alexametrics

Unimed Ikut Berduka, Koleksi Surat Habibie Belum Sempat Diserahkan

loading...
Unimed Ikut Berduka, Koleksi Surat Habibie Belum Sempat Diserahkan
Dosen Unimed, Ichwan Azhari menyimpan 7 surat dari sang ibunda yang ditujukan untuk Habibie ketika berada di Jerman. Foto/Ist
A+ A-
MEDAN - Wafatnya Presiden RI ke-3, BJ Habibie meninggalkan duka bagi dosen Universitas Negeri Medan (Unimed), Ichwan Azhari. Koleksi surat BJ Habibie yang disimpan Ichwan belum sempat diserahkan langsung kepada almarhum.

Ichwan menyimpan 7 surat dari ibunda Habibie yang ditujukan untuk Habibie ketika berada di Jerman. Surat-surat yang diperoleh dari seorang pedagang filateli itu belum sempat diserahkan kepada Habibie.

Melalui akun media sosialnya Ichwan memposting foto amplop berisi surat-surat tersebut. Kondisinya terlihat masih terjaga dengan baik. Ichwan menyebutkan diperolehnya surat-surat itu dari seorang pedagang filateli atau perangko pada tahun 1997.



Saat itu sedang musim dingin, Ichwan yang sedang kuliah di Hamburg, berangkat menuju Stutgart untuk mengunjungi Briefmarken Internasional Messe (Pameran Internasional Prangko/Filateli). Di sana dia bertemu dengan pedagang filateli tersebut.

"Pedagang perangko orang Jerman ini tahu nama Habibie, nama yang juga jadi legenda bagi banyak orang Jerman yang mengenal Indonesia. Saya waktu itu terkejut dan bertanya dari mana dia dapat begini banyak surat-surat untuk Habibie? Pedagang perangko Jerman itu sambil tertawa dengan enteng menjawab bahwa itu didapatnya dari tukang botot (tukang loak) di Hamburg," kata Ichwan, Kamis (12/9/2019).

Ichwan menduga hal itu mungkin terjadi saat pembantu di Rumah Habibie di Hamburg membersihkan keller, yakni ruang bawah tanah yang berfungsi sebagai gudang. Saat gudang penuh dengan berbagai koran dan majalah, dan kemungkinan kumpulan surat-surat untuk Habibie terikut di dalam keller. Biasanya orang menelpon tukang loak untuk mengangkut barang barang itu dengan imbalan sekadarnya.

Dari tukang loak seperti itulah pedagang perangko Jerman itu mendapatkannya dan menjualnya di bursa perangko internasional di Stuttgart itu. Saat itu, kata Ichwan, dia melihat ada sekitar satu kardus surat-surat yang ditujukan untuk Habibie, namun karena berbagai keterbatasan, Ichwan hanya bisa membeli sepuluh surat yang dikirim ibunda Habibie untuk Habibie dan Ainun Habibie.

"Saya lihat ada satu kardus lagi surat-surat yang dikirim ke Habibie yang jatuh pada pedagang itu, dan dengan pilu saya berharap satu waktu bisa memborong semua surat-surat itu. Beberapa tahun berikutnya saat saya jumpa lagi dengan pedagang itu, surat-surat itu sudah tidak ada padanya, entah siapa yang membelinya," sebut Ichwan.
Unimed Ikut Berduka, Koleksi Surat Habibie Belum Sempat Diserahkan

Dari 10 surat itu, Ichwan hanya menyimpan 7 surat saja. Tiga lainnya telah diberikan kepada seorang filatelis, yang istrinya Margaret merupakan guru dari dua anak Habibie saat sekolah di Hamburg, yakni Ilham dan Thareq.

Surat-surat itu, berasal dari ibunda Habibie di Bandung yang dikirim ke Habibie di Hamburg antara tahun 1967-1970. Surat-surat tulisan tangan dari ibunda Habibie di amplop suratnya disebut dikirim RA Habibie (ibunya Habibie) beralamat di Jalan Imam Bondjol 24 Bandung. Surat dikirim ke Dr Ing BJ Habibie, Heinrich Bomhoff Weg 2, (2) Hamburg 52 W Djerman.

"Surat surat ini berbicara tentang kerinduan, cinta seorang ibu kepada anaknya Habibie, juga kepada Ainun, Ilham dan Thareq, dua cucu yang disayanginya. Suratnya dalam bahasa Belanda bercampur bahasa Indonesia dan bahasa Jawa," ungkap Ichwan.

Selama sekitar 20 tahun menyimpan surat-surat itu, Ichwan menuturkan sudah beberapa kali berupaya memberikan surat itu langsung pada Habibie, namun hingga kini belum kesampaian. "Ingin saya satu hari nanti menyerahkan surat ini ke Pak Ilham Habibie atau Pak Thareq Habibie yang banyak disebut sebut namanya oleh Eyang mereka," harapnya.
(rhs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak