Kudeta Kekuasaan, Cerita Sejarah Perjalanan Kerajaan Singasari hingga Disatukan Wisnuwardhana

Rabu, 17 September 2025 - 07:39 WIB
Daha yang menjadi kota kedua di bawah kekuasaan Singasari membelot dan berusaha berdikari sendiri. Di bawah kekuasaan Bhatara Parameswara atau Mahisa Wong Teleng, Daha yang masih menjadi wilayah bawahan Singasari tak mau tunduk kepada Tumapel yang dipimpin Anusapati. Saudara-saudara Mahisa Wong Teleng atau Bhatara Parameswara juga turut membelot dan membela Mahisa Wonga Teleng.

Sejarawan Prof Slamet Muljana pada "Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit", menyatakan pada Prasasti Mula Malurung dideskripsikan pergantian penguasa daerah. Guning Bhaya dan Tohjaya kemudian berturut-turut menggantikan Mahisa Wonga Teleng.

Sepeninggal Tohjaya yang berkuasa di Kediri, kedua kerajaan ini akhirnya berhasil disatukan oleh Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat sejak 19 September 1248. Penyatuan kedua kerajaan ini dibantu Mahisa Cempaka dan Ranggawuni, yang dalam Pararaton ternyata sebagai Sang Pamegat di Ranu Kebayan yang mendorong usaha penyatuan Kediri dengan Tumapel.

Dukungan dari para pembesar pejabat daerah di Daha juga akhirnya Wisnuwardhana berhasil kembali menggabungkan Kediri dengan Tumapel yang telah dikuasai sepeninggal Anusapati pada 1248. Selanjutnya, Sang Apanji Patipati mengabdi kepada Sri Kertanagara yang sejak tahun 1254 menurut Nagarakretagama diangkat sebagai raja di wilayah Kediri.

Nama Ranggawuni tidak pernah disebut pada Prasasti Maribong dan Prasasti Mula Malurung. Pada kedua prasasti ini yang disebut yakni nama Seminingrat. Pada Prasasti Maribong jelas bahwa nama Jayawisnuwardhana adalah nama abhiseka. Sang Mapanji Seminingrat jelas adalah nama garbhopati Jayawisnuwardhana.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!