Kala Kepak Merpati Bawa Harapan untuk Jakarta Baru Ramah bagi Semua
Sabtu, 16 November 2024 - 10:16 WIB
loading...
Calon Gubernur Jakarta Ridwan Kamil menyapa warga di Glodok, Jakarta Barat, Jumat (15/11/2024). Dia juga diundang berkunjung ke Vihara Dharma Bakti, sebuah tempat peribadatan umat Buddha yang ikonik di Jakarta. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Calon Gubernur Jakarta Ridwan Kamil menyapa warga di kawasan Glodok, Jakarta Barat, Jumat (15/11/2024). Dia juga diundang berkunjung ke Vihara Dharma Bakti, sebuah tempat peribadatan umat Buddha yang ikonik di Jakarta.
Di Vihara yang dibangun tahun 1650, calon pemimpin Jakarta tersebut melepasliarkan sepasang merpati putih. Dengan setiap telapak menggenggam lembut diiringi doa dan harapan kaum Buddhis, Kang Emil lantas melepaskan keduanya. Terbang tinggi dengan bebas membawa harapan akan Jakarta baru yang ramah bagi semua.
Baca juga: Lepas 2 Burung Merpati di Jakbar, RK: Simbol Perdamaian dan Bebas Keyakinan Beragama
“Alhamdulillah, terima kasih didoakan. Doa yang sangat baik, sangat mulia. Melepasliarkan sepasang merpati putih yang menjadi simbol perdamaian secara umum dan simbol kebebasan, termasuk kebebasan kita dalam berkeyakinan,” ujar Ridwan Kamil.
Dalam tradisi Buddhis, pelepasliaran seperti yang dilakukan Kang Emil memiliki makna filosofis mendalam. Di satu sisi sebagai simbol melepaskan hal-hal buruk dan kurang baik dari diri seseorang serta sebagai simbolisasi kebebasan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.
Di Vihara yang dibangun tahun 1650, calon pemimpin Jakarta tersebut melepasliarkan sepasang merpati putih. Dengan setiap telapak menggenggam lembut diiringi doa dan harapan kaum Buddhis, Kang Emil lantas melepaskan keduanya. Terbang tinggi dengan bebas membawa harapan akan Jakarta baru yang ramah bagi semua.
Baca juga: Lepas 2 Burung Merpati di Jakbar, RK: Simbol Perdamaian dan Bebas Keyakinan Beragama
“Alhamdulillah, terima kasih didoakan. Doa yang sangat baik, sangat mulia. Melepasliarkan sepasang merpati putih yang menjadi simbol perdamaian secara umum dan simbol kebebasan, termasuk kebebasan kita dalam berkeyakinan,” ujar Ridwan Kamil.
Dalam tradisi Buddhis, pelepasliaran seperti yang dilakukan Kang Emil memiliki makna filosofis mendalam. Di satu sisi sebagai simbol melepaskan hal-hal buruk dan kurang baik dari diri seseorang serta sebagai simbolisasi kebebasan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.
Lihat Juga :