alexametrics

Timses Jokowi-Ma'ruf Jabar Mantap Gelar Nobar Film G 30S/PKI

loading...
Timses Jokowi-Maruf Jabar Mantap Gelar Nobar Film G 30S/PKI
Tim Kampanye Daerah (TKD) Joko Widodo-Ma'ruf Amin (Jokowi-Ma'ruf) Provinsi Jabar mantap menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film G 30S/PKI. SINDOnews/Agung Bakti Sarasa
A+ A-
BANDUNG - Meskipun penayangan film G 30S/PKI masih menjadi perdebatan, Tim Kampanye Daerah (TKD) Joko Widodo-Ma'ruf Amin (Jokowi-Ma'ruf) Provinsi Jabar mantap menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film tersebut.

Tim Kampanye Daerah Jokowi-Ma'ruf Amin Provinsi Jabar bahkan mengajak masyarakat Jabar bersama-sama merefleksi peristiwa bersejarah melalui nobar film G 30S/PKI. Kegiatan tersebut diharapkan mampu menghilangkan stigma terkait tuduhan antek PKI terhadap pasangan capres-cawapres yang akan berlaga di Pilpres 2019.

"Kegiatan ini memiliki urgensi yang sangat jelas. Tidak boleh ada lagi tuduhan antek PKI terhadap capres/cawapres. Lalu, kubu ini menuduh bahwa kubu itu fundamentalis, itu tidak boleh ada lagi," tegas Dedi di Kantor DPD Golkar Jabar, Jalan Maskumambang, Kota Bandung, Selasa (25/9/2018).



Dedi yang juga Ketua DPD Partai Golkar Jabar itu menyebutkan, nobar film G 30S/PKI akan digelar di Halaman Kantor DPD Golkar Jabar pada 29 dan 30 September 2018 yang akan dihadiri anggota TKD Jokowi-Ma'ruf Provinsi Jabar, relawan, hingga simpatisan Jokowi-Ma'ruf di Jabar, termasuk seluruh keluarga besar Golkar Jabar.

Dedi melanjutkan, tuduhan soal keberpihakan ideologi "kanan" dan "kiri" menurutnya sangat tidak mendidik calon pemilih. Karena itu, dia mengajak semua pihak untuk lebih mempertajam visi dan misi menuju tatanan program teknis yang dinilainya lebih beradab ketimbang menebar tuduhan.

"Pak Prabowo pernah mencalonkan Jokowi-Ahok di Pilkada Jakarta. Saat itu tidak ada isu komunis kan? Pak Prabowo dan Ibu Megawati pun pernah bareng di Pilpres 2009, juga tidak ada isu komunis. Jadi, masyarakat harus diberikan pendidikan politik, bukan ditakut-takuti," paparnya.

Dedi yang juga anak pensiunan tentara itu menegaskan, fase sejarah kehidupan bangsa tidak boleh dijadikan sebagai alat konflik. Aspek rekonsiliasi dan konsolidasi harus lebih dikedepankan demi kepentingan bangsa dan negara.

"Negara kita punya sejarah, ada sejarah gemilang ada juga sejarah kelam. Nah, sejarah kelam itu jangan sampai terulang lagi. Film G 30S/PKI itu hanya refleksi sejarah, hanya pengingat masa lalu," katanya.
(wib)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak