Kisah Kerajaan Mataram Kehilangan Wilayah Kekuasaan di Pulau Kalimantan pada Masa Amangkurat I

Senin, 19 Juni 2023 - 09:51 WIB
loading...
Kisah Kerajaan Mataram...
Beberapa wilayah di luar pulau, salah satunya Kalimantan mulai melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Mataram. Ini terjadi pada masa kekuasaan Raja Sultan Amangkurat I. Foto ilustrasi
A A A
Beberapa wilayah di luar pulau, salah satunya Kalimantan mulai melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Mataram. Ini terjadi pada masa kekuasaan Raja Sultan Amangkurat I. Lepasnya Kalimantan ini menyusul wilayah Blambangan yang akhirnya juga terlepas dari kekuasaan Mataram.



Sukadana yang menjadi wilayah kekuasaan Mataram memilih melepaskan diri. Menurut Babad Sangkala 1575 J atau mulai 2 Desember 1652, utusan-utusan rakyat Sukadana ketika itu berdatang sembah kepada Mataram (Wong Sokadana seba mring Mataram). Tahun berikutnya mulai pada tanggal 22 November 1653, rakyat Siam juga berbuat demikian. Baca juga: Kisah Raja Mataram Sultan Amangkurat I Berseteru dengan Kerajaan Banten

H.J. De Graaf pada bukunya "Disintegrasi Mataram : Dibawah Mangkurat I", mengisahkan bagaimana Babad Momana mencatat setahun kemudian terjadinya perang dengan Sukadana dan Siam, prang Sokadana, prang Siyem). Yang pertama masuk akal. Orang-orang Siam yang berdatang sembah itu mungkin pedagang-pedagang pembeli kuda.

Pada tahun-tahun 1656-1657 Sukadana masih dianggap sebagai bagian dari Kerajaan Mataram, karena Ngabei Wangsaraja, penguasa Semarang, diberi tugas mengawasi daerah tersebut. Sukadana dikuasai seorang pangeran.

Tetapi beberapa tahun kemudian Raja Mataram Sultan Amangkurat I konon menjadi sangat marah, karena baik Banjarmasin maupun Sukadana tidak datang bersembah kepadanya. Sebagai kebalikan, mencolok perilaku Kapten Moor di Batavia, yang memberikan segala apa yang diminta Sunan.

Memang ada alasan bagi Sunan untuk merasa khawatir. Selama pedagang Evert Michielsen singgah di Banjarmasin pada bulan Mei 1661, muncullah di sana dua orang utusan, yaitu dari Sukadana dan Johor. Kerajaan Sukadan dan Martapura membentuk persekutuan ofensif dan defensif untuk melawan Sultan Amangkurat I yang tidak lagi menerima sembah dari Banjar.

Secara resmi, kedua kerajaan Kalimantan itu pada tahun 1659 menghentikan pemberian sembahnya kepada Sunan. Dapat dimengerti bahwa Sukadana, yang paling lemah, mencari dukungan dari Banjarmasin supaya dapat lebih baik mempertahankan diri dari serangan Mataram. Baca juga: Kisah Perdamaian Mataram dengan Belanda di Era Sultan Amangkurat I

Pada bulan Juli tahun 1668 masih terdengar desas-desus di Jepara bahwa Sunan akan memerangi raja Kalimantan dan untuk itu semua pelabuhan besar harus mempersiapkan kapal-kapal perang. Selain Kalimantan, ada juga wilayah Jambi yang akan diperanginya, jika mereka tidak segera datang untuk memberi semba

Ketika itu masih hidup anggapan bahwa kedua kerajaan itu masih di bawah kekuasaan Mataram. Tetapi ternyata pula dari berita ini bahwa mereka sudah lama meninggalkan sikap kepatuhannya pada Sunan. Mobilisasi pelabuhan-pelabuhan lautnya hanya merupakan gertak sambal sang raja belaka.
(don)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pasukan Intelijen Mematikan...
Pasukan Intelijen Mematikan Dom Sumurup Ing Banyu, Telik Sandi Mataram yang Habisi Jenderal VOC JP Coen
Pangeran Sambernyawa...
Pangeran Sambernyawa Pimpin Pasukannya dengan Semboyan Tiji Tibeh, Bikin Belanda Kocar-kacir
Kebut Penyaluran BLT...
Kebut Penyaluran BLT Kesra 2025 di Mataram, Pos Indonesia Lakukan Ini
Kisah Strategi Cerdik...
Kisah Strategi Cerdik Panembahan Senopati Bikin Pasukan Pajang Kabur dari Mataram
Rebutan Takhta hingga...
Rebutan Takhta hingga Wanita Jadi Penyebab Pemberontakan Berdarah Era Kalingga dan Mataram
Janji Politik Raja Mataram...
Janji Politik Raja Mataram Bangun Tempat Penyeberangan di Tepi Sungai Bengawan Solo
BEM PTNU Gelar Mukernas...
BEM PTNU Gelar Mukernas 2025, Presidium Nasional Tekankan Kolaborasi Gerakan
Anomali Krida Toyota:...
Anomali Krida Toyota: Menyulap Dealer 6 Hektar Jadi Resor Otomotif dan Markas Balap Mandalika
Di Panggung FORNAS VIII,...
Di Panggung FORNAS VIII, NTB Dapat Sinyal Positif dari Menpora untuk PON 2028
Rekomendasi
Kapolri Akui Polri Belum...
Kapolri Akui Polri Belum Sempurna, Janji Terima Semua Kritik dan Masukan
10 Rahasia Fajri TV...
10 Rahasia Fajri TV Push Rank Free Fire, Dijamin Peluang Booyah Makin Besar!
Sinopsis Tobat Jatuh...
Sinopsis 'Tobat Jatuh Cinta Eps 10 Rabu: Hubungan Mila dan Jaka Semakin Memanas
Berita Terkini
Video Detik-detik Penangkapan...
Video Detik-detik Penangkapan Roy Suryo Diputar di Sidang Praperadilan
Bea Cukai Ngurah Rai-Polda...
Bea Cukai Ngurah Rai-Polda Bali Gagalkan Peredaran 937 Butir Narkoba Jenis Mephedrone
Hadapi Pemilu 2029,...
Hadapi Pemilu 2029, DPC PPP Lebak Bidik Gen Z lewat Strategi Kreatif dan Inklusif
Banjir Tapanuli Tengah...
Banjir Tapanuli Tengah Jadi Alarm, YSSC Desak Gerakan Nyata Pulihkan Hutan
Prabowo Beri Penghargaan...
Prabowo Beri Penghargaan Nugraha Sakanti ke Polda Riau, Kapolda: Milik Seluruh Personel
Melirik Geliat Transformasi...
Melirik Geliat Transformasi Digital dan Rahasia Transaksi Aman Masyarakat Kediri
Infografis
6 Pulau yang Jadi Target...
6 Pulau yang Jadi Target Invasi Darat AS di Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved