Kisah Perjalanan Spiritual Pangeran Diponegoro Bertapa di Pesisir Selatan Yogya

Kamis, 05 Oktober 2023 - 05:54 WIB
loading...
Kisah Perjalanan Spiritual...
Sosok Pangeran Diponegoro versi AI. Foto/Instagram @ainusantara
A A A
Pangeran Diponegoro muda memulai perjalanan spiritualnya di usia 20 tahun. Sang pangeran bertapa di gua pesisir laut selatan sambil melakukan perjalanannya dari Tegalrejo menuju laut selatan dan sejumlah pondok pesantren.

Pangeran Diponegoro melakukan perjalanan sekitar bulan April 1805 dalam persiapan ziarah ke pantai selatan. Sebelum ke pantai selatan, Diponegoro melakukan serangkaian kunjungan ke masjid dan pesantren di Yogyakarta.

Pentingnya kunjungan itu untuk melengkapi pendidikannya sebagai santri dan untuk mengenali guru yang pantas membimbing perkembangan keagamaannya ke tingkatan lebih lanjut.

Baca Juga: Kekebalan Pangeran Diponegoro Hilang Usai Bersenang-senang dengan Perempuan Muda

Peter Carey pada bukunya “Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 -1855” mengisahkan Pangeran Diponegoro juga mengganti namanya menjadi Syekh Ngabdurahim, yang ia pakai selama perjalanan dengan tujuan agar ia tidak dikenali orang.

Nama ini diambil dari bahasa Arab Shaykh Abd al Rahim, yang kemungkinan diusulkan oleh salah satu penasihat spiritualnya di Tegalrejo. Penggunaan nama islam seperti itu bukan sesuatu yang luar biasa di kalangan pangeran Jawa pada masa itu.

Pangeran Dipowijoyo I, putra Sultan Pertama pun mengubah namanya menjadi Pangeran Muhammad Abubakar, saat bersiap diri menunaikan ibadah haji ke Mekkah pada 1810.

Sebelum perjalanan ini, Diponegoro mencukur rambutnya agar selama berkelana ke pesantren - pesantren tidak menarik perhatian para santri.

Baca Juga: Kisah Lembu Ampal Ajudan Pribadi Penguasa Singasari yang Gagal Jalankan Tugas Pembunuhan

Pangeran Diponegoro seorang kasta tertinggi dan orang yang dihormati memilih untuk menyamar dengan mengenakan pakaian biasa, sehingga hanya sedikit orang yang dapat mengenalinya.

Busana pakaian kepangeranannya ia tanggalkan, lalu ia berganti busana Jawa berkerah tinggi dengan selendang yang dililitkan di pinggang dan penutup kepala dari batik tulis, dengan busana sehari - hari kaum santri abad ke – 18.

Yaitu kain sarung kasar yang dipadu dengan baju putih, tanpa kancing dan baju tak berkerah, dengan surban hijau atau putih sebagai penutup kepala.Babad Diponegoro mencatat perjalanan dari Tegalrejo dan memulai kehidupan sebagai santri.

Dia berkelana dengan mengunjungi pesantren - pesantren dan masjid - masjid. Di sana Diponegoro hidup bersama para santri biasa. Tetapi tidak bisa dipastikan pesantren mana saja yang pernah dikunjungi Diponegoro.

Baca Juga: Kisah Tohjaya Anak Kandung Ken Arok yang Membunuh Raja Singasari Kedua

Tetapi boleh jadi beberapa wilayah selatan Yogyakarta, seperti Gading, Grojokan, Sewon, Wonokromo, Jejeran, Turi, Pulo Kadang, termasuk dua pathok negari, Kasongan dan Dongkelan.

Konon Diponegoro juga sempat menelusuri daerah pedalaman, menuju kompleks pemakaman raja - raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta. Di Bengkung, di tepi kolam di puncak tangga besar menuju makam raja - raja, ia menghabiskan waktu satu minggu untuk bersemedi.

Kemudian Diponegoro juga mengikuti salat Jumat di Masjid Jimatan, dan para juru kunci masjid itu, yang dikenal sebagai jimat, menjaga makam raja - raja yang letaknya 100 meter di bawah puncak Bukit Imogiri.

Meski sedang menjadi pengelana berpenampilan lusuh, Diponegoro menceritakan bahwa para juru kunci itu langsung mengenali dirinya dan memberinya penghormatan dengan segala apa yang mereka miliki.

Hal ini menunjukkan bahwa betapa Diponegoro dikagumi oleh petugas keagamaannya. Banyak dari mereka kemudian mendukung Diponegoro dan turut serta selama Perang Jawa.
(ams)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
Pasukan Intelijen Mematikan...
Pasukan Intelijen Mematikan Dom Sumurup Ing Banyu, Telik Sandi Mataram yang Habisi Jenderal VOC JP Coen
Diponegoro Hero, Film...
Diponegoro Hero, Film AI yang Hidupkan Kembali Api Perjuangan Pahlawan Jawa
Pangdam Diponegoro Resmikan...
Pangdam Diponegoro Resmikan Gereja Oikumene dan Fasilitas Satuan, Wujud Toleransi dan Persatuan
Banjir Rob Akibat Fase...
Banjir Rob Akibat Fase Bulan Purnama hingga 31 Juli, Ini Wilayah Pesisir yang Wajib Waspada
Rekomendasi
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
UU Polri Baru Akomodasi...
UU Polri Baru Akomodasi Penyetaraan Hak dan Humanis Tangani Unjuk Rasa
Mandatori B50 Buka Peluang...
Mandatori B50 Buka Peluang Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Energi Bersih
Berita Terkini
Almamater Lima Soroti...
Almamater Lima Soroti Dugaan Penyusutan Lahan Taman Potret Tangerang
Dokter Tifa Pakai Kursi...
Dokter Tifa Pakai Kursi Roda hingga Dibopong usai Pemeriksaan Kesehatan di RS Polri
Kurang dari 12 Jam,...
Kurang dari 12 Jam, Satreskrim Polres Pelalawan Tangkap Perampok Sadis
Program Ketahanan Pangan,...
Program Ketahanan Pangan, Puluhan Hektare Sawah di Batang Ditanami Padi Hasil Riset
Dina Masyusin Salurkan...
Dina Masyusin Salurkan Bantuan Kursi Roda untuk Warga Rawa Buaya
Petani dan Pelaku UMKM...
Petani dan Pelaku UMKM Sumut, Riau, hingga Aceh Kirim Hasil Kerajinan Lidi ke China
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved