Tukang Mi dan Bakso Sepakat Permudah Pembayaran lewat Qris
Kamis, 22 Agustus 2024 - 18:41 WIB
Menurut data Apmiso, saat ini ada sekitar 12 juta pedagang bakso dan mie ayam yang tersebar di Indonesia. Bahkan menurut data terkini, dari 64 juta jumlah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Tanah Air, 20 persen di antaranya adalah pedagang bakso dan mie ayam.
"Jadi Bank jangan tunggu pedagang datang. Mereka mikir kalau ke Bank buat urus Qris bisa habis waktu satu jam dan cuan hilang. Kalau Qris tersebar di 12 juta pedagang bakso dan mi ayam ini bisa jadi lahan promosi. Transaksi aman karena pedagang tak perlu bawa uang cash yang lebih berisiko uang hilang dan menjadi korban kriminal," kata Guntur.
Guntur mengatakan, dengan digitalisasi pembayaran, pebisnis UMKM khususnya bakso dan mie ayam membuat pembayaran lebih mudah karena cashless dan supply chain, lebih murah dan gampang. Ia juga menyakini Potensi putaran uang pedagang mie ayam dan bakso sangat besar.
"Contohnya, dari 2 juta pedagang bakso/mie ayam sehari bisa laku 50 mangkok. Satu mangkok harga 10 ribu. Artinya satu pedagang 500 ribu per hari, kalau dikali 2 juta pedagang saja sudah Rp1 triliun per hari. Sangat besar dan bisa menghidupkan ekonomi RI kalau dikelola dengan baik," demikian Guntur.
Indra, praktisi dan juga direktur utama PT Trans Digital Cemerlang (TDC), perusahaan yang bergerak di bidang teknologi keuangan digital mendukung penuh peningkatan literasi digital kepada UMKM termasuk pedagang mie dan bakso.
“Digitalisasi transaksi keuangan itu suatu keniscayaan yang wajib dimiliki UMKM termasuk pendagang mie ayam dan bakso saat ini, dan bentuk dukungan pertumbuhan ekonomi nasional. Tentu sebagai perusahaan fasilitator transaksi keuangan digital dan konsultan keuangan, saya mendukung hal itu,” ujar Indra.
Indra mengatakan perusahaannya juga terus melakukan inovasi salah satunya dalam produk Posku Lite untuk pembayaran melalui QRIS pada komunitas UMKM dengan memberikan insentif pendampingan literasi keuangan, seminar dan workshop digital marketing, dan insentif lainnya selama menjadi mitra.
"Jadi Bank jangan tunggu pedagang datang. Mereka mikir kalau ke Bank buat urus Qris bisa habis waktu satu jam dan cuan hilang. Kalau Qris tersebar di 12 juta pedagang bakso dan mi ayam ini bisa jadi lahan promosi. Transaksi aman karena pedagang tak perlu bawa uang cash yang lebih berisiko uang hilang dan menjadi korban kriminal," kata Guntur.
Guntur mengatakan, dengan digitalisasi pembayaran, pebisnis UMKM khususnya bakso dan mie ayam membuat pembayaran lebih mudah karena cashless dan supply chain, lebih murah dan gampang. Ia juga menyakini Potensi putaran uang pedagang mie ayam dan bakso sangat besar.
"Contohnya, dari 2 juta pedagang bakso/mie ayam sehari bisa laku 50 mangkok. Satu mangkok harga 10 ribu. Artinya satu pedagang 500 ribu per hari, kalau dikali 2 juta pedagang saja sudah Rp1 triliun per hari. Sangat besar dan bisa menghidupkan ekonomi RI kalau dikelola dengan baik," demikian Guntur.
Indra, praktisi dan juga direktur utama PT Trans Digital Cemerlang (TDC), perusahaan yang bergerak di bidang teknologi keuangan digital mendukung penuh peningkatan literasi digital kepada UMKM termasuk pedagang mie dan bakso.
“Digitalisasi transaksi keuangan itu suatu keniscayaan yang wajib dimiliki UMKM termasuk pendagang mie ayam dan bakso saat ini, dan bentuk dukungan pertumbuhan ekonomi nasional. Tentu sebagai perusahaan fasilitator transaksi keuangan digital dan konsultan keuangan, saya mendukung hal itu,” ujar Indra.
Indra mengatakan perusahaannya juga terus melakukan inovasi salah satunya dalam produk Posku Lite untuk pembayaran melalui QRIS pada komunitas UMKM dengan memberikan insentif pendampingan literasi keuangan, seminar dan workshop digital marketing, dan insentif lainnya selama menjadi mitra.
Lihat Juga :