni Sungai Tekelan, ada bekas helipad untuk pendaratan pasukan Parako (Para Komando dulu RPKAD/sekarang Kopassus). Pasukan elite TNI AD ini dulunya dikerahkan Presiden Soekarno saat Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia, antara tahun 1961-1966.



Bagian atas bukit yang kini sudah tertutup rapat tanaman jenis paku-pakuan ini, tak sulit mendakinya. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit mencapai puncaknya.

Karena dulunya menjadi tempat pendaratan sekaligus markas pasukan Parako, tak mengherankan jika sejumlah masyarakat di kawasan ini kerap menemukan senjata, bahkan mortir yang tertimbun tanah, menjadi “ranjau” di dalam hutan hingga di dasar sungai.

“Kadang malam hari tiba-tiba masyarakat mendengar suara dentuman seperti bom. Setelah dicari tahu, ternyata suara ranjau yang tak sengaja diinjak babi hutan,” kata Kupron, salah satu warga Dayak Iban yang dalam satu kesempatan menemani SINDOnews menjelajah kawasan TNBK.

Bukit Parako atau Paraku, demikian masyarakat dan petugas TNBK menamai bukit penuh nilai historis ini, rencananya akan dijadikan salah satu destinasi wisata minat khusus yang bisa dikunjungi pelancong.

Menjejak Bukit Parako belumlah lengkap jika tidak menyusuri sungai-sungai dalam kawasan TNBK, salah satunya Sungai Embaloh (cabang sungai Tekelan).

Selain itu di aliran sungai berarus deras ini bisa ditemukan ikan Semah, yang jika dibakar dan disantap rasa dagingnya sangat empuk, manis, dan gurih. Di pasaran harga ikan Semah sangat mahal, hampir Rp2 juta per kilogram. Wow...

Di Sungai Tekelan, yang bisa ditempuh 3 jam perjalanan dengan longboat dari Sadap (kampung terakhir menuju gerbang TNBK), pengunjung bisa menginap (camping ground ) di kamp Nanga Tekelan atau kamp Langsat.

Selain Sungai Tekelan, sejumlah sungai lain yang juga wajib disusuri adalah Kapuas, Sibau, Mendalam, dan Bungan. Seluruh aliran sungai menjadi jalur masuk menuju TNBK, karena perjalanan memang harus menyusuri sungai-sungai tersebut. Salah satunya untuk mencapai Daerah Tanjung Lokang.

Jika dari Nanga Bungan, penyusuran melewati riam Bakang, riam Homatop, riam Lapan dan riam Matahari yang memiliki grade (tingkat kesulitan arung jeram) sampai 6. Masuk lagi jauh ke dalam kawasan, penyusuran akan menemukan gua dan sarang burung walet serta makam leluhur masyarakat Dayak yang disebut Tembawang.

Jika perjalanan diteruskan ke hulu lagi, akan bertemu kamp Derian yang menjadi titik start pendakian ke Gunung Betung dan menuju Gua Pajau. Masuk lagi jauh ke dalam menjumpai air terjun Dajo dan Laboh.

Konon berdasarkan cerita di pedalaman hutan Kalimantan ini sempat terjadi kontak tembak antara pasukan Para Komando Indonesia (RPKAD kala itu) dengan Pasukan Gurkha yang dipandu beberapa anggota pasukan Elite Inggris SAS (Special Air Service).

Asisten Intel Kopassus Kol Inf M Aidi saat dihubungi SINDOnews membenarkan adanya kisah heroik mengenai pertempuran pasukan RPKAD dengan Prajurit Gurkha yang terkenal sadis di lokasi dekat Betung Kerihun.

"Ya saya sempat membaca literatur di Museum Gurkha di Inggris soal pertempuran antara pasukan Baret Merah Indonesia (RPKAD) dengan Pasukan Gurkha yang merupakan tentara bayaran asal Nepal di sekitar Betung Kerihun tersebut," kata mantan Kapendam XVII/Cenderawasih ini.

Menurut M Aidi, dia yang dulu sempat menjabat sebagai Komandan Batalyon 21 Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan Solo juga ikut dalam Ekspedisi Khatulistiwa beberapa tahun lalu.

"Waktu itu saat saya berpangkat Letkol dan menjabat Danyon 21 dan ikut dalam Ekspedisi Khatulistiwa di Pedalaman Kalbar sempat mendengar kisah-kisah heroik dari para tokoh Dayak Iban tentang keberhasilan Pasukan RPKAD memukul mundur pasukan Gurkha ke perbatasan Malaysia. Pak LB Moerdani (Mantan Panglima ABRI) memang dulu sempat diterjunkan di perbatasan Malaysia," kata M Aidi Nubic kepada SINDOnews, Jumat malam (20/3/2020).

M Aidi mengatakan, waktu tahu dirinya merupakan salah satu anggota Pasukan Barat Merah (Kopassus) sejumlah tetua adat Dayak Iban langsung menceritakan kisah-kisah heroik mengenai pasukan RPKAD yang kala itu dapat membuat pasukan Gurkha lari tunggang langgang. "Karena ada dari para tetua adat yang saat itu masih belia ikut terjun membantu Pasukan Baret Merah dalam mencari jejak dan memandu Pasukan memasuki perbatasan Malaysia," timpalnya.

Menurut para Tetua Dayak Iban, Pasukan Gurkha yang terkenal itu sempat terkejut dengan serangan pasukan dengan memakai baret merah yang tiba-tiba muncul dari semak-semak dan rerimbunan pepohonan. "Padahal saat konfrontasi dengan Malaysia memang Pasukan Gurkha dikerahkan dalam jumlah yang cukup banyak. Ya jumlahnya tidak sebanding dengan Pasukan Korps Baret Merah yang diterjunkan kesana. Namun karena dibantu warga Suku Dayak Iban dan Panglima Burung, Pasukan Gurkha dapat diusir hingga kembali ke Malaysia," katanya.

Dari berbagai keterangan dan literatur yang ditemukan SINDOnews, juga disebutkan adanya pertempuran antara Pasukan Elite Korps Baret Merah ini dan dengan Pasukan Special Air Service (SAS) di Desa Mapu, Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Malaysia. Dalam pertempuran tersebut pasukan RPKAD mampu menewaskan personel SAS saat menyerbu Pos Pasukan Inggris tersebut di Mapu.

Pertempuran ini tentunya menambah kisah heroik pasukan Korps Baret Merah di medan Operasi Dwikora dalam konfrontasi dengan Malaysia.
(sms)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak