Survei Sosial: Warga Jakarta Kurang Siap dengan Normal Baru

Jum'at, 05 Juni 2020 - 04:09 WIB
“Pemaksaan ‘New Normal’ akan memiliki konsekuensi serius dalam peningkatan jumlah penularan COVID-19. Karenanya, kebijakan pemberlakuan tatanan kehidupan baru itu belum saatnya diberlakukan bagi warga DKI Jakarta,” jelas Sulfikar.

Survei daring itu menggunakan metode sampel kuota (quota sampling) dengan variabel penduduk per kelurahan yang disebar melalui aplikasi pesan instan WhatsApp kepada warga DKI Jakarta. Penyebaran survei dilakukan melalui jaringan Palang Merah Indonesia (PMI), Biro Tata Pemerintahan, dan beberapa kontak kecamatan di DKI Jakarta.

Selain itu, survei juga disebarkan secara acak melalui berbagai kontak jaringan komunitas di DKI Jakarta. Survei dilaksanakan sejak Jumat, 29 Mei hingga Selasa, 2 Juni 2020 dan berhasil mengumpulkan responden valid sebanyak 3.160 orang. Analisa dilakukan dengan menggunakan formula Spearman rho.

Berdasarkan latar pendidikan, sebanyak 40,08% responden adalah lulusan SMA dan 41,86% merupakan sarjana. Sementara, dari jenis pekerjaan, jumlahnya cukup merata di sektor informal dan formal. Proporsi paling besar adalah mahasiswa dengan jumlah 31,89% dan bidang swasta sebanyak 27,46%. (Baca juga: Wali Kota Depok: Mulai Jumat Seluruh Masjid Dibuka Kembali untuk Salat Berjamaah)

Selanjutnya, dari sisi risiko kesehatan terhadap infeksi COVID-19, responden dengan penyakit penyerta (kormobid) tersebar di lima jenis penyakit, yaitu jantung, diabetes, hipertensi, TBC, dan masalah paru-paru lainnya. Proporsi responden dengan penyakit bawaan jauh lebih rendah dibandingkan responden tanpa penyakit bawaan.
(kri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!