Kisah Raja Singasari Wisnuwardhana Menumpas Amukan Pemberontak Linggapati

Sabtu, 12 April 2025 - 07:34 WIB
loading...
Kisah Raja Singasari...
Raja Wisnuwardhana merupakan raja yang berhasil menyatukan kembali faksi di Kerajaan Singasari. Saat itu pemberontakan, kudeta, dan pembunuhan mewarnai beberapa raja sebelumnya. Foto: Ist
A A A
RAJAWisnuwardhana merupakan raja yang berhasil menyatukan kembali faksi di Kerajaan Singasari . Saat itu memang pemberontakan, kudeta, dan pembunuhan mewarnai beberapa raja sebelumnya.

Di awali dari Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung ketika masih menjadi wilayah kekuasaan Kediri. Setelah itu, wilayah Singasari penuh dengan tragedi karena diwarnai aksi saling bunuh.

Ken Arok yang naik menjadi raja pertama Singasari sekaligus mendeklarasikan diri wilayah Tumapel kala itu sebagai wilayah berdikari dari Kerajaan Kediri juga tewas dengan tragis.

Baca juga: Riwayat Nagarakretagama dan Pararaton Gambarkan Kerajaan Singasari yang Dulunya Kediri-Tumapel

Ken Arok tewas di tangan anak tirinya Anusapati yang mengetahui ulahnya membunuh Tunggul Ametung, ayah kandung Anusapati saat menikahi Ken Dedes.

Berlanjut ke tragedi pembunuhan Anusapati oleh Tohjaya, anak kandung Ken Arok hasil pernikahan dengan Ken Dedes.

Setelah itu beberapa kali muncul faksi di Kerajaan Singasari hingga akhirnya berhasil disatukan dua keturunan di masa Raja Wisnuwardhana sebagaimana dikutip dari "Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno".

Penyatuan dua keturunan Singasari itu dikisahkan pula pada prasasti di Desa Maribong peninggalan Raja Wisnuwarddhana. Namun sayang tak begitu detail menjelaskan apa isi dari prasasti tersebut.

Yang jelas dalam prasasti itu disebutkan bahwa nama abhisekanya Sri Jayawisnuwarddhana Sang Mapanji Smining Rat dan disebutkan pula kakeknya yang telah menenteramkan dan mempersatukan dunia (swapitamaha stawana bhinasrantalokapalaka).

Sebuah prasasti lain dari masa pemerintahan Wisnuwardhana yakni prasasti tembaga dari Desa Pakis Wetan (Kedu) yang berangka tahun 1267.40 Prasasti ini dikeluarkan oleh raja Kertanagara, makamangalya perintah Paduka Bhațara Jaya Sri Wisnuwarddhana. Sayang sekali prasasti ini hanya ditemukan lempeng permulaannya saja sehingga tidak diketahui apa isinya.

Dalam prasasti tersebut dijelaskan bahwa Kertanagara sudah sebagai raja di Singasari sebagaimana juga tercantum dalam Kakawin Nagarakretagama yang mengatakan Wisnuwardhana telah menobatkan anaknya menjadi raja dalam tahun 1254 M.

Apa latar belakang tindakan itu tidak jelas. Beberapa dugaan telah dilancarkan oleh beberapa sarjana, tetapi agaknya tindakan itu tidak lain dari pengukuhan seorang anak menjadi yuwaraja atau kumararaja.

Konon di masa Wisnuwardhana itu juga Singasari sempat membasmi perusuh yang merusak ketentraman negara. Kakawin Nagarakretagama mengisahkan bagaimana sosok Linggapati dan pengikutnya yang dibunuh Wisnuwardhana. Mereka dianggap sebagai perusuh yang merusak ketentraman Kerajaan Singasari.

Langkah ini membuat takut semua musuh sang Raja Singasari. Kala itu Linggapati dan sisa pasukannya sempat bertahan di Mahibit, tapi oleh pemimpin pasukan kerajaan Mahisa Bungalan berhasil ditumpas dan dirobohkan pertahanannya sebagaimana terdapat di Kitab Pararaton.

Sayang tidak ada keterangan sejarah lain yang dapat mengetahui peristiwa tersebut, termasuk pembuatan perbentengan di Canggu Lor dalam tahun 1271 M. Canggu Lor terletak di tepi Sungai Brantas dan kemungkinan pembuatan perbentengan di Canggu Lor ada hubungannya dengan penyerangan atas Mahibit, karena dapat diperkirakan Mahibit terletak di tepi Sungai Brantas dekat Terung, tidak jauh dari Keraton Majapahit di kemudian hari.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Bom Mobil Meledak di...
Bom Mobil Meledak di KA Militer Pakistan, 24 Orang Tewas
Mali Kacau! Separatis...
Mali Kacau! Separatis Serang Basis Militer Seluruh Negeri, Menhan Camara Tewas
Pemberontak Baloch Mengamuk,...
Pemberontak Baloch Mengamuk, Klaim Habisi 84 Orang Pasukan Pakistan, 18 Disandera
Rekomendasi
Purbaya Bakal Tempatkan...
Purbaya Bakal Tempatkan Dana Rp400 Triliun Lagi di Himbara
Bukan Utang, Purbaya...
Bukan Utang, Purbaya Tegaskan Pendanaan AIIB Rp303 Triliun Murni Investasi
Pengadilan Negeri Jakarta...
Pengadilan Negeri Jakarta Timur Larang Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa terkait Ijazah Jokowi
Berita Terkini
Aksi Mahasiswa Bagian...
Aksi Mahasiswa Bagian dari Kontrol Jalannya Pemerintahan
Tuntaskan Jaringan 8,1...
Tuntaskan Jaringan 8,1 Km, Kapal Perang TNI AL Angkut 100 Ton Pipa Air Bersih YTBN Menuju Adonara
Demo Ricuh di Grahadi...
Demo Ricuh di Grahadi Surabaya, Belasan Pendemo Diduga Provokator Ditangkap
Stafsus Menag Bertemu...
Stafsus Menag Bertemu Pengurus Rumah Doa Methodis Injili Jemaat Filadelfia Bandung
Sejak 2023, Kabel Udara...
Sejak 2023, Kabel Udara Sepanjang 11 Kilometer di Jakarta Barat Direlokasi
4 Pelaku Penyekapan...
4 Pelaku Penyekapan Karyawan Padel Langsung Ditahan
Infografis
Vajiralongkorn, Raja...
Vajiralongkorn, Raja Terkaya di Dunia yang Miliki 52 Kapal Emas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved