alexametrics

Pemprov Sulsel Minta Perusahaan Rekrut Anjal dan Gepeng

loading...
Pemprov Sulsel Minta Perusahaan Rekrut Anjal dan Gepeng
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mengatakan, keberadaan warga mengais rezeki di jalan merupakan paksaan keadaan ekonomi. (ist)
A+ A-
MAKASSAR - Pemerintah Provinsi Sulsel menargetkan sebelum memasuki bulan Puasa, keberadaan anak jalanan (anjal) mau pun gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kota Makassar dapat dihilangkan. Memberi lapangan pekerjaan jadi salah satu solusinya.

Untuk menertibkan keberadaan anjal maupun gepeng, Pemprov Sulsel membentuk tim terpadu bersama Dinas Sosial Kota Makassar. Tim ini diharap dapat segera menjaring anjal maupun gepeng sepanjang April mendatang.

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mengatakan, keberadaan warga mengais rezeki di jalan merupakan paksaan keadaan ekonomi. Sehingga pemerintah harus mencari solusi yang dapat membantu meringankan beban hidup anjal maupun gepeng. Tidak sekadar melakukan penertiban.



"Saya bilang, tidak ada orang mau pergi minta minta-minta, termasuk yang mengais di jalan karena itu kan menurunkan harga diri kita. Apalagi makassar menuju kota dunia, kalau itu tidak bisa dibenahi nanti berubah, apa kata dunia? " ujar Nurdin belum lama ini.

Nurdin juga mengatakan, pemerintah tak dapat menutup mata dengan leberadaan warga difabel yang kerap ditemukan mengemis di jalanan. Padahal menurutnya, undang-undang menjadikan mereka sebagai tanggungjawab negara.

"Makanya saya sampaikan tadi, anak-anaknya yang peminta-minta ini harus ditampung terus disekolahkan. Kalau kendalanya biaya, kita siapin," imbuhnya.

Sementara untuk warga difabel yang kerap mengemis di jalanan, Nurdin meminta peran serta perusahaan di Kota Makassar untuk merekrut mereka sebagai tenaga outsourcing. Misalnya, perusahaan pengeajin tenun, sehingga mereka dapat bekerja di rumah dan perusahaan tinggal menjemput dan mengantar bahannya tiap hari.

"Mereka dapat kerja di rumah seperti menganyam, kan dapat duit. Dan juga kita siapin tunjangan hidup, kan kasihan mereka bisa sampai di kota jalan begitu," kata Nurdin.

Terlepas dari itu. Nurdin menginstruksikan tim terpadu agar segera mendeteksi dan menhadirkan sejumlah aktor yang mengorganisir para anjal dan gepeng di Kota Makassar. Sebab keberadaan oknum pengendali ini akam terus mencari anjal baru meski terus ditertibkan.

Kata Nurdin, para oknum pengendali harus dipaksa membuat surat pernyataan untuk tidak lagi mengkoodinir anjal atau gepeng. "Pokoknya April kita mau tidal ada lagi di Kota Makassar," ujar Nurdin.

Diketahui, berdasarkan data Dinsos Sulsel, keberadaan anjal secara umum dikoordinir beberapa nama dengan wilayah operasi masing-masing, mulai dari terminal, bandara, Pantai Losari hingga di persimpangan jalan. Berdasarkan hasil investigasi Departemen Sosial, setidaknya ada tujuh aktor pengendalinya.

Mereka yakni perempuan inisial (48), yang mengkoordinir anjal dan penjual tisu di wilayah fly over, lalu laki-laki MG (30) mengkoordinir peminta sumbangan panti asuhan abal-abal di wilayah persimpangan bandara, dan modus yang sama kelompok laki-laki DR (51) yang beroperasi di sejumlah tempat dalam kota.

Aktor lainnya perempuan HSN (47) mengkoordinir pengemis di Anjungan Pantai Losari, laki-laki AD (45) menontrol pengemis di wilayah Jalan Boulevard -Pengayoman, perempuan SK (50) mengkoordinir anak di nawah umur mengemis di kawasan Pantai Losasi dan terakhir laki-laki DN (38) mengeksploitasi anak menjual buah tala di tepi Jalan Racing center dan samping PLTU Tello.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulsel Ilham A Gazaling mengatakan, untuk mengentaskan persoalan anjal, pihaknya telah membentuk tim terpadu, melibatkan Dinsos Kota Makassar hingga kepolisian dan TNI. "Kita bentuk tim terpadu untuk menangani anak jalanan termasuk pak ogah. Didalamnya tidak hanya Dinsos Makassar, termasuk dari kabypaten kota lain karena anjal itu banyak berasal dari daerah," katanya.
(nag)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak