Ngamuk Hingga Melukai Perawat RSUD Ambarawa, Keluarga Pasien Diringkus Polisi
Sabtu, 24 Juli 2021 - 10:14 WIB
Kemudian pada pukul 00.40 WIB, tim medis melakukan monitoring pasien. Saat itu kesadaran sopor TD 80/50. HR 120. SPO2 81 persen dan dilakukan tindakan pemasangan oksigen doble NRM 15 lpm + NC 5 lpm. Hasil evaluasi, TD pasien naik 120/70. SpO2 91.
Sekitar pukul 01.55 WIB, keluarga menanyakan ttv pasien. Keluarga juga menanyakan kenapa saturasi bisa turun dan langsung menerobos masuk ke ruang isolasi. Baca juga: Bukan Rebutan Kamar RS, Ini Hal Pertama yang Dilakukan Jika Terkonfirmasi Positif COVID-19
"Pukul 02.00 WIB, keluarga menerobos masuk, marah-marah ingin menunggui pasien dan memaksa agar dipindahkan ke IGD lagi. Setelah koordinasi dengan IGD dan supervisi, kemudian pasien dibawa ke IGD lagi," ujarnya.
Selang satu jam kemudian, keluarga meminta agar pasien dipindahkan ke ruang Anyelir. Petugas pun melakukan edukasi ulang kepada adik pasien di ruang Anyelir terkait dengan kesanggupan mematuhi tata tertib atau aturan di ruang isolasi. Keluarga menyatakan sanggup mematuhi
Selanjutnya pada pukul 03.30 WIB, petugas kembali melakukan edukasi kepada suami pasien dan adik di ruang IGD dan mengabarkan bahwa kondisi pasien kritis. Mendengar hal itu, keluarga tampak bimbang. Selanjutnya petugas mempersilahkan untuk berdiskusi sampai ditemukan kesepakatan antar anggota keluarga.
"Jam 04.30 WIB, adik pasien beserta anggota keluarga meminta ke tim medis agar pasien dirawat di ruang isolasi kembali jikalau pasien sudah sadarkan diri dan meminta dr DPJP untuk rutin memeriksa pasien ke IGD," katanya.
Kemudian 10.10 WIB, pasien dibawa lagi ke ruang isolasi dan perawat kembali memberi edukasi kepada keluarga tentang kondisi pasien dan tata tertib di ruang isolasi. Pada pukul 12.30 WIB, perawat mengabarkan kondisi pasien yang semakin menurun, SpO2 40 persen-50 persen dan suami pasien memahami dan menerima.
Sekitar pukul 01.55 WIB, keluarga menanyakan ttv pasien. Keluarga juga menanyakan kenapa saturasi bisa turun dan langsung menerobos masuk ke ruang isolasi. Baca juga: Bukan Rebutan Kamar RS, Ini Hal Pertama yang Dilakukan Jika Terkonfirmasi Positif COVID-19
"Pukul 02.00 WIB, keluarga menerobos masuk, marah-marah ingin menunggui pasien dan memaksa agar dipindahkan ke IGD lagi. Setelah koordinasi dengan IGD dan supervisi, kemudian pasien dibawa ke IGD lagi," ujarnya.
Selang satu jam kemudian, keluarga meminta agar pasien dipindahkan ke ruang Anyelir. Petugas pun melakukan edukasi ulang kepada adik pasien di ruang Anyelir terkait dengan kesanggupan mematuhi tata tertib atau aturan di ruang isolasi. Keluarga menyatakan sanggup mematuhi
Selanjutnya pada pukul 03.30 WIB, petugas kembali melakukan edukasi kepada suami pasien dan adik di ruang IGD dan mengabarkan bahwa kondisi pasien kritis. Mendengar hal itu, keluarga tampak bimbang. Selanjutnya petugas mempersilahkan untuk berdiskusi sampai ditemukan kesepakatan antar anggota keluarga.
"Jam 04.30 WIB, adik pasien beserta anggota keluarga meminta ke tim medis agar pasien dirawat di ruang isolasi kembali jikalau pasien sudah sadarkan diri dan meminta dr DPJP untuk rutin memeriksa pasien ke IGD," katanya.
Kemudian 10.10 WIB, pasien dibawa lagi ke ruang isolasi dan perawat kembali memberi edukasi kepada keluarga tentang kondisi pasien dan tata tertib di ruang isolasi. Pada pukul 12.30 WIB, perawat mengabarkan kondisi pasien yang semakin menurun, SpO2 40 persen-50 persen dan suami pasien memahami dan menerima.
Lihat Juga :