Sejarah dan Asal-usul Nama Bekasi, Tertulis di Prasasti Tugu
Rabu, 01 November 2023 - 12:12 WIB
Dayeuh Sundasembawa adalah daerah asal Maharaja Tarusbawa, pendiri Kerajaan Sunda yang menurunkan raja-raja Sunda hingga generasi ke-40 yaitu Ratu Ragumulya, raja Sunda Kelapa terakhir.
Setelah runtuhnya Kerajaan Sunda Kelapa akibat serangan Portugis pada tahun 1527, Bekasi menjadi bagian dari Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. Pada masa ini, Bekasi menjadi daerah strategis sebagai penghubung antara pelabuhan Sunda Kelapa dengan wilayah pedalaman Jawa.
Pada masa penjajahan Belanda, Bekasi masih merupakan kewedanan (distrik) yang termasuk dalam regenschap (kabupaten) Meester Cornelis. Kehidupan masyarakatnya masih dikuasai oleh para tuan tanah keturunan Cina yang memonopoli perdagangan dan pertanian.
Kondisi ini terus berlanjut sampai pendudukan militer Jepang pada tahun 1942. Namun, pendudukan militer Jepang turut mengubah kondisi masyarakat saat itu.
Jepang melaksanakan japanisasi di semua sektor kehidupan. Nama Batavia diganti dengan nama Jakarta. Regenschap Meester Cornelis menjadi KEN Jatinegara yang wilayahnya meliputi Gun Cikarang, Gun Kebayoran, dan Gun Matraman.
Setelah proklamasi kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945, struktur pemerintahan kembali berubah, nama ken menjadi kabupaten, gun menjadi kewedanan, son menjadi kecamatan, dan kun menjadi desa/kelurahan. Saat itu, ibu kota kabupaten Jatinegara selalu berubah-ubah, mulai dari Tambun, Cikarang, hingga Bojong (Kedung Gede).
Baca Juga Asal Usul Jagakarsa di Jakarta Selatan, Terinspirasi dari Nama Pangeran
Pada tahun 1948, Belanda kembali mencoba menguasai Indonesia dengan membentuk negara boneka bernama Republik Indonesia Serikat (RIS). Bekasi masuk ke dalam wilayah negara Pasundan yang berbatasan dengan negara federal di sebelah barat Bulak Kapal.
Setelah runtuhnya Kerajaan Sunda Kelapa akibat serangan Portugis pada tahun 1527, Bekasi menjadi bagian dari Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. Pada masa ini, Bekasi menjadi daerah strategis sebagai penghubung antara pelabuhan Sunda Kelapa dengan wilayah pedalaman Jawa.
Pada masa penjajahan Belanda, Bekasi masih merupakan kewedanan (distrik) yang termasuk dalam regenschap (kabupaten) Meester Cornelis. Kehidupan masyarakatnya masih dikuasai oleh para tuan tanah keturunan Cina yang memonopoli perdagangan dan pertanian.
Kondisi ini terus berlanjut sampai pendudukan militer Jepang pada tahun 1942. Namun, pendudukan militer Jepang turut mengubah kondisi masyarakat saat itu.
Jepang melaksanakan japanisasi di semua sektor kehidupan. Nama Batavia diganti dengan nama Jakarta. Regenschap Meester Cornelis menjadi KEN Jatinegara yang wilayahnya meliputi Gun Cikarang, Gun Kebayoran, dan Gun Matraman.
Setelah proklamasi kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945, struktur pemerintahan kembali berubah, nama ken menjadi kabupaten, gun menjadi kewedanan, son menjadi kecamatan, dan kun menjadi desa/kelurahan. Saat itu, ibu kota kabupaten Jatinegara selalu berubah-ubah, mulai dari Tambun, Cikarang, hingga Bojong (Kedung Gede).
Baca Juga Asal Usul Jagakarsa di Jakarta Selatan, Terinspirasi dari Nama Pangeran
Pada tahun 1948, Belanda kembali mencoba menguasai Indonesia dengan membentuk negara boneka bernama Republik Indonesia Serikat (RIS). Bekasi masuk ke dalam wilayah negara Pasundan yang berbatasan dengan negara federal di sebelah barat Bulak Kapal.
Lihat Juga :