Kisah Tragis Mahapatih Nambi, Difitnah Pejabat Majapahit hingga Tewas sebagai Pemberontak
Senin, 24 Januari 2022 - 06:17 WIB
Dalam bukunya yang berjudul "Sandyakala di Timur Jawa 1042 - 1527 M Kejayaan dan Keruntuhan Kerajaan Hindu dari Mataram Kuno II hingga Majapahit" , penulis Prasetya Ramadhan menyebut, Nagarakertagama hanya mengisahkan kematian Mahapatih Nambi secara singkat, tanpa ada penjelasan mengenai penyebabnya.
Tetapi beberapa sejarawan termasuk Slamet Muljana percaya, bahwa Mahapati yang menghasut Raja Jayanagara untuk melaksanakan serangan ke Nambi, adalah Dyah Halayudha. Sosok itu adalah nama patih Majapahit yang tertulis pada Prasasti Sidateka pada tahun 1323.
Baca juga: Mencekam! Tak Dilayani di Puskesmas, Puluhan Keluarga Korban Kecelakaan Mengamuk
Apabila dugaan itu benar, tokoh Mahapati atau Halayudha bukan orang biasa, tetapi masih keluarga bangsawan. Hal ini dikarenakan gelar yang dia pakai adalah Dyah, setara dengan raden pada zaman berikutnya. Misalnya pendiri Majapahit dalam Negarakertagama disebut Dyah Wijaya, sedangkan dalam Pararaton disebut Raden Wijaya.
Sementara itu Nambi dan Lembu Sora, pada Prasasti Sukamreta hanya bergelar Empu. Maka dapat dipahami keduanya bukan dari golongan bangsawan, namun memperoleh kedudukan tinggi masing-masing sebagai Patih Majapahit dan Patih Daha. Mahapati diduga melancarkan aksi fitnah dan adu domba, sehingga satu-persatu para pahlawan pendiri kerajaan tersingkir.
Bahkan di masa Raja Jayanagara, diceritakan sang raja kerap kali dipengaruhi oleh Dyah Halayudha atau sering disebut sebagai Mahapati dalam kitab kuno. Mahapati dikenal sebagai patih licik yang menghalalkan segala cara.
Baca juga: Edy Muliyadi Tak Meminta Maaf, Kesultanan Kutai: Hukum Adat Lebih Jahat
Tetapi beberapa sejarawan termasuk Slamet Muljana percaya, bahwa Mahapati yang menghasut Raja Jayanagara untuk melaksanakan serangan ke Nambi, adalah Dyah Halayudha. Sosok itu adalah nama patih Majapahit yang tertulis pada Prasasti Sidateka pada tahun 1323.
Baca juga: Mencekam! Tak Dilayani di Puskesmas, Puluhan Keluarga Korban Kecelakaan Mengamuk
Apabila dugaan itu benar, tokoh Mahapati atau Halayudha bukan orang biasa, tetapi masih keluarga bangsawan. Hal ini dikarenakan gelar yang dia pakai adalah Dyah, setara dengan raden pada zaman berikutnya. Misalnya pendiri Majapahit dalam Negarakertagama disebut Dyah Wijaya, sedangkan dalam Pararaton disebut Raden Wijaya.
Sementara itu Nambi dan Lembu Sora, pada Prasasti Sukamreta hanya bergelar Empu. Maka dapat dipahami keduanya bukan dari golongan bangsawan, namun memperoleh kedudukan tinggi masing-masing sebagai Patih Majapahit dan Patih Daha. Mahapati diduga melancarkan aksi fitnah dan adu domba, sehingga satu-persatu para pahlawan pendiri kerajaan tersingkir.
Bahkan di masa Raja Jayanagara, diceritakan sang raja kerap kali dipengaruhi oleh Dyah Halayudha atau sering disebut sebagai Mahapati dalam kitab kuno. Mahapati dikenal sebagai patih licik yang menghalalkan segala cara.
Baca juga: Edy Muliyadi Tak Meminta Maaf, Kesultanan Kutai: Hukum Adat Lebih Jahat
Lihat Juga :