Didatangi Sudirman Said, Rekan Indonesia: Tokoh Berkapasitas Pimpin Jakarta

Senin, 01 Juli 2024 - 18:02 WIB
"Karena preventif dan promotif kesehatan merupakan investasi pembangunan sumber daya manusia di Jakarta. Warga yang sehat meningkatkan kualitas SDM kotanya," ujar Agung, Senin (1/7/2024).

Selama ini Jakarta hanya berfokus pada pelayanan kuratif dan rehabilitatif saja dengan anggaran cukup besar dan tidak cukup menanggung pembiayaan pengobatan serta pemulihan. Sementara preventif dan promotif tidak serius dibangun.

"Padahal mencegah dan mengedukasi warga agar paham bagaimana membangun lingkungan yang sehat dimulai dari tempat tinggalnya itu sangat penting untuk mencegah penyakit dari hilir," katanya.

Pemprov Jakarta juga belum bisa mengurangi stunting, padahal dengan APBD sebesar Rp81 triliun lebih seharusnya Jakarta mampu mengentaskan stunting.

Agung mengatakan, pada 2022 prevalensi balita stunting di Jakarta masih cukup tinggi yakni 14,8%. Sementara dari September sampai Oktober 2023 di Jaksel angka anak bermasalah dengan gizi cukup besar yaitu 1.225 anak bermasalah gizi.

Pemprov Jakarta ke depan harus memiliki mitigasi dan skema pengentasan stunting yang jelas, misalnya untuk pencegahannya harus dimulai sejak pranikah. Calon ibu mendapatkan edukasi bagaimana menjaga keseimbangan makan dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi serta penataan lingkungan tempat tinggal warga agar sesuai standar hidup sehat, apalagi di Jakarta masih banyak perkampungan kumuh.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!