KPPB Ajak Masyarakat Tolak Aksi Kekerasan Terhadap Perempuan
Selasa, 17 Desember 2024 - 21:46 WIB
loading...
Komunitas Perempuan Peduli dan Berbagi menggelar acara dan berbagai pertunjukan bertema Dunia Tanpa Luka di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Selasa (17/12/2024). Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Komunitas Perempuan Peduli dan Berbagi (KPPB) menggelar acara dan berbagai pertunjukan dengan tema Dunia Tanpa Luka di Taman Ismail Marzuki (TIM), Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (17/12/2024).
Acara tersebut digelar untuk memperingati Hari Anti Kekerasan pada perempuan dan anak di Indonesia yang jatuh pada 25 November hingga 10 Desember 2024 lalu.
Baca juga: Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Media Sosial Memprihatinkan
Founder KPPB, Meiline Tenardi mengatakan, pihaknya mengundang sekitar 1.500 orang untuk hadir dalam acara tersebut.
Kegiatan ini, kata Meiline, sebagai bentuk nyata pihaknya untuk menyuarakan pencegahan tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia.
"Pada acara ini, kami ingin sampaikan kepada masyarakat, bahwa kekerasan tidak boleh dibiarkan dalam bentuk apapun," kata Meiline di lokasi, Selasa (17/12/2024).
Hal senada disampaikan Psikolog Klinis, Ratih Ibrahim yang mengungkapkan bahwa melalui kampanye dirinya berharap kekerasan terhadap perempuan akan menghilang dan tidak lagi terjadi di Indonesia.
Baca juga: Fakta 2.367 Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Terjadi di Jawa Timur
Ia juga menyambut baik langkah KPPB dalam menyuarakan stop kekerasan.
"Saya sehari-hari bekerja sebagai psikolog klinis, bersama teman-teman saya di ikatan psikolog klinis Indonesia, cerita tentang kekerasan seksual terhadap perempuan ini bukan cerita yang enak didengar," katanya.
Menurut Ratih, kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Indonesia bukan cerita yang baru didengar oleh masyarakat.
Sebab, katanya, meski sudah dilakukan upaya pencegahan atau menangkal aksi kekerasan terhadap perempuan, tapi masih sering terjadi dan ditemui di Indonesia.
Ia mengaku, ketika perempuan mendapat kekerasan khususnya seksual maka sudah merusak kehidupan dan masa depan.
"Kekerasan seksual telah menistakan kehidupan dan biasanya yang menjadi korban adalah perempuan serta anak-anak," ujarnya.
Acara tersebut digelar untuk memperingati Hari Anti Kekerasan pada perempuan dan anak di Indonesia yang jatuh pada 25 November hingga 10 Desember 2024 lalu.
Baca juga: Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Media Sosial Memprihatinkan
Founder KPPB, Meiline Tenardi mengatakan, pihaknya mengundang sekitar 1.500 orang untuk hadir dalam acara tersebut.
Kegiatan ini, kata Meiline, sebagai bentuk nyata pihaknya untuk menyuarakan pencegahan tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia.
"Pada acara ini, kami ingin sampaikan kepada masyarakat, bahwa kekerasan tidak boleh dibiarkan dalam bentuk apapun," kata Meiline di lokasi, Selasa (17/12/2024).
Hal senada disampaikan Psikolog Klinis, Ratih Ibrahim yang mengungkapkan bahwa melalui kampanye dirinya berharap kekerasan terhadap perempuan akan menghilang dan tidak lagi terjadi di Indonesia.
Baca juga: Fakta 2.367 Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Terjadi di Jawa Timur
Ia juga menyambut baik langkah KPPB dalam menyuarakan stop kekerasan.
"Saya sehari-hari bekerja sebagai psikolog klinis, bersama teman-teman saya di ikatan psikolog klinis Indonesia, cerita tentang kekerasan seksual terhadap perempuan ini bukan cerita yang enak didengar," katanya.
Menurut Ratih, kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Indonesia bukan cerita yang baru didengar oleh masyarakat.
Sebab, katanya, meski sudah dilakukan upaya pencegahan atau menangkal aksi kekerasan terhadap perempuan, tapi masih sering terjadi dan ditemui di Indonesia.
Ia mengaku, ketika perempuan mendapat kekerasan khususnya seksual maka sudah merusak kehidupan dan masa depan.
"Kekerasan seksual telah menistakan kehidupan dan biasanya yang menjadi korban adalah perempuan serta anak-anak," ujarnya.
(shf)
Lihat Juga :