alexametrics

Cerita Pagi

Di Balik Berdirinya Masjid Agung Al-Imam Majalengka

loading...
Di Balik Berdirinya Masjid Agung Al-Imam Majalengka
Masjid Agung Al-Imam Majalengka. Foto/SINDOnews/Inin Nastain
A+ A-
Sudah menjadi pemandangan lumrah, tidak jauh dari keberadaan pusat pemerintahan kabupaten, biasanya terdapat alun-alun dan tempat ibadah dalam hal ini masjid. Pemandangan itu salah satunya terlihat di pusat pemerintahan Kabupaten Majalengka.

Persis di depan Pendopo, terdapat alun-alun tempat aktivitas masyarakat umum. Di sebelah alun-alun atau bagian kiri dari arah Pendopo, terdapat sebuah masjid, yang diberi nama Masjid Agung Al-Imam.

Keberadaan Masjid Agung Al-Imam ini seiring masuknya bulan Ramadhan, sukses mencuri perhatian dari banyak kalangan. Tidak sedikit masyarakat yang memanfaatkan masjid itu untuk beriktikaf atau sekadar melepas penat.



Namun, mungkin tidak banyak yang mengetahui tentang perjalanan masjid tersebut. Bahkan, pihak pengurus masjid pun mengaku tidak mengetahui persis tentang sejarah masjid itu sejak lahir hingga saat ini. Pihak masjid justru merujuk dari salah satu blog.

Dikutip dari Madjalengkatiheula.blogspot, keberadaan Masjid Agung Al-Imam tidak terlepas dari kemurahhatian KH Imam Safari, kakek dari Pahlawan Nasional KH Abdul Halim yang mewakafkan tanah untuk masjid. Nama Al-Imam untuk Masjid Agung Al-Imam itu pun sebagai bentuk penghormatan kepada sang wakif atau pemberi wakaf.

Masjid Agung Al-Imam pada periode awal atau sekitar 1884 tak lebih hanya bangunan masjid kecil. Awalnya, secara fisik, masjid tersebut berbentuk panggung.
Di Balik Berdirinya Masjid Agung Al-Imam Majalengka

Keberadaan Masjid Agung Al-Imam dalam bentuk panggung berakhir hingga sekitar tahun 1900, masa pemerintahan Bupati Raden Mas Salam Salmon. Saat itu, ketika dilakukan renovasi, bangunan masjid benar-benar diubah secara total. Saat itu, masjid yang sebelumnya berupa panggung, berubah menjadi lantai.

Selang 67 tahun kemudian yakni tahun 1967, kembali dilakukan renovasi. Masjid yang sebelumnya hanya satu lantai diubah menjadi dua lantai. Proses renovasi dengan menambah lantai ini dilakukan saat masa Bupati Kolonel Rd. Anwar Sutisna yang dilanjutkan oleh Rd. Saleh Sediana, memakan waktu hingga 1977.

Perbaikan kembali dilakukan pada 1984, saat Kabupaten Majalengka dipimpin Rd E Djaelani. Pada masa ini, sekaligus dilakukan pelebaran. Tahun 1990, masjid itu mendapat sentuhan di bagian atas dengan dibuatkan kubah.

Bupati saat itu, Tutty Hayati Anwar, kembali mempercantik masjid pada 2003. Saat itu, selain kubah utama, ada juga penambahan kubah-kubah kecil di setiap sudut.

Kini, 16 tahun kemudian, masjid tersebut kembali mendapat polesan. "Mulai direnovasi lagi Juni 2018. Yang direnov itu momolo (kubah), diubah, menggunakan keramik. Sebelumnya ada lubang udara, sekarang ditutup," kata Wakil Sekretaris DKM Masjid Agung Al-Imam Achsanul Fikri saat berbincang dengan SINDOnews.

Selain momolo, renovasi juga diakukan pada bagian lantai, dari sebelumnya menggunakan keramik, diganti dengan marmer. Beberapa tiang yang sebelumnya tembok biasa, diubah dengan keramik. "Ada juga beberapa bagian yang dibuang, seperti tangga, yang sebelumnya ada dua, dibuang satu. Penampilannya lebih kekinian lah," kata dia.

Untuk diketahui, luas lahan masjid ini 2.475 meter per segi dengan kapasitas 2.500 jamaah. Selama Bulan Ramadhan ini, jelas dia, terdapat beberapa aktivitas rutin yang digelar pihak pengurus. Buka bersama, tarawih dan tadarus, adalah aktivitas rutin Ramadhan yang juga dilaksanakan di Masjid Agung.

"Ada takjil, pun makan. Tiap hari minimal 50 porsi makan berat. Lalu setiap zuhur ada kultum. Nanti juga ada peringatan Nuzulul Quran," jelas dia.
(zik)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak