Filosofi Roti Buaya, Lambangkan Sifat Hewan yang Hanya Kawin Sekali Sepanjang Hidup

Sabtu, 27 November 2021 - 12:32 WIB
Sementara itu, melansir informasi yang dipublikasikan oleh Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jakarta Pusat melalui laman resminya, di kali Gunung Sahari, sering terlihat sepasang buaya putih bernama Ki Srintil dan Ni Srintil.

JJ Rizal menuturkan, sifat buaya yang hanya kawin sekali di sepanjang hidupnya, kemudian menjadi inspirasi lain dari lahirnya roti buaya. Hal itu diharapkan bisa menjadi contoh bagi pasangan yang melangsungkan pernikahan.

Dia melanjutkan, mempelai pria yang harus membawa roti buaya ke kepada si mempelai wanita. Roti buaya juga harus dalam kondisi yang bagus, tanpa adanya cacat satu pun sebelum resmi diterima oleh pengantin wanita. Baca: Sejarah Bandara Kemayoran, Saksi Bisu Konferensi Asia Afrika dan Asian Games 1962

Ukuran dari tiap-tiap roti buaya juga dipercaya akan berkaitan dengan masa depan rumah tangga calon mempelai. Semakin besar ukuran dan semakin keras teksturnya, maka nasib pernikahan diyakini akan semakin baik.

Ditambahkan dari berbagai sumber, kepercayaan masyarakat Betawi terhadap roti buaya ini juga beraneka ragam lagi. Seseorang yang belum menikah, kemudian memakan roti ini maka dipercaya akan cepat bertemu sang pendamping hidup.
(hab)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!