Kisah Mbah Manshur, Penyepuh Bambu Runcing Bertuah dalam Pertempuran 10 November
Selasa, 10 November 2020 - 20:03 WIB
"Semuanya minta digembleng Mbah Manshur sebelum berangkat ke Surabaya. Banyak juga yang menginap berhari hari," papar Mbah Hisyam. Mbah Manshur adalah putra Mbah Abu Manshur, yakni salah seorang prajurit Pangeran Diponegoro yang pasca Perang Jawa (1825-1830) dikejar kejar Belanda dan memutuskan lari ke wilayah timur (Jawa Timur).
Merunut dari silsilah keluarga, ayah Mbah Manshur (Mbah Abu Manshur) atau kakek Mbah Hisyam merupakan keturunan Kiai Nur Iman alias Raden Mas Sandiyo, yakni trah Raja Mataram Islam yang mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Mlangi, Sleman, Yogyakarta. Mlangi, konon berasal dari kata "Mulangi" yang berarti mengajar. "Terbilang masih cucu Mbah Nur Iman," jelas Mbah Hisyam.
Sebagai keturunan ulama pejuang, Mbah Manshur yang bernama kecil Yasin tersebut, banyak menghabiskan waktu di pondok pesantren. Di masa mudanya berpindah dari satu ponpes ke ponpes lain. Menurut Mbah Hisyam, ayahnya (Mbah Manshur) merupakan santri Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari Ponpes Tebuireng Jombang, kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Bersama Mbah Sholeh, kakak sulungnya, Mbah Manshur juga pernah nyantri ke Mbah Cholil (KH Syaikhona Cholil) Bangkalan Madura. Kata Mbah Hisyam, ada cerita lucu saat kakak beradik itu pertama kali menginjakkan kaki di pondok Mbah Cholil Bangkalan Madura. Keduanya langsung dikepung, dan dalam situasi menegangkan itu, Mbah Cholil mengatakan : "malinge wes dikepung (malingnya sudah dikepung".
"Ternyata bahasa kiasan. Yang dimaksud Mbah Cholil adalah maling ilmu," terang Mbah Hisyam dengan tertawa. Dalam perjalanan riyadhahnya (tirakat), Mbah Manshur juga pernah mondok di Ponpes Mojosari, Nganjuk yang didirikan KH Ali Imron. Seingat Mbah Hisyam, ayahnya juga pernah nyantri di Ponpes Tremas, Pacitan. "InsyaAllah juga pernah nyantri di Ponpes Tremas, Pacitan," tambah Mbah Hisyam.
Sebagai kiai sekaligus pejuang laskar Sabilillah, Mbah Manshur terkenal memiliki kemampuan ilmu kanuragan (ilmu kesaktian) yang pilih tanding. Suwuknya ampuh. Gemblengannya jaduk. Tidak hanya soal ilmu kebal. Suwuk Mbah Manshur mampu menyulap bambu runcing menjadi senjata ampuh yang tidak kalah dengan kemutakhiran bedil sekutu.
"Yang disuwuk atau diasmaki tidak hanya bambu runcing. Tapi juga pedang, parang, golok dan bedil," terang Mbah Hisyam. Seingat Mbah Hisyam, tidak ada proses perendaman di kolam seperti cerita yang beredar selama ini. Yang ia tahu, bambu runcing yang hendak disepuh atau disuwuk hanya diikat menjadi satu dan digeletakkan di atas tanah. Bambu selengan orang dewasa tersebut dibawa masing masing pejuang. Sebagian besar berjenis bambu kuning dan bambu jabal.
Di depan santri pejuang, Mbah Manshur memanjatkan doa. Usai merapal mantra, bibirnya meniup bambu runcing yang terikat menjadi satu tersebut. Tiga kali tiupan. Saat bersamaan, dipimpin oleh Mashudi dan Mansuri, yakni kakak kandung Mbah Hisyam, para santri berdoa berjamaah dengan suara keras. "Prosesnya hanya ditiup. Setahu saya tidak ada bambu yang direndam di kolam," kata Mbah Hisyam.
Merunut dari silsilah keluarga, ayah Mbah Manshur (Mbah Abu Manshur) atau kakek Mbah Hisyam merupakan keturunan Kiai Nur Iman alias Raden Mas Sandiyo, yakni trah Raja Mataram Islam yang mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Mlangi, Sleman, Yogyakarta. Mlangi, konon berasal dari kata "Mulangi" yang berarti mengajar. "Terbilang masih cucu Mbah Nur Iman," jelas Mbah Hisyam.
Sebagai keturunan ulama pejuang, Mbah Manshur yang bernama kecil Yasin tersebut, banyak menghabiskan waktu di pondok pesantren. Di masa mudanya berpindah dari satu ponpes ke ponpes lain. Menurut Mbah Hisyam, ayahnya (Mbah Manshur) merupakan santri Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari Ponpes Tebuireng Jombang, kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Bersama Mbah Sholeh, kakak sulungnya, Mbah Manshur juga pernah nyantri ke Mbah Cholil (KH Syaikhona Cholil) Bangkalan Madura. Kata Mbah Hisyam, ada cerita lucu saat kakak beradik itu pertama kali menginjakkan kaki di pondok Mbah Cholil Bangkalan Madura. Keduanya langsung dikepung, dan dalam situasi menegangkan itu, Mbah Cholil mengatakan : "malinge wes dikepung (malingnya sudah dikepung".
"Ternyata bahasa kiasan. Yang dimaksud Mbah Cholil adalah maling ilmu," terang Mbah Hisyam dengan tertawa. Dalam perjalanan riyadhahnya (tirakat), Mbah Manshur juga pernah mondok di Ponpes Mojosari, Nganjuk yang didirikan KH Ali Imron. Seingat Mbah Hisyam, ayahnya juga pernah nyantri di Ponpes Tremas, Pacitan. "InsyaAllah juga pernah nyantri di Ponpes Tremas, Pacitan," tambah Mbah Hisyam.
Sebagai kiai sekaligus pejuang laskar Sabilillah, Mbah Manshur terkenal memiliki kemampuan ilmu kanuragan (ilmu kesaktian) yang pilih tanding. Suwuknya ampuh. Gemblengannya jaduk. Tidak hanya soal ilmu kebal. Suwuk Mbah Manshur mampu menyulap bambu runcing menjadi senjata ampuh yang tidak kalah dengan kemutakhiran bedil sekutu.
"Yang disuwuk atau diasmaki tidak hanya bambu runcing. Tapi juga pedang, parang, golok dan bedil," terang Mbah Hisyam. Seingat Mbah Hisyam, tidak ada proses perendaman di kolam seperti cerita yang beredar selama ini. Yang ia tahu, bambu runcing yang hendak disepuh atau disuwuk hanya diikat menjadi satu dan digeletakkan di atas tanah. Bambu selengan orang dewasa tersebut dibawa masing masing pejuang. Sebagian besar berjenis bambu kuning dan bambu jabal.
Di depan santri pejuang, Mbah Manshur memanjatkan doa. Usai merapal mantra, bibirnya meniup bambu runcing yang terikat menjadi satu tersebut. Tiga kali tiupan. Saat bersamaan, dipimpin oleh Mashudi dan Mansuri, yakni kakak kandung Mbah Hisyam, para santri berdoa berjamaah dengan suara keras. "Prosesnya hanya ditiup. Setahu saya tidak ada bambu yang direndam di kolam," kata Mbah Hisyam.
Lihat Juga :