YLC-8 IKA ITS Siapkan Generasi Pemimpin Adaptif Menuju Indonesia Emas 2045

Senin, 06 Juli 2026 - 17:15 WIB

Alumni sebagai Kekuatan Strategis Bangsa



Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian ITS Prof Agus Muhamad Hatta menegaskan bahwa alumni merupakan salah satu aset strategis perguruan tinggi dalam membangun ekosistem inovasi nasional bahkan internasional.

Menurutnya, kekuatan alumni tidak hanya diukur dari keberhasilan individu, tetapi dari kemampuannya membangun jejaring, memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat, serta mendorong hilirisasi riset agar menghasilkan manfaat nyata bagi pembangunan bangsa.

"Alumni bukan sekadar representasi keberhasilan ITS, tetapi mitra strategis dalam mempercepat inovasi, memperluas kolaborasi, dan meningkatkan kontribusi perguruan tinggi bagi Indonesiam," sebutnya.

Perspektif berbeda disampaikan oleh Muhsin Budiono Nurhadi, Global Followership Trainer, Assistant Manager Quality Control PT Pertamina Lubricants, Ketua Bidang Pengembangan Organisasi dan Kerja Sama IKA ITS PW Jakarta Raya, sekaligus General Manager Region Jatim Balinus CENITS.

Melalui materi "Strategic Followership & Managing Up", Muhsin mengajak peserta mengubah paradigma bahwa kepemimpinan selalu identik dengan posisi tertinggi. Menurutnya, organisasi justru membutuhkan lebih banyak trusted follower, yaitu individu yang mampu berpikir kritis, membangun komunikasi yang sehat, berinisiatif, serta memberikan dukungan konstruktif kepada pemimpinnya.

"Leadership dan followership bukan dua hal yang saling bertentangan. Kepemimpinan yang kuat justru lahir dari kemampuan menjadi pengikut yang mampu dipercaya, mampu memberi pengaruh positif, dan mampu membangun keberhasilan tim secara bersama-sama," jelasnya.

Sementara itu, Deni Budi Kurnianto, Direktur Utama PT Indoturbine sekaligus Ketua Harian III IKA ITS PW Jakarta Raya, mengajak peserta menerjemahkan seluruh pembelajaran YLC ke dalam praktik profesional. Menurutnya, transformasi industri yang dipicu oleh digitalisasi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan otomatisasi menuntut lahirnya pemimpin yang tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga adaptif terhadap perubahan, inovatif dalam berpikir, serta mampu membangun kolaborasi lintas disiplin.

Ia menekankan bahwa kepemimpinan dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri, membangun kepercayaan melalui prinsip 3T (Tepat Waktu, Tepat Kualitas, dan Transparan) serta menghadirkan solusi yang memberikan nilai tambah bagi organisasi dan masyarakat.

Selain sesi kelas, peserta juga mengikuti berbagai simulasi kepemimpinan melalui Outbound Team Building yang dirancang untuk menguji kemampuan komunikasi, kepercayaan, negosiasi, pengambilan keputusan, dan kolaborasi dalam situasi nyata.

Evaluasi melalui Focus Group Discussion (FGD) menunjukkan bahwa para peserta menilai kualitas narasumber, jejaring lintas profesi, dan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman sebagai kekuatan utama YLC-8. Mereka juga mengusulkan agar program berikutnya diperluas melalui executive networking, kolaborasi lintas organisasi profesional, dan penguatan komunitas pascaprogram sebagai bentuk keberlanjutan kaderisasi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!