Dinkes DKI: Surveilans Kasus Cacar Monyet Minimal hingga 24 November 2023

Senin, 06 November 2023 - 13:32 WIB
loading...
Dinkes DKI: Surveilans...
Dinkes DKI Jakarta masih terus memantau perkembangan kasus cacar monyet. Pemantauan atau surveilans masih perlu dilakukan paling tidak hingga 2 pekan ke depan. Foto: SINDOnews/Dok
A A A
JAKARTA - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta masih terus memantau perkembangan kasus cacar monyet . Pemantauan atau surveilans masih perlu dilakukan paling tidak hingga dua pekan ke depan.

"Perlu terus dipantau penambahan kasus positif cacar monyet di Jakarta dan Indonesia minimal sampai dengan 24 November 2023," ujar Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Ngabila Salama,, Senin (6/11/2023).

Ia menjelaskan, durasi pemantauan dilakukan berdasarkan prediksi inkubasi virus cacar monyet. "Dua kali masa inkubasi terpanjang atau enam minggu dari 13 Oktober 2023 kasus transmisi lokal pertama ditemukan di Indonesia," jelasnya.

Menurut Ngabila surveilans kasus penyakit cacar monyet akan dilakukan di tempat-tempat ramai dengan mobilitas tinggi. "Surveilans dikencangkan terutama pada perkotaan tempat mobilitas dan aktivitas tinggi," tandasnya.

Baca Juga: Di mana Kasus Cacar Monyet Terdeteksi di Jakarta? Ini Sebaran Wilayahnya

Ngabila menyebutkan tidak ada penambahan kasus cacar monyet di Jakarta dalam dua hari terakhir. Ia berharapan agar kasus cacar monyet ini tidak meluas ke daerah lain di luar Jakarta.

Sebagaimana diketahui, pasien positif cacar monyet di DKI Jakarta merupakan laki-laki usia produktif antara 25-50 tahun.

Meskipun sumber penyakit awalnya berasal dari luar negeri, namun hasil penelusuran Kementerian Kesehatan RI diketahui pasien juga merupakan Orang Dengan HIV (ODHIV) dan memiliki orientasi biseksual.

Penderita cacar monyet pada umumnya memiliki faktor perilaku seks berisiko (homo seksual dan seks bebas) dengan ciri-ciri muncul lesi dan ruam kemerahan, dan diikuti dengan demam, pembesaran kelenjar getah bening, nyeri tenggorokan, myalgia, ruam, dan sulit menelan.

Penularan terjadi dari manusia ke manusia karena kontak langsung dengan cairan tubuh atau lesi kulit orang yang terinfeksi.
(thm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kemenkes Pastikan Dua...
Kemenkes Pastikan Dua Suspek Hantavirus di Indonesia Sudah Negatif dan Sembuh
Awas! Hantavirus Sudah...
Awas! Hantavirus Sudah Sampai di Singapura, 2 Warga Diisolasi
Ahli Epidemiologi Sebut...
Ahli Epidemiologi Sebut Indonesia Punya Peluang Cegah Virus Hanta, Begini Caranya
Rekomendasi
Dokter Ungkap Bahaya...
Dokter Ungkap Bahaya Gula Berlebihan pada Anak, Bisa Turunkan Kecerdasan
Indonesia Lolos Dramatis...
Indonesia Lolos Dramatis ke Semifinal Piala AFF U-19 usai Tekuk Vietnam
KPK Sebut Penerimaan...
KPK Sebut Penerimaan Murid Baru Masih Dibayangi Pungli
Berita Terkini
12 Wilayah Indonesia...
12 Wilayah Indonesia Siaga Tsunami Pascagempa M7,7 yang Berpusat di Filipina
Peringatan Dini Tsunami...
Peringatan Dini Tsunami di Sulut, Gorontalo, Sulteng, Malut, Kaltim Pasca Gempa M7,7
3 Yayasan Sah di Bawah...
3 Yayasan Sah di Bawah UIN Jakarta, Pengacara: Klaim Sepihak Akan Berdampak Hukum
Imigrasi Semarang Bongkar...
Imigrasi Semarang Bongkar Praktik Love Scamming, Tangkap 4 WNA China
Keluhkan Bongkar Muat...
Keluhkan Bongkar Muat Batu Bara di Laut, Nelayan Pulau Ampel: Jadi Susah Tangkap Ikan
Makin Fleksibel! Keliling...
Makin Fleksibel! Keliling Dunia Nggak Masalah, Daftar BRImo Kini Bisa dari 15 Negara
Infografis
Menkum Usulkan Amnesti...
Menkum Usulkan Amnesti 44.000 Napi Kasus ITE hingga Terkait Papua
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved