Pilkada Jakarta 2024: Peluang Duet Anies-Ahok di Mata Rektor Universitas Paramadina
Jum'at, 10 Mei 2024 - 22:28 WIB
loading...
A
A
A
Dia menuturkan citra dan persepsi itu hanya dalam beberapa tahun lenyap ketika Anies hadir dalam Pilpres 2024 dengan partai pendukung dari partai-partai nasionalis. Tim pemenangan di kanan kirinya juga datang dari kaum nasionalis, dengan latar belakang agama yang lengkap.
Dalam Pilpres 2024 tidak ada lagi pertarungan citra radikal agama dan radikal sekuler, anti-NKRI, dan rasisme. “Politik dan demokrasi yang terbuka seperti sekarang ini adalah pertanda baik, paling tidak dilihat dari sisi persepsi citra seperti ini kecuali masalah etika dan nepotisme Presiden Jokowi,” ungkap Didik.
Karena itu, gagasan politik menyatukan Anies dan Ahok di Jakarta adalah eksperimen yang baik dan berani membersihkan pencitraan politik menuju polarisasi radikal agama atau radikal sekuler. Radikal sekuler di sini mirip-mirip radikal kiri yang antiagama.
Menurut Didik, peluang Anies dan Ahok bersatu sangat mungkin karena beberapa faktor. Pertama, Anies sejatinya seorang yang religius tetapi tidak radikal seperti yang dipersepsikan ketika hadir dalam Pilkada DKI dulu.
Kedua, Ahok memang temperamental yang kadang-kadang tabu di dalam politik. Namun, sesungguhnya Ahok adalah seorang yang nasionalis dilihat dari sejarah karier politiknya.
Dalam Pilpres 2024 tidak ada lagi pertarungan citra radikal agama dan radikal sekuler, anti-NKRI, dan rasisme. “Politik dan demokrasi yang terbuka seperti sekarang ini adalah pertanda baik, paling tidak dilihat dari sisi persepsi citra seperti ini kecuali masalah etika dan nepotisme Presiden Jokowi,” ungkap Didik.
Karena itu, gagasan politik menyatukan Anies dan Ahok di Jakarta adalah eksperimen yang baik dan berani membersihkan pencitraan politik menuju polarisasi radikal agama atau radikal sekuler. Radikal sekuler di sini mirip-mirip radikal kiri yang antiagama.
Menurut Didik, peluang Anies dan Ahok bersatu sangat mungkin karena beberapa faktor. Pertama, Anies sejatinya seorang yang religius tetapi tidak radikal seperti yang dipersepsikan ketika hadir dalam Pilkada DKI dulu.
Kedua, Ahok memang temperamental yang kadang-kadang tabu di dalam politik. Namun, sesungguhnya Ahok adalah seorang yang nasionalis dilihat dari sejarah karier politiknya.
Lihat Juga :