Cerita Warga Solo yang Nekat Mudik Jalan Kaki dari Jakarta
Senin, 18 Mei 2020 - 15:38 WIB
Ia kemudian mencoba menggunakan kendaraan pribadi. Namun ketika sampai di tol Cikarang malah diminta memutar ke kota awal pemberangkatan. "Saya putus asa dan malah mau berantem di tol Cikarang karena disuruh balik," ujarnya.
Setelah usaha mudik gagal di tengah jalan, ia memutuskan untuk jalan kaki. Ia berangkat dari Cibubur pada 11 Mei 2020 usai salat Subuh. Bekal yang dibawa hanya dua tas yang terdiri dari tas gendong dan tas srempang serta sepatu yang dibungkus kresek. Dirinya memutuskan jalan kaki karena Tuhan memberikan dua kaki. "Saya niatkan untuk pulang dengan berjalan kaki," katanya.
Pria yang mengaku berusia 38 tahun ini mengemukakan, selama berjalan kaki hanya mengenakan celana pendek serta kaos dan penutup wajah. Sedangkan untuk berjalan, ia lebih memilih mengenakan sandal jepit daripada sepatu. "Saya lebih enak memakai sandal jepit, pakai sepatu nggak kuat," tuturnya.
Selama jalan kaki melalui jalur pantura, Satrio berupaya untuk tetap puasa. Setiap hari, dirinya menempuh perjalanan sekitar 100 kilometer dengan durasi waktu antara 12-14 jam. Selama perjalanan, medan paling berat adalah jalanan di wilayah Karawang Timur hingga Tegal karena sangat panas. Ketika memasuki Brebes dan Pekalongan cuaca sedikit adem.
Selama berjalan, ia menyempatkan beberapa kali beristirahat untuk mengumpulkan tenaga. Dirinya berhenti berjalan untuk tidur ketika menjelang dini hari. Lokasi istirahat yang dipilih untuk tidur adalah SPBU maupun warung tempat pemberhentian truk.
Setelah usaha mudik gagal di tengah jalan, ia memutuskan untuk jalan kaki. Ia berangkat dari Cibubur pada 11 Mei 2020 usai salat Subuh. Bekal yang dibawa hanya dua tas yang terdiri dari tas gendong dan tas srempang serta sepatu yang dibungkus kresek. Dirinya memutuskan jalan kaki karena Tuhan memberikan dua kaki. "Saya niatkan untuk pulang dengan berjalan kaki," katanya.
Pria yang mengaku berusia 38 tahun ini mengemukakan, selama berjalan kaki hanya mengenakan celana pendek serta kaos dan penutup wajah. Sedangkan untuk berjalan, ia lebih memilih mengenakan sandal jepit daripada sepatu. "Saya lebih enak memakai sandal jepit, pakai sepatu nggak kuat," tuturnya.
Selama jalan kaki melalui jalur pantura, Satrio berupaya untuk tetap puasa. Setiap hari, dirinya menempuh perjalanan sekitar 100 kilometer dengan durasi waktu antara 12-14 jam. Selama perjalanan, medan paling berat adalah jalanan di wilayah Karawang Timur hingga Tegal karena sangat panas. Ketika memasuki Brebes dan Pekalongan cuaca sedikit adem.
Selama berjalan, ia menyempatkan beberapa kali beristirahat untuk mengumpulkan tenaga. Dirinya berhenti berjalan untuk tidur ketika menjelang dini hari. Lokasi istirahat yang dipilih untuk tidur adalah SPBU maupun warung tempat pemberhentian truk.
Lihat Juga :