Kadis Pertanian Merauke: CSR dan Optimasi Lahan Berhasil Tingkatkan Produksi dan Stabilkan Harga Beras

Selasa, 23 Juni 2026 - 06:26 WIB
Dampak program tersebut terlihat nyata pada capaian produksi tahun 2025. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi beras di Provinsi Papua Selatan meningkat 66,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, produksi beras tercatat sebesar 124.355,12 ton dengan luas panen padi 47.168,57 hektare. Sementara pada 2025, produksi beras meningkat menjadi 207.006,95 ton dengan luas panen mencapai 79.433,92 hektare atau naik 68,40 persen.

“Dengan program besar yang dijalankan Bapak Presiden dan Bapak Menteri Pertanian, produksi kami meningkat sekitar 65 persen dibandingkan sebelumnya. Kenaikan produksi ini membuat pasokan beras semakin kuat sehingga harga di tingkat masyarakat lebih stabil dan terjangkau,” jelas Yosefa.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan program tersebut tidak hanya dirasakan oleh konsumen, tetapi juga petani. Menurutnya, peningkatan produksi berhasil menjaga keseimbangan antara keterjangkauan harga bagi masyarakat dan peningkatan kesejahteraan petani.

“Terjadi penurunan harga beras yang membuat masyarakat lebih mudah menjangkaunya, tetapi di sisi lain kesejahteraan petani juga meningkat. Program ini mendorong perubahan pola bertani dari yang masih tradisional menjadi lebih modern. Nilai usaha tani meningkat dan masyarakat bisa mendapatkan beras dengan harga yang lebih terjangkau,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke, Martha Bayu. Ia mengatakan pemerintah daerah terus melakukan pemantauan harga beras secara rutin melalui petugas enumerator yang setiap hari melakukan pencatatan dan pelaporan kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas).

“Kami memiliki petugas enumerator yang setiap hari turun ke lapangan untuk memantau harga dan melaporkannya ke Bapanas. Untuk beras premium, HET berada di Rp15.800 per kilogram, sedangkan beras medium Rp15.500 per kilogram,” ujarnya.

Berdasarkan hasil pemantauan di pasar-pasar Kota Merauke maupun sejumlah wilayah lainnya, harga beras secara umum masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

“Dari pengamatan kami, harga beras yang dijual di pasar maupun lapak-lapak masih berada di bawah HET, baik untuk beras premium maupun medium. Memang ada beberapa jenis beras tertentu yang dijual lebih tinggi karena faktor transportasi dan distribusi, terutama ke daerah-daerah yang jauh. Namun secara umum harga beras di Merauke masih terkendali dan sesuai dengan regulasi pemerintah,” jelas Martha.

Menurutnya, keberhasilan program CSR dan Oplah tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi, tetapi juga sangat membantu menjaga stabilitas harga dan keterjangkauan pangan bagi masyarakat.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!