Peringatan Hari Ibu Harus Dimaknai Sebagai Gerakan Perempuan Indonesia

Jum'at, 22 Desember 2023 - 21:55 WIB
loading...
Peringatan Hari Ibu...
Formatur Ketua Umum Kohati PB HMI Periode 2023-2025 Sri Meisista. Foto: Ist
A A A
JAKARTA - Masyarakat Indonesia setiap tanggal 22 Desember selalu riuh dengan perayaan Hari Ibu . Ucapan peringatan Hari Ibu setidaknya ramai berseliweran di jagat sosial media.

Akan tetapi, sangat disayangkan seringkali peringatan 22 Desember dimaknai sebagai Hari Ibu dengan makna yang sempit. Simplifikasi yang dimaksud adalah mengasosiasikan hanya pada peran perempuan sebagai manusia domestik sebagai penjaga keluarga dan meniadakan peran lain di luar ranah domestik.

Hari Ibu hanya diperuntukkan kepada para ibu yang sebagian besarnya diasosiasikan hanya kepada perempuan yang melahirkan, ibu yang merawat, ibu yang mengorbankan kepentingan pribadi, dan rela mengubur mimpi hanya untuk keluarga, ibu yang tidak enggan mengambil banyak tanggung jawab bekerja demi membantu ekonomi keluarga sekaligus menjadi satu-satunya orang yang harus memastikan kehidupan keluarga berjalan dengan stabil.

Baca juga: Hari Ibu Momentum Tingkatkan Kualitas Perempuan Indonesia

"Pada 22 Desember euforia tentang ibu super masih menjadi topik utama. Ibu yang di satu sisi sukses sebagai profesional pekerja, dan di sisi lain mampu mengatur rumah tetap rapih, anak-anak rajin sekolah dan belajar, tentunya suami terurus dengan baik. Terbayang untuk menjadi ibu yang pantas dirayakan setiap Hari Ibu, membutuhkan pengorbanan dan risiko yang luar biasa berat yang hanya dibebankan kepada perempuan," ujar Formatur Ketua Umum Kohati PB HMI Periode 2023-2025 Sri Meisista, Jumat (22/12/2023).

Menurut dia, pemaknaan yang demikian merupakan normalisasi pada beban ganda terhadap perempuan, dan lebih luas berimplikasi pada langgengnya ketidakadilan terhadap perempuan.

Pertama, hanya mengakui ibu sebagai perempuan yang melahirkan. Setidaknya meski tidak terang-terangan mengatakan demikian, namun seringkali selalu menambahkan kata-kata “sayangnya”, “meskipun/walaupun” kepada para perempuan yang tidak melahirkan. Ini berarti meniadakan identitas ibu yang tidak melahirkan dari rahimnya, dan memberi label menyedihkan kepada perempuan yang tidak mampu melahirkan.

"Padahal tidak dapat dinafikan bahwa begitu banyak perempuan baik di luar sana yang memiliki cinta kasih dan komitmen merawat anak dari keluarga yang tidak beruntung, menjadi donator untuk panti asuhan, membiayai sekolah anak-anak yang tidak mampu dan lain sebagainya. Itu semua merupakan peran ibu merawat dan memastikan anak-anaknya memiliki kehidupan yang layak," katanya.

Kedua, hanya memperuntukkan 22 Desember sebagai perayaan kepada Ibu. Hal ini bergeser dari latar belakang sejarah momentum yang terjadi pada tanggal tersebut. Padahal sejarahnya, 22 Desember 1928 merupakan Kongres Perempuan pertama di Indonesia. Kongres ini melibatkan setidaknya sebanyak 30 organisasi perempuan di Sumatera dan Jawa.

Melalui Kongres tersebut secara kritis para perempuan yang terlibat membicarakan berbagai persoalan serius yang dialami oleh hampir semua perempuan di Indonesia, dan secara bersama memikirkan cara memperjuangkan hak-hak perempuan sehingga nasib perempuan ke depannya akan lebih baik.

Beberapa persoalan yang diangkat menjadi pokok perjuangan pada kongres tersebut antara lain hak dalam perkawinan dan pendidikan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
XLSMART dan Komdigi...
XLSMART dan Komdigi Luncurkan DigiHer, Targetkan Digitalisasi 2,4 Juta Perempuan di 2026
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
Membangun Ekosistem...
Membangun Ekosistem Haji Masa Depan: Ramah Perempuan, Lansia, Difabel dan Lingkungan
Rekomendasi
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Waka BGN Sony Sonjaya...
Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Kejagung Bakal Periksa Pekan Depan
AS Juara Piala Dunia...
AS Juara Piala Dunia 2026, Jeep Siap Bagi-bagi Mobil Wrangler
Berita Terkini
Stafsus Menag Tinjau...
Stafsus Menag Tinjau GKJ Nusukan Solo, Jamin Kebebasan Beribadah
Unjuk Rasa Mahasiswa...
Unjuk Rasa Mahasiswa Bubar, Polisi Mulai Buka Jalan Jenderal Sudirman Arah Bundaran HI
Perumda Dharma Jaya...
Perumda Dharma Jaya Edukasi Ketahanan Pangan ke Siswa SMPN 51 Jakarta
Situ Rompong Tangsel...
Situ Rompong Tangsel Menyusut Tinggal 1,7 Hektare, Warga Duga Ada Maladminsitrasi
Roy Suryo Titip Pesan...
Roy Suryo Titip Pesan ke Massa Aksi Demo: Jangan Disusupi, Aparat Harus Humanis
Ada Demo Mahasiswa,...
Ada Demo Mahasiswa, Rute Transjakarta Dialihkan
Infografis
10 Ikon Kota di Indonesia...
10 Ikon Kota di Indonesia yang Populer sebagai Spot Wisata
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved