Wijianto Jalan Kaki di 30 Provinsi untuk Hapus Stigma Orang dengan HIV
Selasa, 08 September 2020 - 07:14 WIB
Hal itulah yang mendorongnya berjalan kaki mengelilingi Indonesia. Pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur itu telah divonis positif ODHA pada tahun 2011 di Jakarta.
Diceritakan, saat itu dia tengah menderita TB paru dan dirawat. Perlakuan diskriminatif mulai diterimanya dari petugas kesehatan, bahkan orang terdekat. Padahal, petugas kesehatan sudah tahu dari mana saja virus HIV menular. Demikian pula keluarganya yang sudah dapat penjelasan. Namun sayangnya, hidup punya cerita sendiri.
Gareng tak tahu pasti bagaimana dia bisa tertular HIV. Segala kemungkinan ada, bisa dari hal buruk maupun hal baik. Hanya diakuinya, dulunya dia pecandu narkoba. Namun demikian, anak semata wayangnya (saat ini kelas 4 SD) yang membuatnya kembali bangkit.
“Pertama ngedrop, tapi saya ingat anak saya. Bagaimana jika dia juga positif, tapi syukur ternyata dia negatif. Semangat hidup saya muncul ke anak saya. Anak menjadi penyemangat nomor satu,” ujar Gareng yang kini aktif sebagai Satgas Covid-19 LPBI (Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim) NU Pasuruan.
Namun kebangkitannya bukan tanpa halangan. Sang istri ketika dirinya divonis positif HIV langsung minta cerai karena stigma negatif masih lekat di keluarganya. Meski begitu Gareng tak patah arang. Dia tak ingin ODHA lain merasakan apa yang dia rasa.
Sehingga dirinya begitu semangat untuk melakoni perjalanan keliling Indonesia guna memberikan edukasi kepada masyarakat dan membangkitkan semangat para ODHA.
Dia mengaku capek harus berjalan di 110 kabupaten/kota di 30 provinsi “Tapi jangan salah, yang jalan kaki itu bukanlah Gareng yang capek tapi jalan kaki itu adalah semangat pemuda Indonesia yang tak pernah capek sampai kapanpun,” ucapnya.
Suka duka pun dilaluinya selama dalam perjalanan. Seperti pernah kemalingan hingga nyasar di hutan berhari-hari. “Saya sering kemalingan di jalan bahkan pernah 3 hari kesasar di hutan. Waktu itu kejadian ada di Sulawesi. Soal tidur, selama berada di Jawa tidur di rumah teman atau rumah singgah ODHA, saat di luar Jawa tidur di hutan karena tak ada pilihan,” bebernya.
Diceritakan, saat itu dia tengah menderita TB paru dan dirawat. Perlakuan diskriminatif mulai diterimanya dari petugas kesehatan, bahkan orang terdekat. Padahal, petugas kesehatan sudah tahu dari mana saja virus HIV menular. Demikian pula keluarganya yang sudah dapat penjelasan. Namun sayangnya, hidup punya cerita sendiri.
Gareng tak tahu pasti bagaimana dia bisa tertular HIV. Segala kemungkinan ada, bisa dari hal buruk maupun hal baik. Hanya diakuinya, dulunya dia pecandu narkoba. Namun demikian, anak semata wayangnya (saat ini kelas 4 SD) yang membuatnya kembali bangkit.
“Pertama ngedrop, tapi saya ingat anak saya. Bagaimana jika dia juga positif, tapi syukur ternyata dia negatif. Semangat hidup saya muncul ke anak saya. Anak menjadi penyemangat nomor satu,” ujar Gareng yang kini aktif sebagai Satgas Covid-19 LPBI (Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim) NU Pasuruan.
Namun kebangkitannya bukan tanpa halangan. Sang istri ketika dirinya divonis positif HIV langsung minta cerai karena stigma negatif masih lekat di keluarganya. Meski begitu Gareng tak patah arang. Dia tak ingin ODHA lain merasakan apa yang dia rasa.
Sehingga dirinya begitu semangat untuk melakoni perjalanan keliling Indonesia guna memberikan edukasi kepada masyarakat dan membangkitkan semangat para ODHA.
Dia mengaku capek harus berjalan di 110 kabupaten/kota di 30 provinsi “Tapi jangan salah, yang jalan kaki itu bukanlah Gareng yang capek tapi jalan kaki itu adalah semangat pemuda Indonesia yang tak pernah capek sampai kapanpun,” ucapnya.
Suka duka pun dilaluinya selama dalam perjalanan. Seperti pernah kemalingan hingga nyasar di hutan berhari-hari. “Saya sering kemalingan di jalan bahkan pernah 3 hari kesasar di hutan. Waktu itu kejadian ada di Sulawesi. Soal tidur, selama berada di Jawa tidur di rumah teman atau rumah singgah ODHA, saat di luar Jawa tidur di hutan karena tak ada pilihan,” bebernya.
Lihat Juga :