Arya Damar, Ahli Mesiu Kerajaan Majapahit Sang Penakluk Kerajaan Bali
Selasa, 02 November 2021 - 05:00 WIB
Arya Damar pada mulanya merupakan kepala pabrik mesiu atau orang yang dipercaya mengurusi kebutuhan mesiu untuk militer Kerajaan Majapahit. Foto/Ilustrasi.Dok.SINDOnews
KERAJAAN Majapahit begitu kuat di masa kejayaannya. Kumpulan kekuatan itu tak lepas dari hadirnya ahli perang yang mampu mengunci pergerakan musuh dan majunya peradaban Majapahit waktu itu. Salah satunya senjata perang yang bisa membuat langkah musuh untuk berjalan mundur.
Nama Arya Damar tak akan pernah pudar. Meskipun jejaknya misterius, ia tetaplah seorang pemimpin legendaris yang berkuasa di Palembang pada pertengahan abad ke-15 Masehi sebagai bawahan Kerajaan Majapahit. Ia juga banyak dikenal dengan nama lainnya seperti Ario Damar atau Ario Abdilah.
Baca juga: Dyah Wiyat, Kisah Cinta Segitiga dan Perselingkuhan di Kerajaan Majapahit
Menurut kronik Tiongkok dari Kuil Sam Po Kong Semarang, Arya Damar juga memiliki nama Tionghoa yaitu Swan Liong (Naga Berlian). Namanya tanpa nama marga di depannya, karena ibunya merupakan wanita peranakan Tionghoa.
Arya Damar pada mulanya merupakan kepala pabrik mesiu atau orang yang dipercaya mengurusi kebutuhan mesiu untuk militer Kerajaan Majapahit. Terutamanya sebagai bahan peledak meriam yang saat itu pabriknya didirikan di Semarang.
Keahliannya dalam bidang mesiu dan persenjataan modern di zamannya membuat Arya Damar naik menjadi pejabat dengan dipindahkan oleh Ratu Kerajaan Majapahit ke Palembang. Dia di Bumi Sriwijaya diangkat menjadi seorang Adipati.
Dipilihnya Arya Damar sebagai Adipati Palembang tentu mempunyai alasan tersendiri. Sebab waktu itu Palembang merupakan salah satu pangkalan barat angkatan laut Majapahit di luar Jawa.
Baca juga: Syahwat Terlarang Sultan Ahmad Malik Az-Zahir Picu Majapahit Hancurkan Kerajaan Samudera Pasai
Sehingga memerlukan pimpinan yang paham betul soal senjata, terutamanya meriam dan mesiunya. Kekuatan itu yang melambungkan namanya.
Foto/Ist
Arya Damar juga dikenal ketika dalam Kidung Pamacangah dan Usana Bali sebagai penguasa bawahan di Palembang yang membantu Kerajaan Majapahit menaklukkan Bali pada tahun 1343. Dengan gagah perkasa, ia memimpin 15.000 prajurit menyerang Bali dari arah utara.
Sedangkan Gajah Mada menyerang dari selatan dengan jumlah prajurit yang sama.
Pasukan Arya Damar berhasil menaklukkan Desa Ularan yang terletak di pantai utara Bali. Pemimpin Ularan yang bernama Pasung Giri akhirnya menyerah setelah bertempur selama dua hari. Arya Damar yang kehilangan banyak prajurit melampiaskan kemarahannya dengan cara membunuh Pasung Giri.
Nama Arya Damar tak akan pernah pudar. Meskipun jejaknya misterius, ia tetaplah seorang pemimpin legendaris yang berkuasa di Palembang pada pertengahan abad ke-15 Masehi sebagai bawahan Kerajaan Majapahit. Ia juga banyak dikenal dengan nama lainnya seperti Ario Damar atau Ario Abdilah.
Baca juga: Dyah Wiyat, Kisah Cinta Segitiga dan Perselingkuhan di Kerajaan Majapahit
Menurut kronik Tiongkok dari Kuil Sam Po Kong Semarang, Arya Damar juga memiliki nama Tionghoa yaitu Swan Liong (Naga Berlian). Namanya tanpa nama marga di depannya, karena ibunya merupakan wanita peranakan Tionghoa.
Arya Damar pada mulanya merupakan kepala pabrik mesiu atau orang yang dipercaya mengurusi kebutuhan mesiu untuk militer Kerajaan Majapahit. Terutamanya sebagai bahan peledak meriam yang saat itu pabriknya didirikan di Semarang.
Keahliannya dalam bidang mesiu dan persenjataan modern di zamannya membuat Arya Damar naik menjadi pejabat dengan dipindahkan oleh Ratu Kerajaan Majapahit ke Palembang. Dia di Bumi Sriwijaya diangkat menjadi seorang Adipati.
Dipilihnya Arya Damar sebagai Adipati Palembang tentu mempunyai alasan tersendiri. Sebab waktu itu Palembang merupakan salah satu pangkalan barat angkatan laut Majapahit di luar Jawa.
Baca juga: Syahwat Terlarang Sultan Ahmad Malik Az-Zahir Picu Majapahit Hancurkan Kerajaan Samudera Pasai
Sehingga memerlukan pimpinan yang paham betul soal senjata, terutamanya meriam dan mesiunya. Kekuatan itu yang melambungkan namanya.
Foto/Ist
Arya Damar juga dikenal ketika dalam Kidung Pamacangah dan Usana Bali sebagai penguasa bawahan di Palembang yang membantu Kerajaan Majapahit menaklukkan Bali pada tahun 1343. Dengan gagah perkasa, ia memimpin 15.000 prajurit menyerang Bali dari arah utara.
Sedangkan Gajah Mada menyerang dari selatan dengan jumlah prajurit yang sama.
Pasukan Arya Damar berhasil menaklukkan Desa Ularan yang terletak di pantai utara Bali. Pemimpin Ularan yang bernama Pasung Giri akhirnya menyerah setelah bertempur selama dua hari. Arya Damar yang kehilangan banyak prajurit melampiaskan kemarahannya dengan cara membunuh Pasung Giri.
Lihat Juga :