Bandara Karawang Dinilai Tak Dibutuhkan, Pengamat Transportasi: Khawatir Jadi Kertajati Jilid 2
Jum'at, 26 April 2024 - 21:02 WIB
loading...
A
A
A
“Hingga mau bangun taxi way lagi juga bisa. Bandara Heathrow Inggris dengan luas lahan 1.200 hektar dengan tiga landasan pacu itu memiliki kapasitas penerbangan sekitar 81-83 take off/landing per jam. Sementara Cengkareng itu baru 45 take off/landing. Jadi masih cukup banget. Apalagi kalau dikaitkan dengan target Menhub Budi Karya yang 114 take off/landing untuk Bandara Soehat Cengkareng,” ujarnya tegas.
Ia menyatakan gagal paham dengan niat pemerintah untuk membangun Bandara Karawang, yang lokasi tidak jauh dari Bandara Soekarno Hatta Cengkareng.
“Khawatirnya kan malah jadi Kertajati jilid 2. Tidak laku. Tidak dipakai sama sekali. Apalagi, biaya pembangunannya sampai Rp36 triliun. Sedangkan pembangunan Bandara Kertajati, yang merupakan bandara terbesar kedua di Indonesia, biaya pembangunannya hanya Rp2,8 triliun,” kata BHS.
Ia mengungkapkan, daripada pemerintah membangun bandara di Karawang, akan lebih menguntungkan jika jika membangun bandara di Aceh.
“Jika pemerintah membangun bandara di Aceh maka akan terbuka potensi untuk mengakomodir separuh perjalanan dari Australia ke Asia Timur atau Asia Tenggara hingga ke Eropa, yang saat ini dikuasai oleh Malaysia dan Singapura,” ucapnya.
BHS memaparkan bahwa lokasi bandara di Aceh tepat untuk dijadikan bandara transit, karena jarak tempuhnya adalah separuh dari perjalanan pesawat.
“Kalau di Aceh pasti laku keras. Ngapain bangun di Jawa lagi. Contohnya, Bandara Doho Kediri, tidak ada yang mau kesana. Bandara Doho itu luasnya tidak ada setengah dari Bandara Kertajati tapi biayanya menyentuh Rp11 triliun. Rp3 triliun itu dibiayai oleh pemerintah dan sisanya oleh swasta. Lah Rp3 triliun saja sudah cukup untuk membangun sekelas Kertajati, lalu sisanya buat apa,” ucapnya lagi.
Ia menyatakan gagal paham dengan niat pemerintah untuk membangun Bandara Karawang, yang lokasi tidak jauh dari Bandara Soekarno Hatta Cengkareng.
“Khawatirnya kan malah jadi Kertajati jilid 2. Tidak laku. Tidak dipakai sama sekali. Apalagi, biaya pembangunannya sampai Rp36 triliun. Sedangkan pembangunan Bandara Kertajati, yang merupakan bandara terbesar kedua di Indonesia, biaya pembangunannya hanya Rp2,8 triliun,” kata BHS.
Ia mengungkapkan, daripada pemerintah membangun bandara di Karawang, akan lebih menguntungkan jika jika membangun bandara di Aceh.
“Jika pemerintah membangun bandara di Aceh maka akan terbuka potensi untuk mengakomodir separuh perjalanan dari Australia ke Asia Timur atau Asia Tenggara hingga ke Eropa, yang saat ini dikuasai oleh Malaysia dan Singapura,” ucapnya.
BHS memaparkan bahwa lokasi bandara di Aceh tepat untuk dijadikan bandara transit, karena jarak tempuhnya adalah separuh dari perjalanan pesawat.
“Kalau di Aceh pasti laku keras. Ngapain bangun di Jawa lagi. Contohnya, Bandara Doho Kediri, tidak ada yang mau kesana. Bandara Doho itu luasnya tidak ada setengah dari Bandara Kertajati tapi biayanya menyentuh Rp11 triliun. Rp3 triliun itu dibiayai oleh pemerintah dan sisanya oleh swasta. Lah Rp3 triliun saja sudah cukup untuk membangun sekelas Kertajati, lalu sisanya buat apa,” ucapnya lagi.
Lihat Juga :