5 Fakta LRT Jabodebek yang Akan Diuji Coba 12 Juli 2023
Selasa, 11 Juli 2023 - 08:59 WIB
loading...
A
A
A
Kereta LRT Jabodebek menggunakan lebar gandar 1.435 mm dengan sumber listrik disalurkan melalui rel ketiga. Setiap rangkaian dapat mengangkut hingga 740 penumpang ketika normal dan hingga 1.300–1.500 penumpang dalam kondisi padat.
![5 Fakta LRT Jabodebek yang Akan Diuji Coba 12 Juli 2023]()
Pembangunan konstruksi jembatan LRT Jabodebek menggunakan LRB atau Bantalan Karet Inti Timbal. Konstruksi ini merupakan komponen infrastruktur yang berfungsi sebagai seismic isolator atau peredam gempa, karena memiliki kemampuan redaman yang tinggi. Dengan komponen ini, gempa tidak akan terlalu terasa.
LRT Jabodebek juga menggunakan teknologi U-Shape Girder sebagai pondasi stuktur bangunan. Teknologi U – Shape Girder merupakan gelagar dengan cetakan beton berbentuk huruf U. U- Shape Girder memiliki keunikan dibandingkan dengan girder lainnya, yakni bentuknya tipis dan ramping.
U- Shape Girder ini untuk pertama kalinya digunakan di Indonesia yang diproduksi Pabrik Precast milik PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Teknologi yang diadopsi dari Perancis ini memiliki beberapa keuntungan. Salah satunya kecepatan dalam proses pembangunan. Hal ini tentu sangat efisien dalam waktu dan biaya, sehingga dalam proses pembangunan tidak perlu memakan waktu lama.
![5 Fakta LRT Jabodebek yang Akan Diuji Coba 12 Juli 2023]()
LRT Jabodebek dibuat dengan sepenuhnya menggunakan jalur layang atau elevated. Tidak ada jalur melintasi bawah atau di atas permukaan tanah langsung. Pertimbangan jalur LRT Jabodebek dibuat sepenuhnya melayang yakni kemacetan dan keamanan.
Jalur melayang tidak menganggu arus lalu lintas yang sudah ada. Dengan jalur LRT juga bisa meminimalisir resiko tabrakan dengan kendaraan lain.
LRT Jabodebek terdiri atas tiga lintas pelayanan, yakni lintas pelayanan Cawang–Cibubur, Cawang–Dukuh Atas, dan Cawang–Bekasi Timur. Sebagian besar ruas dari ketiga lintas pelayanan dalam tahap satu memiliki rute yang berada di tepi jalan tol dengan konstruksi layang.
4. LRT Jabodebek Gunakan Konstruksi Anti-Gempa

Pembangunan konstruksi jembatan LRT Jabodebek menggunakan LRB atau Bantalan Karet Inti Timbal. Konstruksi ini merupakan komponen infrastruktur yang berfungsi sebagai seismic isolator atau peredam gempa, karena memiliki kemampuan redaman yang tinggi. Dengan komponen ini, gempa tidak akan terlalu terasa.
LRT Jabodebek juga menggunakan teknologi U-Shape Girder sebagai pondasi stuktur bangunan. Teknologi U – Shape Girder merupakan gelagar dengan cetakan beton berbentuk huruf U. U- Shape Girder memiliki keunikan dibandingkan dengan girder lainnya, yakni bentuknya tipis dan ramping.
U- Shape Girder ini untuk pertama kalinya digunakan di Indonesia yang diproduksi Pabrik Precast milik PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Teknologi yang diadopsi dari Perancis ini memiliki beberapa keuntungan. Salah satunya kecepatan dalam proses pembangunan. Hal ini tentu sangat efisien dalam waktu dan biaya, sehingga dalam proses pembangunan tidak perlu memakan waktu lama.
5. Jalur LRT Jabodebek Full Elevated

LRT Jabodebek dibuat dengan sepenuhnya menggunakan jalur layang atau elevated. Tidak ada jalur melintasi bawah atau di atas permukaan tanah langsung. Pertimbangan jalur LRT Jabodebek dibuat sepenuhnya melayang yakni kemacetan dan keamanan.
Jalur melayang tidak menganggu arus lalu lintas yang sudah ada. Dengan jalur LRT juga bisa meminimalisir resiko tabrakan dengan kendaraan lain.
LRT Jabodebek terdiri atas tiga lintas pelayanan, yakni lintas pelayanan Cawang–Cibubur, Cawang–Dukuh Atas, dan Cawang–Bekasi Timur. Sebagian besar ruas dari ketiga lintas pelayanan dalam tahap satu memiliki rute yang berada di tepi jalan tol dengan konstruksi layang.
(thm)
Lihat Juga :