Profil Haji Bokir, Seniman Betawi yang Diabadikan Jadi Nama Jalan di Jakarta Timur
Sabtu, 09 Juli 2022 - 09:13 WIB
Bokir lahir pada 25 Desember tahun 1923 di Ciomas, Kabupaten Bogor. Haji Bokir telah wafat pada 18 Oktober tahun 2002 silam di umurnya yang ke-78. Orang tuanya bernama Mak Kinang dan Dji'un.
Haji Bokir memiliki tiga saudara yakni, H. Na'ih bin Dji'un, H. Dalih bin Dji'un dan H. Kisam bin Dji'un. Bokir juga merupakan paman dari pelawak kondang Mandra, almarhumah Omaswati, dan Mastur.
Dari pernikahannya, Bokir memiliki lima orang anak. Dia membina rumah tangga dengan almarhumah Hj. Ipone, kemudian menikah dengan almarhumah Hj. Anih, dan terakhir mempunyai istri bernama Hj. Namah.
Sebelum menjadi pelawak dan aktor kondang, Bokir sempat hidup dalam kemiskinan. Karier seninya bermula ketika menjadi pemain kendang hingga rebab. Ia lantas mendirikan dan memimpin kelompok topeng Betawi ‘Setia Warga’ sejak 1960-an.
Kendati dibayar seikhlasnya ketika manggung dari kampung ke kampung, Kelompok Setia Warga menjadi makin dikenal orang. Pada awal 1970-an, Setia Warga dikenal publik sebagai kelompok lenong yang kerap tampil di TVRI.
Haji Bokir memiliki tiga saudara yakni, H. Na'ih bin Dji'un, H. Dalih bin Dji'un dan H. Kisam bin Dji'un. Bokir juga merupakan paman dari pelawak kondang Mandra, almarhumah Omaswati, dan Mastur.
Dari pernikahannya, Bokir memiliki lima orang anak. Dia membina rumah tangga dengan almarhumah Hj. Ipone, kemudian menikah dengan almarhumah Hj. Anih, dan terakhir mempunyai istri bernama Hj. Namah.
Sebelum menjadi pelawak dan aktor kondang, Bokir sempat hidup dalam kemiskinan. Karier seninya bermula ketika menjadi pemain kendang hingga rebab. Ia lantas mendirikan dan memimpin kelompok topeng Betawi ‘Setia Warga’ sejak 1960-an.
Kendati dibayar seikhlasnya ketika manggung dari kampung ke kampung, Kelompok Setia Warga menjadi makin dikenal orang. Pada awal 1970-an, Setia Warga dikenal publik sebagai kelompok lenong yang kerap tampil di TVRI.
Lihat Juga :