Jabar Saber Hoaks Jaring Ribuan Kabar Bohong Selama Pandemi COVID-19
Rabu, 22 Juli 2020 - 13:51 WIB
loading...
Foto ilustrasi/dok/SINDOnews
A
A
A
BANDUNG - Tim Jawa Barat Sapu Bersih Hoaks (Jabar Saber Hoaks) menjaring ribuan kabar bohong (hoaks) selama pandemi COVID-19 yang mengakibatkan kepanikan masyarakat. Koordinator JSH Retha Aquila Rahadian mengatakan, sejak Januari 2020 hingga Juni 2020, pihaknya menerima 2.881 aduan masyarakat soal COVID-19.
Sebanyak 1.855 aduan di antaranya merupakan hoaks setelah diklarifikasi. Menurutnya, persebaran hoaks COVID-19 tergolong cepat karena beredar melalui media sosial dan aplikasi percakapan. "Setelah kami klarifikasi, 1.855 aduan adalah hoaks, sisanya benar. Puncak aduan ada di bulan Maret. Untuk April dan Mei sudah turun. Juli sudah mulai melandai," sebut Retha, Rabu (22/7/2020).
Jabar Saber Hoaks, lanjut Retha, membuka banyak kanal untuk memudahkan masyarakat menyampaikan aduan. Selain melalui media sosial, pihaknya juga menyediakan nomor hotline yang dapat diakses masyarakat. (Baca: Heboh Vaksin COVID-19 Asal China, Ini Penjelasan Bio Farma)
Dia juga mengatakan, tema hoaks terus berganti dari waktu ke waktu. Jika pada awal pandemi hoaks membicarakan soal kebijakan karantina wilayah atau lockdown, kini hoaks didominasi terkait penanganan COVID-19, salah satunya hoaks tentang penyemprotan racun pembasmi COVID-19 melalui helikopter.
"Masyarakat harus lebih teliti dan kritis. Kritis dalam arti penasaran, apakah informasi ini benar atau tidak. Kemudian, jangan sembarang meneruskan informasi yang belum dipastikan kebenarannya," sarannya.
Sementara itu, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba) Santi Indra Astuti memaparkan sejumlah dampak buruk dari hoaks. Pertama, merusak ekosistem informasi yang memicu kebingungan di masyarakat karena masyarakat tidak bisa membedakan mana informasi yang valid dan tidak.
"Belakangan ketahuan informasinya tidak valid alias hoaks, tapu energi terlanjur tercurah untuk mengurusi informasi yang tidak benar," jelasnya. Menurut Santi, hoaks dapat membuat masyarakat salah mengambil keputusan, khususnya terkait COVID-19.
Sebanyak 1.855 aduan di antaranya merupakan hoaks setelah diklarifikasi. Menurutnya, persebaran hoaks COVID-19 tergolong cepat karena beredar melalui media sosial dan aplikasi percakapan. "Setelah kami klarifikasi, 1.855 aduan adalah hoaks, sisanya benar. Puncak aduan ada di bulan Maret. Untuk April dan Mei sudah turun. Juli sudah mulai melandai," sebut Retha, Rabu (22/7/2020).
Jabar Saber Hoaks, lanjut Retha, membuka banyak kanal untuk memudahkan masyarakat menyampaikan aduan. Selain melalui media sosial, pihaknya juga menyediakan nomor hotline yang dapat diakses masyarakat. (Baca: Heboh Vaksin COVID-19 Asal China, Ini Penjelasan Bio Farma)
Dia juga mengatakan, tema hoaks terus berganti dari waktu ke waktu. Jika pada awal pandemi hoaks membicarakan soal kebijakan karantina wilayah atau lockdown, kini hoaks didominasi terkait penanganan COVID-19, salah satunya hoaks tentang penyemprotan racun pembasmi COVID-19 melalui helikopter.
"Masyarakat harus lebih teliti dan kritis. Kritis dalam arti penasaran, apakah informasi ini benar atau tidak. Kemudian, jangan sembarang meneruskan informasi yang belum dipastikan kebenarannya," sarannya.
Sementara itu, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba) Santi Indra Astuti memaparkan sejumlah dampak buruk dari hoaks. Pertama, merusak ekosistem informasi yang memicu kebingungan di masyarakat karena masyarakat tidak bisa membedakan mana informasi yang valid dan tidak.
"Belakangan ketahuan informasinya tidak valid alias hoaks, tapu energi terlanjur tercurah untuk mengurusi informasi yang tidak benar," jelasnya. Menurut Santi, hoaks dapat membuat masyarakat salah mengambil keputusan, khususnya terkait COVID-19.
Lihat Juga :