Tandatangani Kerjasama Budaya Jawa-Bali, Ganjar: Pemimpin Harus Siap Diinjak Rakyat
Jum'at, 16 Juni 2023 - 21:02 WIB
loading...
A
A
A
Prinsip kedua adalah matahari. Di mana pemimpin memberikan energi dan membuka kesadaran. Matahari juga menyinari dan mendorong kolaborasi, memberikan semangat ke rakyat agar bersemangat. Diberikannya contoh bagaimana kemampuan pemimpin sebagai matahari. Yakni adalah ketika terjadi pandemi Covid-19.
"Ketika semuanya stres, tidak ada ilmunya, semuanya harus melakukan improvement. Dan kalau tidak teguh seperti matahari yang menyinari, enggak bisa memberikan energi, pasti semua sudah loyo," ujarnya.
Sifat ketiga adalah bulan yang memberikan ketentraman, dan kedamaian meski di tengah kegelapan. Damai, tenang, tidak panas, orang akan merasakan senang dan bahagia. Keempat adalah bintang, ciri pemimpin yang mampu menjadi penunjuk arah di tengah kegelapan dan mampu memberikan inspirasi. Ada keteguhan di sana.
Baca juga: Kades dan Anggota DPRD Jadi Tersangka Carok Massal Bangkalan
"Saya dididik di sekolah, di keluarga dan di partai, maka kalau kita mau belajar keteguhan, belajar dari Bu Mega. Kurang apa coba beliau menyiapkan diri, tahun 1996 digempur habis-habisan. Ibu Mega masuk kualifikasi Hasta Brata, tenang, tidak marah, melawan dengan konstitusi. Dan kepercayaan (rakyat) itu ada sejak saat itu sampai dengan hari ini. Itu keteguhan," ucapnya.
Sifat selanjutnya adalah langit, pemimpin yang mampu menaungi dan melindungi karena memiliki pengetahuan yang luas, dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Bagi Ganjar, kepemimpinan ke depan harus mempertimbangkan ilmu-ilmu berkembang yang sangat luas. Sebab dunia terus berubah, dan kekuatan dunia yang baru terus bermunculan.
"Hari ini ada negara yang kuat dengan budayanya sendiri, membangun sistemnya sendiri dan kuat, yakni Rusia, Tiongkok, dan India. Maka berikutnya kita mesti mengejar mimpi kita di 2045, Indonesia mesti berikutnya," kata Ganjar.
Keenam adalah sifat angin yang selalu meniup sepoy-sepoy dan masuk ke dalam; pemimpin itu mampu berada dimana saja, dengan siapa saja, kapan saja serta pengaruhnya bisa langsung dirasakan. Ganjar menyontohkan sosok Bung Karno
"Ketika semuanya stres, tidak ada ilmunya, semuanya harus melakukan improvement. Dan kalau tidak teguh seperti matahari yang menyinari, enggak bisa memberikan energi, pasti semua sudah loyo," ujarnya.
Sifat ketiga adalah bulan yang memberikan ketentraman, dan kedamaian meski di tengah kegelapan. Damai, tenang, tidak panas, orang akan merasakan senang dan bahagia. Keempat adalah bintang, ciri pemimpin yang mampu menjadi penunjuk arah di tengah kegelapan dan mampu memberikan inspirasi. Ada keteguhan di sana.
Baca juga: Kades dan Anggota DPRD Jadi Tersangka Carok Massal Bangkalan
"Saya dididik di sekolah, di keluarga dan di partai, maka kalau kita mau belajar keteguhan, belajar dari Bu Mega. Kurang apa coba beliau menyiapkan diri, tahun 1996 digempur habis-habisan. Ibu Mega masuk kualifikasi Hasta Brata, tenang, tidak marah, melawan dengan konstitusi. Dan kepercayaan (rakyat) itu ada sejak saat itu sampai dengan hari ini. Itu keteguhan," ucapnya.
Sifat selanjutnya adalah langit, pemimpin yang mampu menaungi dan melindungi karena memiliki pengetahuan yang luas, dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Bagi Ganjar, kepemimpinan ke depan harus mempertimbangkan ilmu-ilmu berkembang yang sangat luas. Sebab dunia terus berubah, dan kekuatan dunia yang baru terus bermunculan.
"Hari ini ada negara yang kuat dengan budayanya sendiri, membangun sistemnya sendiri dan kuat, yakni Rusia, Tiongkok, dan India. Maka berikutnya kita mesti mengejar mimpi kita di 2045, Indonesia mesti berikutnya," kata Ganjar.
Keenam adalah sifat angin yang selalu meniup sepoy-sepoy dan masuk ke dalam; pemimpin itu mampu berada dimana saja, dengan siapa saja, kapan saja serta pengaruhnya bisa langsung dirasakan. Ganjar menyontohkan sosok Bung Karno
Lihat Juga :