Tinjauan ke Subang, Senior IFAD Akui Keberhasilan Program YESS Kementan
Senin, 28 April 2025 - 08:05 WIB
loading...
Penasihat Portofolio Senior IFAD untuk Asia dan Pasifik, Kaushik Barua meninjau langsung program YESS di Kabupaten Subang, Jumat (25/4/2025). Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
SUBANG - Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) Kementerian Pertanian ( Kementan ) mendapat pengakuan dari IFAD atas keberhasilannya menunjukkan dampak positif dalam pengembangan usaha di sektor pertanian . YESS dinilai sukses melakukan berbagai intervensi, mulai dari pelatihan tingkat dasar hingga memberikan layanan untuk pemasaran.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyoroti keberhasilan Program YESS yang telah memberdayakan generasi muda untuk menjadi wirausaha di sektor pertanian. Program ini telah menghasilkan lebih dari 3.000 pengusaha muda yang kini mandiri dan sukses di berbagai bidang, mulai dari peternakan, hortikultura, hingga ekspor dengan permintaan yang melebihi suplai.
“Banyak anak muda kita yang tidak hanya bertani, tetapi menjadi pengusaha di bidang pertanian. Mereka penuh semangat, dan ini merupakan hasil yang membanggakan bagi kami di Kementerian Pertanian,” kata Sudaryono dalam siaran pers, Senin (28/4/2025). Baca juga: Sukses di Cianjur, Model Kewirausahaan Kementan Dilirik Delegasi Internasional
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan, Program YESS yang telah berjalan selama lima tahun aktif mendorong keterlibatan generasi muda di sektor pertanian. Melalui pelatihan, peningkatan kapasitas, pendampingan usaha, serta fasilitasi akses ke pasar dan pembiayaan, YESS menjadi wadah strategis dalam menyiapkan petani milenial yang mandiri dan inovatif.
“Banyak kegiatan yang sudah dilakukan YESS untuk menarik minat generasi muda agar tidak hanya menjadi petani, tapi juga pelaku agribisnis yang adaptif terhadap perubahan zaman,” ujarnya.
Ia mengingatkan, jika negara tidak menyiapkan generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian, maka akan terjadi kekosongan pelaku usaha tani di masa depan. “Petani tua akan berkurang secara alamiah, dan tanpa regenerasi yang dirancang dengan baik, kita bisa kehilangan keberlanjutan,” tambahnya.
Penasihat Portofolio Senior IFAD untuk Asia dan Pasifik, Kaushik Barua meninjau langsung lokasi unit pengolahan serta para penerima manfaat yang telah mendapat dukungan dari proyek YESS. Produk hasil pertanian seperti nanas diolah menjadi beragam produk seperti kerupuk berbagai rasa, kain, hingga selai.
"Kami telah mengunjungi berbagai mitra proyek serta para penerima manfaat. Dari kunjungan ini, saya menyadari bahwa YESS berhasil mengembangkan model pelatihan yang sangat efektif mulai dari pelatihan dasar, lanjutan, hingga pelatihan ekspor yang semuanya dimodifikasi sesuai kebutuhan peserta," katanya.
Ia menambahkan, proyek ini tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga memfasilitasi akses pembiayaan kepada penerima manfaat yang menunjukkan inisiatif kuat dalam mengembangkan usahanya. Menurut Barua, aspek inklusi sosial juga diperhatikan dengan baik.
Proyek YESS berhasil melibatkan laki-laki dan perempuan secara seimbang, di mana hampir setengah dari penerima manfaat adalah perempuan. Ia juga mengapresiasi pengembangan produksi dan pengolahan di unit-unit kecil lokal, yang menghasilkan produk berkualitas tinggi.
"Saya telah mencoba sendiri produk-produk yang dihasilkan. Kami menikmati sambutan dari Ibu Asriani di rumah beliau, dan kami melihat kualitas serta nilai produk-produknya sangat tinggi. Ini menunjukkan bagaimana proyek ini telah sukses membangun kapasitas dan mendukung penerima manfaat," ungkapnya.
Asriani, salah satu binaan Program YESS, menceritakan perjalanan usahanya yang dimulai pada 2016 dengan membuat kerupuk berbahan dasar ikan. Setelah mengikuti pelatihan Program YESS di Cijambe, ia terdorong untuk berinovasi dengan mengolah hasil pertanian lokal, yakni nanas. Baca juga: Dinobatkan sebagai Bapak Petani Milenial, Wamentan Yakin Sektor Pertanian Menjanjikan
"Saya pertama kali membuat kerupuk nanas dengan bumbu rujak, supaya berbeda dari produk lain. Lalu berkembang lagi menjadi salai nanas krispi, produk olahan dari nanas yang sebelumnya belum ada," katanya.
