Momen Kesetiaan Rakyat Dibalas Raja Kediri Jayabaya dengan Pembebasan Bayar Pajak
Rabu, 30 Agustus 2023 - 06:21 WIB
loading...
Petilasan Jayabaya. Selama 177 tahun Kerajaan Kediri berdiri (1045 M-1222 M) ada 8 raja yang berkuasa, salah satunya adalah Sri Aji Jayabaya yang membawa pada masa keemasan. Foto/Sejarahraja
A
A
A
KEDIRI - Jayabaya menjadi raja termasyur dan terbesar di Kerajaan Kediri. Sosoknya mampu mengantarkan kerajaan yang warisan Airlangga ini ke masa kejayaan. Menariknya ada satu kebijakan Jayabaya yakni menjadikan satu wilayah sebagai tanah perdikan.
Hal ini tercermin usai peperangan yang melibatkan antara Kerajaan Panjalu dengan Janggala. Kedua kerajaan ini sebelumnya memang dianugerahkan Airlangga keturunan Dharmawangsa Teguh, dari Kerajaan Mataram untuk kedua anaknya.
Seiring berjalannya waktu dua kerajaan sang anak ini justru saling berebut kekuasaan hingga terjadi peperangan.
Tak terkecuali ketika memasuki masa Jayabaya bertakhta di Daha, ibu kota kerajaan. Saat itu, sang raja sebagaimana diuraikan pada Prasasti Ngantang bertarikh 7 September 1135, mengisahkan kecintaan rakyatnya ke Jayabaya.
Baca Juga: Kisah Sunan Kalijaga Luruhkan Murka Sultan Agung dengan Serban Hitam
Sebagaimana dikutip dari “Tafsir Sejarah Negarakretagama” karangan Prof. Slamet Muljana disebutkan bagaimana prasasti itu menggambarkan pertalian dengan anugerah tanah perdikan Ngantang kepada penduduk Desa Ngantang.
Hal ini tercermin usai peperangan yang melibatkan antara Kerajaan Panjalu dengan Janggala. Kedua kerajaan ini sebelumnya memang dianugerahkan Airlangga keturunan Dharmawangsa Teguh, dari Kerajaan Mataram untuk kedua anaknya.
Seiring berjalannya waktu dua kerajaan sang anak ini justru saling berebut kekuasaan hingga terjadi peperangan.
Tak terkecuali ketika memasuki masa Jayabaya bertakhta di Daha, ibu kota kerajaan. Saat itu, sang raja sebagaimana diuraikan pada Prasasti Ngantang bertarikh 7 September 1135, mengisahkan kecintaan rakyatnya ke Jayabaya.
Baca Juga: Kisah Sunan Kalijaga Luruhkan Murka Sultan Agung dengan Serban Hitam
Sebagaimana dikutip dari “Tafsir Sejarah Negarakretagama” karangan Prof. Slamet Muljana disebutkan bagaimana prasasti itu menggambarkan pertalian dengan anugerah tanah perdikan Ngantang kepada penduduk Desa Ngantang.
Lihat Juga :