Oknum Polisi Terlibat Narkoba, Ini Kata Psikolog Forensik
Senin, 26 Oktober 2020 - 07:15 WIB
Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri. Foto/Dok/SINDOphoto
JAKARTA - Psikolog Forensik Reza Indragiri angkat bicara soal keterlibatan oknum kepolisian dalam peredaran narkoba . Menurutnya, pengedar dan bandar bukan penyalahgunaan tetapi untuk memperkaya diri.
"Kita bicara tentang pengguna atau pengedar bahkan bandar? Kalau dua yang terakhir, tampaknya motifnya semata-mata adalah ekonomi. Kerakusan, keinginan memperkaya diri sendiri lewat cara jahat," kata Reza kepada SINDOnews, Senin (26/10/2020). (Baca juga: Sepanjang Januari-Oktober 2020, 113 Polisi Dipecat Terbanyak Kasus Narkoba )
Tapi kalau penyalahguna, lanjut Reza, tetap tidak bisa dibenarkan dan pelakunya harus dihukum, ada sisi psikologis yang sudah banyak diungkap lewat studi.Yakni, bekerja sebagai polisi sama artinya dengan menggeluti bidang yang amat berat.
"Apalagi reskrim. Tuntutan organisasi, beban kasus, tekanan masyarakat, intervensi politik, kejahatan yang semakin kompleks, masalah pribadi. Tapi stamina terbatas. Kesehatan jiwa juga rentan terganggu. Padahal, tugas-tugas harus dituntaskan dalam waktu yang juga terbatas.Nah, apa barang yang bisa mendongkrak stamina dalam tempo cepat dan memperbaiki suasana hati? Narkoba," bebernya.
Ironis memang, kata dia, polisi bisa saja melarikan diri ke narkoba justru agar bisa menyelesaikan tugas dan menyesuaikan diri dengan segala kompleksitas terhadap keperluannya. (Baca juga: Oknum Perwira Polisi Terlibat Sindikat Narkoba, Kapolda Riau: Dia Pengkhianat Bangsa )
"Pada sisi itu muncul keinsafan tentang pentingnya penataan tugas dan perhatian terhadap kesehatan personel. Ini, jelas, tidak bisa dipenuhi oleh personel sendiri. Harus ada peran organisasi secara keseluruhan. Lantas, mana yang lebih banyak: polisi pakai narkoba atau polisi jual narkoba?" terangnya.
"Kita bicara tentang pengguna atau pengedar bahkan bandar? Kalau dua yang terakhir, tampaknya motifnya semata-mata adalah ekonomi. Kerakusan, keinginan memperkaya diri sendiri lewat cara jahat," kata Reza kepada SINDOnews, Senin (26/10/2020). (Baca juga: Sepanjang Januari-Oktober 2020, 113 Polisi Dipecat Terbanyak Kasus Narkoba )
Tapi kalau penyalahguna, lanjut Reza, tetap tidak bisa dibenarkan dan pelakunya harus dihukum, ada sisi psikologis yang sudah banyak diungkap lewat studi.Yakni, bekerja sebagai polisi sama artinya dengan menggeluti bidang yang amat berat.
"Apalagi reskrim. Tuntutan organisasi, beban kasus, tekanan masyarakat, intervensi politik, kejahatan yang semakin kompleks, masalah pribadi. Tapi stamina terbatas. Kesehatan jiwa juga rentan terganggu. Padahal, tugas-tugas harus dituntaskan dalam waktu yang juga terbatas.Nah, apa barang yang bisa mendongkrak stamina dalam tempo cepat dan memperbaiki suasana hati? Narkoba," bebernya.
Ironis memang, kata dia, polisi bisa saja melarikan diri ke narkoba justru agar bisa menyelesaikan tugas dan menyesuaikan diri dengan segala kompleksitas terhadap keperluannya. (Baca juga: Oknum Perwira Polisi Terlibat Sindikat Narkoba, Kapolda Riau: Dia Pengkhianat Bangsa )
"Pada sisi itu muncul keinsafan tentang pentingnya penataan tugas dan perhatian terhadap kesehatan personel. Ini, jelas, tidak bisa dipenuhi oleh personel sendiri. Harus ada peran organisasi secara keseluruhan. Lantas, mana yang lebih banyak: polisi pakai narkoba atau polisi jual narkoba?" terangnya.
Lihat Juga :