Ia menilai peran program YESS sangat penting. Terutama dalam membentuk klaster nanas yang melibatkan petani, pengolah, hingga pemanfaatan limbah daun nanas.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyoroti keberhasilan Program YESS yang telah memberdayakan generasi muda untuk menjadi wirausaha di sektor pertanian. Program ini telah menghasilkan lebih dari 3.000 pengusaha muda yang kini mandiri dan sukses di berbagai bidang, mulai dari peternakan, hortikultura, hingga ekspor dengan permintaan yang melebihi suplai.
“Banyak anak muda kita yang tidak hanya bertani, tetapi menjadi pengusaha di bidang pertanian. Mereka penuh semangat, dan ini merupakan hasil yang membanggakan bagi kami di Kementerian Pertanian,” kata Sudaryono dalam siaran pers, Senin (28/4/2025). Baca juga: Sukses di Cianjur, Model Kewirausahaan Kementan Dilirik Delegasi Internasional
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan, Program YESS yang telah berjalan selama lima tahun aktif mendorong keterlibatan generasi muda di sektor pertanian. Melalui pelatihan, peningkatan kapasitas, pendampingan usaha, serta fasilitasi akses ke pasar dan pembiayaan, YESS menjadi wadah strategis dalam menyiapkan petani milenial yang mandiri dan inovatif.
“Banyak kegiatan yang sudah dilakukan YESS untuk menarik minat generasi muda agar tidak hanya menjadi petani, tapi juga pelaku agribisnis yang adaptif terhadap perubahan zaman,” ujarnya.
Ia mengingatkan, jika negara tidak menyiapkan generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian, maka akan terjadi kekosongan pelaku usaha tani di masa depan. “Petani tua akan berkurang secara alamiah, dan tanpa regenerasi yang dirancang dengan baik, kita bisa kehilangan keberlanjutan,” tambahnya.
Penasihat Portofolio Senior IFAD untuk Asia dan Pasifik, Kaushik Barua meninjau langsung lokasi unit pengolahan serta para penerima manfaat yang telah mendapat dukungan dari proyek YESS. Produk hasil pertanian seperti nanas diolah menjadi beragam produk seperti kerupuk berbagai rasa, kain, hingga selai.
"Kami telah mengunjungi berbagai mitra proyek serta para penerima manfaat. Dari kunjungan ini, saya menyadari bahwa YESS berhasil mengembangkan model pelatihan yang sangat efektif mulai dari pelatihan dasar, lanjutan, hingga pelatihan ekspor yang semuanya dimodifikasi sesuai kebutuhan peserta," katanya.
Ia menambahkan, proyek ini tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga memfasilitasi akses pembiayaan kepada penerima manfaat yang menunjukkan inisiatif kuat dalam mengembangkan usahanya. Menurut Barua, aspek inklusi sosial juga diperhatikan dengan baik.
Proyek YESS berhasil melibatkan laki-laki dan perempuan secara seimbang, di mana hampir setengah dari penerima manfaat adalah perempuan. Ia juga mengapresiasi pengembangan produksi dan pengolahan di unit-unit kecil lokal, yang menghasilkan produk berkualitas tinggi.
"Saya telah mencoba sendiri produk-produk yang dihasilkan. Kami menikmati sambutan dari Ibu Asriani di rumah beliau, dan kami melihat kualitas serta nilai produk-produknya sangat tinggi. Ini menunjukkan bagaimana proyek ini telah sukses membangun kapasitas dan mendukung penerima manfaat," ungkapnya.
Asriani, salah satu binaan Program YESS, menceritakan perjalanan usahanya yang dimulai pada 2016 dengan membuat kerupuk berbahan dasar ikan. Setelah mengikuti pelatihan Program YESS di Cijambe, ia terdorong untuk berinovasi dengan mengolah hasil pertanian lokal, yakni nanas. Baca juga: Dinobatkan sebagai Bapak Petani Milenial, Wamentan Yakin Sektor Pertanian Menjanjikan
"Saya pertama kali membuat kerupuk nanas dengan bumbu rujak, supaya berbeda dari produk lain. Lalu berkembang lagi menjadi salai nanas krispi, produk olahan dari nanas yang sebelumnya belum ada," katanya.
Ia menilai peran program YESS sangat penting. Terutama dalam membentuk klaster nanas yang melibatkan petani, pengolah, hingga pemanfaatan limbah daun nanas.
(poe)
Lihat Juga :