Komunitas GSM Gelar Ngkaji Pendidikan di Surabaya

Senin, 27 Mei 2024 - 15:45 WIB
loading...
Komunitas GSM Gelar...
Komunitas GSM menggelar Ngkaji Pendidikan bersama Founder GSM Muhammad Nur Rizal di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (25/5/2024). Foto/Dok. SINDOnews
A A A
SURABAYA - Komunitas Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Jawa Timur menjadi tuan rumah pada Ngkaji Pendidikan bersama Founder GSM Muhammad Nur Rizal. Kegiatan ini digelar di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (25/5/2024).

Dengan edisi spesial Bulan Pendidikan, tema yang dibawakan adalah “Revolusi Guru Indonesia”. Ngkaji Pendidikan dihadiri sekitar 400 peserta yang berasal tidak hanya dari Surabaya, tapi juga dari kota dan kabupaten lain di Jawa Timur. Termasuk juga dari Bali, Pekalongan, Rembang, Semarang, Tangsel, Cirebon, dan berbagai daerah lainnya. Baca juga: Gaji Guru Honorer Masih Rendah, 74 Persen Dibayar di Bawah Rp2 Juta per Bulan

Memilih kata revolusi, alih-alih transformasi sebagai metode perubahan bukanlah tanpa alasan. Revolusi diartikan Muhammad Nur Rizal sebagai perubahan mendasar dari akar rumput, sementara transformasi merupakan perubahan mendasar yang dilakukan dari atas menggunakan kekuatan politik.

Rizal mengajak perubahan mendasar dari diri sendiri yang berkembang menjadi kelompok, lalu, komunitas, dan membesar menjadi kekuatan akar rumput layaknya tokoh-tokoh perjuangan dari Surabaya, seperti HOS Tjokroaminoto, Cak Durasim, dan lain-lain.

“Dari akar katanya pada Bahasa Sanskerta, guru itu terdiri atas Gu dan Ru. Gu itu gelap dan Ru itu pemusnah. Jadi, maknanya adalah pemusnah kegelapan yang tidak hanya membawa jalan terang, tetapi juga harus memusnahkan kegelapan yang dimanifestasikan sebagai kebodohan dan ketidakberdayaan,” katanya.

Menurutnya, secara dimensi fisik, guru mengajarkan jalan-jalan kehidupan yang baik bagi manusia. Secara dimensi spiritualnya, guru mengajarkan jalan-jalan bagi manusia untuk mengetahui siapa dirinya, kelemahan dan kelebihan, asal-usul, dan ke mana hidup manusia akan menuju. ”Definisi guru tidak hanya disempitkan pada pengajar di ruang kelas, tetapi juga guru di alam kehidupan dalam rupa orang tua, budayawan, sastrawan, dan seniman,” tambahnya.

Setelahnya, Rizal membahas tentang bagaimana tereduksinya makna dan marwah seorang guru di Indonesia dari masa ke masa. Dimulai dari guru zaman kolonialisme yang berhasil membentuk sifat idealis, tegas, dan keras.

Orde Lama yang pusat pengajarannya ada pada karakter, moral, dan nilai-nilai. Orde Baru yang pekat akan unsur feodalisme. Sedangkan Zaman Reformasi yang menuai anggapan bahwa insentif bagi guru tidak sejalan dengan kualitas yang ditunjukkan. ”Hingga masa yang sedang kita alami, yaitu era teknologi dan internet yang justeru semakin menjauhkan guru dari marwahnya, guru seolah hanya sekadar menjadi budak teknologi,” tuturnya.

Rizal juga menekankan bahwa masalah terbesar bagi guru saat ini adalah kesulitan untuk lepas dari tirani pikiran lama. Para pendidik sulit untuk menjadi diri sendiri dan menemukan versi terbaik dari dirinya yang secara tidak sadar menjadikan mereka robot-robot manusia kerumunan. Baca juga: Dinilai Berbahaya, Google Hapus Jawaban AI yang Tak Masuk Akal

“Pesan saya, jangan jadi manusia kerumunan. Jadilah manusia yang memiliki nilai hidup sendiri yang dipandu oleh moralitas alamiah, agar kita bisa mencatatkan sejarah dalam lembar kehidupan kita," tandasnya.

Kepala Sekolah SD Negeri 2 Api-api dan pegiat GSM dari Pekalongan C Nuredi berterima kasih atas gelaran Ngkaji Pendidikan di Surabaya itu. ”Ini adalah sebuah revolusi yang berakar dari hati dan jiwa para pendidik: sebuah Revolusi Guru Indonesia yang dipelopori Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM),” ungkapnya.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Taruna Nusantara Cimahi-Redea...
Taruna Nusantara Cimahi-Redea Institute Kerja Sama Peningkatan Kualitas Akademik
PKM di Meruya, UMB Dorong...
PKM di Meruya, UMB Dorong Kompetensi Guru SMK
Inspirasi Lulusan Kampus...
Inspirasi Lulusan Kampus Reformasi, Anwar Hafid Komitmen Wujudkan Pendidikan Berkualitas
Siswa SMA Ejek Guru...
Siswa SMA Ejek Guru di Purwakarta, Pakar Hipnoterapi Soroti Krisis Karakter Remaja
Gubernur Sultra Pastikan...
Gubernur Sultra Pastikan Tunjangan Guru Dibayarkan Sebelum Lebaran
Komitmen Suli Beri Bantuan...
Komitmen Suli Beri Bantuan Seumur Hidup untuk Guru Honorer di Kupang NTT
Hasil Seleksi Administrasi...
Hasil Seleksi Administrasi PPG Guru Tertentu 2026 Diumumkan, Cek Akun SIMPKB!
P2G: Kasus Chromebook...
P2G: Kasus Chromebook Hanya Bagian Kecil, Telusuri Aliran Dana Triliunan
MNC University Gelar...
MNC University Gelar Workshop Penyusunan Modul Ajar untuk Guru Tingkat SD
Rekomendasi
Khotbah Jumat : 5 Pelajaran...
Khotbah Jumat : 5 Pelajaran dalam Pergantian Tahun Baru Hijriyah
EJAE Curi Perhatian...
EJAE Curi Perhatian di Pembukaan Piala Dunia 2026, Bawakan Lagu Resmi FIFA dalam Bahasa Korea
Cut Meyriska dan Roger...
Cut Meyriska dan Roger Danuarta Penuhi Panggilan Polda Metro Jaya Imbas Kasus Hanania Travel
Berita Terkini
Polda Metro Jaya Kawal...
Polda Metro Jaya Kawal Demo Mahasiswa di Jakarta, Aparat Tak Bawa Senpi
Mahasiswa Bakal Demo...
Mahasiswa Bakal Demo di 3 Titik Jakarta, Rekayasa Lalin Diberlakukan Situasional
Latja di Polres Malang,...
Latja di Polres Malang, Taruna Akpol Didorong Pahami Implementasi Program Presisi
Partai Perindo NTT Gandeng...
Partai Perindo NTT Gandeng GMIT, Dorong SNI agar UMKM Naik Kelas
Demo Kenaikan Harga...
Demo Kenaikan Harga Pertamax, Aktivis 98: Ada Pergeseran Orientasi Mahasiswa
Pasar Modal Dapat Sentimen...
Pasar Modal Dapat Sentimen Positif, BRI Siap Melaju dengan Fundamental Kuat
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved