Seminar Ketahanan Sosial Budaya, TNI AU Belajar Dinamisasi Budaya di DIY
Minggu, 29 September 2024 - 19:31 WIB
Mensikapi perkembangan lingkungan global yang demikian dinamis, tni angkatan udara sebagai salah satu komponen utama pertahanan negara, dituntut harus bisa bertransformasi , profesional dan senantiasa mampu menyesuaikan diri dengan kondisi dinamis tersebut.
Hal itu sejalan tekad TNI AU menjadi ampuh , (adaptif, modern, profesional, unggul dan humanis) dalam menjaga kedaulatan, keamanan kawasan NKRI. Menurutnya, DIY satu wilayah NKRI yang masih menjungjung tinggi nila-nilai sosial budaya nusantara dan kearifan lokal.
Baca juga: 4 Perwira Tinggi TNI AU yang Pensiun di September 2024
Pemerintah Provinsi DIV dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang diatur UU Nomor 13 Th 2012, dinilai menjadi pihak yang sangat relevan untuk membantu mewujudkan tercapainya ruang, alat dan kondisi juang yang tangguh berbasis budaya luhur.
“Dari Jogja kita bisa belajar melalui konsep "Mamayu Hayuning Bawono". Konsep yang mencerminkan upaya untuk menjaga dan memperbaiki kesejahtermn dunia, baik secara fisik maupun spiritual, melalui nilal-nilai sosial budaya yang luhur,” kata dia.
Sementara itu, Sri Sultan HB X menuturkan dalam menerapkan pola pembangunan di DIY dasarnya adalah kekuatan lokal yang sudah diletakkan di tahun 1755, Hamemayu Hayuning Bawono. Dan hingga kini konsep tersebut masih terus berlangsung.
“Dari dasar itu bagaimana kita bisa menyesuaikan tantangan jaman,” tutur Sultan.
Hal itu sejalan tekad TNI AU menjadi ampuh , (adaptif, modern, profesional, unggul dan humanis) dalam menjaga kedaulatan, keamanan kawasan NKRI. Menurutnya, DIY satu wilayah NKRI yang masih menjungjung tinggi nila-nilai sosial budaya nusantara dan kearifan lokal.
Baca juga: 4 Perwira Tinggi TNI AU yang Pensiun di September 2024
Pemerintah Provinsi DIV dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang diatur UU Nomor 13 Th 2012, dinilai menjadi pihak yang sangat relevan untuk membantu mewujudkan tercapainya ruang, alat dan kondisi juang yang tangguh berbasis budaya luhur.
“Dari Jogja kita bisa belajar melalui konsep "Mamayu Hayuning Bawono". Konsep yang mencerminkan upaya untuk menjaga dan memperbaiki kesejahtermn dunia, baik secara fisik maupun spiritual, melalui nilal-nilai sosial budaya yang luhur,” kata dia.
Sementara itu, Sri Sultan HB X menuturkan dalam menerapkan pola pembangunan di DIY dasarnya adalah kekuatan lokal yang sudah diletakkan di tahun 1755, Hamemayu Hayuning Bawono. Dan hingga kini konsep tersebut masih terus berlangsung.
“Dari dasar itu bagaimana kita bisa menyesuaikan tantangan jaman,” tutur Sultan.
Lihat Juga :