alexametrics

EPA Dikenal Cerdas, Pernah Juara Olimpiade Mipa dan Fisika

loading...
EPA Dikenal Cerdas, Pernah Juara Olimpiade Mipa dan Fisika
Sejumlah barang bukti didapatkan petugas Polres Kota Blitar terkait aksi nekat remaja putri EPA mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. FOTO/SINDOnews/Ashadi Iksan.
A+ A-
BLITAR - Aksi nekat gantung diri yang dilakukan EPA, siswi SMPN 01 Kota Blitar, membuat terkejut kepala sekolahnya. EPA ternyata cerdas, pernah juara Olimpiade Mipa dan Fisika.
Kepala SMPN 01 Kota Blitar, Katiman mengaku sangat terkejut dengan EPA yang selama ini dikenal cerdas dan berprestasi. Bahkan EPA sering mewakili sekolah mengikuti lomba olimpiade MIPA dan Fisika. "Karenanya kami terkejut mendengar kabar ini," ujarnya, Rabu (30/5/2018).

Informasi yang dihimpun, saat masih sekolah, EPA pernah juara pertama lomba MIPA se eks Karsidenan Kediri. Informasi itu pun dibenarkan Katiman. Nilai akademis EPA juga diatas rata rata.

Kendati demikian yang bersangkutan diakui Katiman memiliki kepribadian tertutup. Jarang, bahkan tidak pernah curhat ketika memiliki masalah. Termasuk adanya permasalahan keluarga. (Baca: Imbas Masalah Keluarga dan Khawatir Gagal Masuk SMA Favorit, EPA Gantung Diri)



Soal ini, kata Katiman, pihak sekolah pernah melakukan pendampingan melalui guru konseling. Pihak sekolah melihat adanya penurunan akademis EPA dibanding ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Sebab sekolah tentu mencari tahu latar belakang keluarga masing masing siswa. Terutama terkait dengan catatan akademisnya," jelasnya.

Terkait dugaan motif zonasi, yakni khawatir gagal masuk SMAN 01 Kota Blitar yang mendorong EPA bunuh diri, Katiman menilai hal itu bisa saja terjadi.

Namun jauh hari pihak sekolah sudah pernah menjelaskan soal zonasi kepada para siswa yang lulus. Bahwa peluang siswa yang berasal dari luar kota faktanya memang lebih kecil dibanding siswa yang tempat tinggalnya satu lokasi dengan sekolah.

Dalam aturan zonasi, kuota penerimanaan untuk siswa luar kota hanya 10 persen. Selebihnya prioritas berlaku bagi siswa dalam kota atau yang berdomisili satu wilayah dengan sekolah.

Namun, kata Katiman, tentu itu bukan persoalan bagi siswa luar kota yang nilanya tinggi. Dalam kasus ini EPA memiliki nilai UAN 35,95 atau rata rata 9 dan 8.

Katiman optimistis EPA masih bisa masuk ke SMAN 01 Kota Blitar. "Kalau itu karena motifnya zonasi, harusnya yang bersangkutan tidak perlu khawatir. Karena melihat nilainya harusnya masuk SMA favorit itu," pungkasnya.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kabupaten dan Kota Blitar Suhartono mengatakan sudah melakukan konfirmasi ke sejumlah pihak, termasuk orang dekat keluarga korban. Intinya motif bunuh diri yang dilakukan EPA bukan karena masalah zonasi. "Saat kejadian, malam itu juga saya ke berbagai pihak. Intinya motif bertindak nekat itu bukan semata mata karena zonasi, " ujarnya.

Suhartono juga melihat hasil nilai ujian EPA relatif bagus. Dengan nilai diatas rata rata itu yang bersangkutan sangat mungkin diterima di sekolah yang diinginkan (SMAN 01 Kota Blitar).

Dengan adanya kasus ini, Suhartono berharap bisa menjadi pelajaran bagi semua orang tua. Khusus terkait sistem zonasi, para orang tuabisa lebih mengetahui melalui sistem online yang telah disediakan di lembaga pendidikan.

Sementara salah seorang teman satu sekolah (SMPN 01 Kota Blitar) korban menuturkan EPA memang sempat mengeluhkan sistem zonasi. Dengan sistem itu dia khawatir tidak bisa masuk ke SMAN 01 Kota Blitar. Sebab bagi EPA dan keluarganya, SMAN 01 merupakan sekolah favorit.
(vhs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak