Heroisme Pitar, Perwira Kerajaan Sunda yang Selamat saat Perang Bubat dengan Pura-pura Mati

Kamis, 03 Februari 2022 - 05:00 WIB
Gajah Mada pun mendesak menerima Dyah Pitaloka Citraresmi bukan sebagai pengantin tetapi bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Raja Linggabuana Wisesa pun naik pitam. Dia tidak terima diperlakukan serendah itu hingga pecahlah pertempuran hebat di Bubat. Sayang, karena kalah jumlah pasukan, Kerajaan Sunda hancur lebur dalam pertempuran yang dikenal sebagai Perang Bubat.

Dalam buku Hitam Putih Mahapatih Gajah Mada tulisan Sri Wintala Achmad diceritakan ada seorang perwira Kerajaan Sunda bernama Pitar secara heroik bisa selamat dari pertempuran. Bukan karena kesaktiannya jika Pitar bisa selamat dari ganasnya pertempuran. Ternyata, Pitar berpura-pura mati dengan menjatuhkan dirinya di antara mayat-mayat pasukan Kerajaan Sunda yang bergelimpangan. Pitar dikisahkan kemudian meloloskan diri setelah pasukan Majapahit meninggalkan Bubat.

Pitar pula yang membawa kabar duka kepada permasuri Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka yang akan dinikahi Hayam Wuruk di mana sebelumnya sudah diungsikan dari Bubat. Karena kesedihan yang mendalam, permasuri Raja Sunda dan para istri para menteri Kerajaan Sunda pergi ke medan laga dan melakukan bunuh diri massal di atas mayat-mayat suami mereka.

Putri Raja Sunda Dyah Pitaloka memilih bunuh diri dengan cara menikam perutnyasesuai anjuran ibu permasuri. Syahdan dalam salah satu versi disebutkan Raja Hayam Wuruk yang mendengar Dyah Pitaloka, calon istrinya bunuh diri sangat terpukul. Diceritakan, Hayam Wuruk pingsan setelah menemukan jasad Dyah Pitaloka yang mati bunuh diri. Sejak itu kehidupan Raja Hayam Wuruk merana, sampai akhirnya meninggal. Setelah melakukan upacara perabuan jenasah Hayam Wuruk, kedua paman raja berunding dengan para menteri kerajaan.

Mereka menyimpulkan Gajah Mada adalah biang semua bencana terbesar di masa Raja Hayam Wuruk. Para menteri pun menyiapkan para prajurit untuk menangkap Gajah Mada. Mereka mengepung kepatihan, tempat tinggal Gajah Mada di kompleks Istana.

Dalam cerita tersebut disebutkan, pada saat yang bersamaan Gajah Mada sadar ‘telah tiba waktunya bagi dia, sebagai Patih Amangkubumi untuk inkarnansi Narayana (Wisnu) dengan moksa. Sebelum terjadi Perang Bubat, Gajah Mada yang melarang Hayam Wuruk menemui Raja Linggabuana Wisesa. Gajah Mada meminta Hayam Wuruk untuk tetap tinggal di istana, saat Kepala Desa Bubat melaporkan kedatangan rombongan dari Kerajaan Sunda.

Gajah Mada menyebut rombongan Kerajaan Sunda sebagai musuh yang bakal menyerbu Majapahit, tetapi menyamar. Siasat Gajah Mada dituruti oleh Hayam Wuruk. Tetapi para abdi dalem dan pejabat istana lainnya sempat terkejut mendengarnya, namun tidak berani melawan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!