Haji Sabri Dukung Pramono-Rano: Pembangunan Harus Dimulai dari Jakarta Utara
Selasa, 08 Oktober 2024 - 12:56 WIB
Sabri berpendapat, Jakarta Utara adalah miniatur Indonesia. Kata dia, beragam suku dan etnis dari seluruh Indonesia tinggal di Jakarta Utara. “Mereka harus merasa diberikan tempat hidup layaknya rumah. Itu sebabnya kami punya slogan Jakarta Utara Rumah Kita," imbuhnya.
Mantan anggota DPR periode 2004-2009 itu menjelaskan bahwa desakannya agar Pramono memperhatikan Jakarta Utara jika terpilih pada Pilkada 2024 bukan karena dirinya warga sana. “Tapi, ini soal strategi membangun kota,” ucapnya.
Lebih lanjut Sabri mengatakan, Jakarta masa depan menghadapi era baru dalam pembangunannya. Sebab, kata dia, jika pemindahan ibu kota ke IKN benar-benar diwujudkan di era Presiden Prabowo Subianto nanti, maka Jakarta harus dikelola dengan pendekatan baru, yakni Jakarta sebagai kota perdagangan.
Sabri berharap, agar pemimpin Jakarta nanti mampu memahami jati diri Jakarta. Dia melanjutkan, Jakarta tumbuh menjadi seperti sekarang, berawal dari Pelabuhan Sunda Kelapa yang sudah berjaya sebagai titik penting perdagangan internasional sejak abad 5 masehi.
Sunda Kelapa sempat berganti nama menjadi Jayakarta, ketika Syarif Hidayatullah atau Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari sana, pada 22 Juni 1527. Kemudian Gubernur Jakarta Ali Sadikin mengembalikan nama pelabuhan itu menjadi Sunda Kelapa pada 6 Maret 1974. “Dari Sunda Kelapa itulah wilayah Jakarta berkembang ke arah selatan sehingga menjadi seperti sekarang,” kata Sabri.
Menurut Sabri, fakta historis itu harus dipahami oleh pemimpin Jakarta. Sabri mengatakan, selama ini pembangunan Jakarta dilakukan dengan orientasi land-based development. Kini harus dipadukan dengan orientasi ocean-based development. “Suka atau tidak, begitulah sejarah Jakarta. Kita harus menjadikan sejarah itu sebagai pelajaran untuk masa depan,” pungkasnya.
Mantan anggota DPR periode 2004-2009 itu menjelaskan bahwa desakannya agar Pramono memperhatikan Jakarta Utara jika terpilih pada Pilkada 2024 bukan karena dirinya warga sana. “Tapi, ini soal strategi membangun kota,” ucapnya.
Lebih lanjut Sabri mengatakan, Jakarta masa depan menghadapi era baru dalam pembangunannya. Sebab, kata dia, jika pemindahan ibu kota ke IKN benar-benar diwujudkan di era Presiden Prabowo Subianto nanti, maka Jakarta harus dikelola dengan pendekatan baru, yakni Jakarta sebagai kota perdagangan.
Sabri berharap, agar pemimpin Jakarta nanti mampu memahami jati diri Jakarta. Dia melanjutkan, Jakarta tumbuh menjadi seperti sekarang, berawal dari Pelabuhan Sunda Kelapa yang sudah berjaya sebagai titik penting perdagangan internasional sejak abad 5 masehi.
Sunda Kelapa sempat berganti nama menjadi Jayakarta, ketika Syarif Hidayatullah atau Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari sana, pada 22 Juni 1527. Kemudian Gubernur Jakarta Ali Sadikin mengembalikan nama pelabuhan itu menjadi Sunda Kelapa pada 6 Maret 1974. “Dari Sunda Kelapa itulah wilayah Jakarta berkembang ke arah selatan sehingga menjadi seperti sekarang,” kata Sabri.
Menurut Sabri, fakta historis itu harus dipahami oleh pemimpin Jakarta. Sabri mengatakan, selama ini pembangunan Jakarta dilakukan dengan orientasi land-based development. Kini harus dipadukan dengan orientasi ocean-based development. “Suka atau tidak, begitulah sejarah Jakarta. Kita harus menjadikan sejarah itu sebagai pelajaran untuk masa depan,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :