Inovasi Nano Sukarno: Ubah Sampah Jadi Biomas hingga Kompor Listrik Bernilai Ekonomis Tinggi
Sabtu, 05 Februari 2022 - 08:55 WIB
Nano Sukarno (kiri) membuat inovasi mengolah sampah menjadi energi Biomas yang ramah lingkungan dan murah dikantong termasuk membuat kompor elektrik. Foto/MPI/Adi Haryanto
BANDUNG BARAT - Warga Kampung Kandang Sapi RT 04/01, Desa Bongas, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), membuat inovasi dengan mengubah sampah menjadi Biomas, yakni bahan bakar yang terbuat dari sampah atau limbah.
Tidak hanya itu, dengan sentuhan tangan kreatif dari warga yang bernama Nano Sukarno ini, bisa juga membuat bahan bakar dari sampah softex, pampers, diapers yang disebut briket sampah.
Baca juga: Penampakan Masjid Kuno Bondan Berusia 600 Tahun di Indramayu Mulai Lapuk
"Saya mulai mengolah sampah menjadi Biomas sejak 2015, tapi mulai serius mengembangkan inovasi ini sekitar tahun 2019," tuturnya, Jumat (4/2/2022).
Inovasi yang dibuat lainnya adalah bahan bakar yang berbahan dasar sampah. Seperti wood pelet bahan bakar yang terbuat dari limbah kayu. Kemudian membuat inovasi kompor elektrik guna melengkapi produk bahan bakar Biomas, yang dijual dikisaran harga Rp600 ribu hingga Rp800 ribu.
"Produk ini lebih dikenal di daerah Klungkung, Bali ketimbang KBB. Beberapa investor juga sudah ada yang melirik inovasi Biomas yang dibuat saya, seperti dari Norwegia, Kamboja, dan Brazil," sebutnya.
Tidak hanya itu, dengan sentuhan tangan kreatif dari warga yang bernama Nano Sukarno ini, bisa juga membuat bahan bakar dari sampah softex, pampers, diapers yang disebut briket sampah.
Baca juga: Penampakan Masjid Kuno Bondan Berusia 600 Tahun di Indramayu Mulai Lapuk
"Saya mulai mengolah sampah menjadi Biomas sejak 2015, tapi mulai serius mengembangkan inovasi ini sekitar tahun 2019," tuturnya, Jumat (4/2/2022).
Inovasi yang dibuat lainnya adalah bahan bakar yang berbahan dasar sampah. Seperti wood pelet bahan bakar yang terbuat dari limbah kayu. Kemudian membuat inovasi kompor elektrik guna melengkapi produk bahan bakar Biomas, yang dijual dikisaran harga Rp600 ribu hingga Rp800 ribu.
"Produk ini lebih dikenal di daerah Klungkung, Bali ketimbang KBB. Beberapa investor juga sudah ada yang melirik inovasi Biomas yang dibuat saya, seperti dari Norwegia, Kamboja, dan Brazil," sebutnya.
Lihat Juga :